NABIRE, Papuaterkini.com – Pegiat literasi dari Komunitas Tuuwone Puncak Jaya, Otty Telenggen, menegaskan bahwa literasi merupakan fondasi utama pembangunan sumber daya manusia di wilayah Pegunungan Papua. Pesan itu disampaikannya dalam rangkaian Temu Akbar Pegiat Literasi Papua Tengah yang digelar pada 27–28 November 2025 di Nabire.
Menurut Otty, pembahasan mengenai pendidikan mustahil dilepaskan dari literasi sebagai inti utamanya. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi mencakup pemahaman informasi, kemampuan berpikir kritis, mengambil keputusan, serta membangun karakter generasi muda.
“Kita bicara pendidikan, tapi isinya adalah literasi. Harapan saya, literasi harus disosialisasikan kepada semua elemen—masyarakat, mahasiswa, akademisi, gereja, dan sekolah. Supaya bagi orang Puncak Jaya, literasi tidak lagi terdengar asing,” tegas Otty.
Mahasiswa dan Intelektual Puncak Jaya Harus Menjadi Pejuang Literasi
Otty menekankan bahwa mahasiswa dan kaum intelektual asal Puncak Jaya memiliki tanggung jawab moral yang besar dalam menghidupkan budaya literasi. Mereka, menurutnya, adalah garda terdepan dalam membangun kesadaran membaca dan berpikir di berbagai bidang kehidupan.
“Setiap mahasiswa dan intelektual punya moral ‘perang literasi’. Perang untuk menghidupkan kesadaran, bukan kekerasan. Perang di keluarga, perang di sekolah, perang di gereja, perang dalam diri sendiri untuk memajukan Puncak Jaya melalui pengetahuan,” ujar Otty.
Literasi sebagai Kunci Pemberantasan Buta Aksara di Puncak Jaya
Dalam paparannya, Otty juga menyoroti persoalan bitauruf dan buta aksara yang masih dialami sebagian masyarakat di Kabupaten Puncak Jaya. Menurutnya, kemampuan membaca merupakan pintu utama menuju perubