Rupiah: Simbol Kedaulatan dan Identitas Bangsa

Rambat S Handoyo
banner 120x600

Oleh: Rambat Sri Handoyo*
Wartawan Papuaterkini.com

 

Pendahuluan: Rupiah Bukan Sekadar Uang

Rupiah bukan sekadar alat tukar, melainkan lambang kedaulatan, jati diri, dan kebanggaan bangsa Indonesia. Dalam setiap lembar Rupiah, tercermin kisah panjang perjuangan dari masa revolusi hingga ketahanan ekonomi modern.

Menggenggam Rupiah berarti menggenggam semangat “berdiri di atas kaki sendiri” — pesan abadi dari para pendiri bangsa yang relevan hingga hari ini.

Sejarah Rupiah: Dari Perlawanan Menuju Kemandirian

Rupiah resmi digunakan pada 2 November 1949, menggantikan mata uang kolonial De Javasche Bank. Langkah itu bukan sekadar keputusan ekonomi, tetapi deklarasi politik kemerdekaan ekonomi Indonesia.

Setiap lembar Rupiah kala itu menjadi bentuk perlawanan terhadap dominasi asing dan lambang bahwa Indonesia siap mengelola nasib ekonominya sendiri. Kini, meski wujudnya berubah menjadi digital dan modern, nilai perjuangan itu tetap sama: Rupiah adalah simbol kemandirian bangsa.

Stabilitas Rupiah: Tugas Kolektif Bangsa

Nilai Rupiah yang stabil mencerminkan kepercayaan rakyat terhadap negaranya. Menjaga stabilitas itu bukan semata tugas Bank Indonesia, tetapi tanggung jawab nasional.

Bank Indonesia (BI) menjalankan perannya melalui kebijakan moneter yang kredibel — mengatur suku bunga, mengendalikan inflasi, serta memperkuat cadangan devisa untuk menghadapi tekanan eksternal. Seperti ditegaskan Gubernur BI Perry Warjiyo, “Rupiah bukan sekadar uang, melainkan simbol harga diri bangsa.”

Gejolak Global dan Ketahanan Rupiah

Dunia tengah bergejolak: perang dagang, konflik geopolitik, dan fluktuasi harga komoditas menekan banyak negara. Namun, Indonesia masih mampu menjaga stabilitas ekonomi relatif baik.

Hal ini berkat sinergi kuat antara kebijakan moneter BI dan kebijakan fiskal pemerintah. Digitalisasi sistem pembayaran dan penguatan transaksi domestik membuat Rupiah tetap menjadi jangkar kepercayaan ekonomi nasional.

Rupiah di Papua: Simbol Kehadiran Negara di Ujung Timur

Di Papua, Rupiah memiliki makna yang lebih dalam. Ia bukan sekadar alat pembayaran, melainkan simbol kehadiran negara di wilayah terdepan dan perbatasan. Dari pasar Skouw di Jayapura hingga distrik di pedalaman Pegunungan Bintang, setiap transaksi dengan Rupiah menegaskan bahwa ekonomi Papua adalah bagian dari ekonomi Indonesia.

Melalui program Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah (CBP Rupiah), BI Papua terus mengedukasi masyarakat agar mencintai, menggunakan, dan menghormati Rupiah sebagai bentuk nyata cinta tanah air.

Rupiah, Marthen Indey, dan Cinta NKRI dari Tanah Papua

Di ujung timur Nusantara, di mana batas negara hanya dipisahkan pagar kawat dan garis patok di Skouw, Rupiah tidak hanya menjadi alat tukar, tetapi simbol kehadiran negara dan kedaulatan bangsa.

Setiap transaksi di pasar perbatasan antara RI–Papua Nugini (PNG) adalah pernyataan diam: Papua adalah bagian utuh dari Republik Indonesia.

Kini, pesan kebangsaan itu semakin kuat ketika wajah Pahlawan Nasional asal Papua, Marthen Indey, terpampang gagah di uang kertas pecahan Rp10.000. Sebuah simbol yang menegaskan bahwa Papua bukan hanya bagian dari Indonesia — tetapi salah satu penopang semangat persatuannya.

Transaksi Rupiah di Perbatasan RI–PNG: Kedaulatan di Garis Batas

Di perbatasan Skouw (Kota Jayapura), Sota (Merauke), dan Waropko (Boven Digoel), aktivitas ekonomi lintas batas tumbuh pesat. Warga Papua Nugini (PNG) kerap berbelanja kebutuhan pokok di pasar Indonesia. Seluruh transaksi di kawasan itu wajib menggunakan Rupiah, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.

Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan aparat perbatasan terus melakukan edukasi kepada pedagang agar tidak menggunakan mata uang asing seperti kina PNG. Gerakan “Cinta Rupiah di Perbatasan” pun menjadi simbol nyata kehadiran negara dalam menjaga kedaulatan ekonomi.

Setiap warga PNG yang menukar kina menjadi Rupiah untuk berbelanja di Skouw sesungguhnya sedang mengakui kekuatan dan legitimasi ekonomi Indonesia.

Perlu Didorong: Kehadiran Money Changer di Pasar Perbatasan

Meski transaksi di pasar perbatasan kini telah sepenuhnya menggunakan Rupiah, masih banyak warga PNG yang mengalami kesulitan dalam menukarkan kina mereka ke Rupiah secara resmi. Karena itu, kehadiran layanan penukaran uang resmi (money changer) di kawasan perbatasan menjadi kebutuhan mendesak.

Kehadiran money changer yang diawasi oleh otoritas keuangan akan:
• Mempermudah warga PNG menukarkan kina ke Rupiah dengan kurs yang adil dan legal.
• Menekan praktik penukaran ilegal yang berisiko merugikan masyarakat.
• Meningkatkan sirkulasi Rupiah di kawasan perbatasan, memperkuat dominasi ekonomi nasional.

Langkah ini sekaligus akan memperkuat ekosistem ekonomi berbasis Rupiah di wilayah perbatasan, menjadikan pasar Skouw dan Sota bukan hanya pusat perdagangan, tetapi juga pusat diplomasi ekonomi Indonesia di kawasan Pasifik.

Ekspedisi Rupiah Berdaulat: Sinergi Bank Indonesia dan TNI AL

Tak hanya di darat, Bank Indonesia juga meneguhkan kedaulatan Rupiah di laut. Melalui kolaborasi dengan TNI Angkatan Laut, BI melaksanakan “Ekspedisi Rupiah Berdaulat” ke wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) di Papua dan wilayah timur Indonesia.

Kapal perang TNI AL membawa uang layak edar dan menukar uang lusuh dengan Rupiah baru di pulau-pulau seperti Mapia, Yapen, Biak, dan Numfor.

Program ini adalah bukti bahwa negara tidak membiarkan satu pun wilayahnya lepas dari jangkauan Rupiah. Rupiah berdaulat di darat, laut, dan perbatasan.

Rupiah Digital: Masa Depan Kedaulatan Moneter

BI kini menyiapkan Rupiah Digital (Central Bank Digital Currency/CBDC) sebagai inovasi masa depan. Langkah ini bukan sekadar adaptasi teknologi, tetapi strategi mempertahankan kedaulatan moneter di tengah arus mata uang virtual global.

Untuk Papua, kebijakan ini membuka peluang besar bagi masyarakat di wilayah terpencil untuk menikmati layanan keuangan digital yang aman, efisien, dan berdaulat.

Menjaga Martabat Rupiah: Tanggung Jawab Bersama

Rupiah hanya akan kuat jika rakyatnya percaya. Setiap transaksi menggunakan Rupiah adalah pernyataan cinta terhadap bangsa sendiri. Menjaga Rupiah berarti:
• Tidak merusak atau menulis di uang kertas.
• Tidak menimbun mata uang asing.
• Mengutamakan transaksi digital berbasis Rupiah.

Kedaulatan ekonomi bangsa hanya akan bertahan jika seluruh rakyat percaya dan bangga pada mata uangnya sendiri.

Penutup: Selama Rupiah Beredar, Indonesia Berdiri

Setiap lembar Rupiah adalah potret bangsa — wajah pahlawan, budaya, dan alam Nusantara. Selama Rupiah beredar dan digunakan dengan bangga, selama itu pula Indonesia berdiri tegak sebagai bangsa yang berdaulat dan bermartabat.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *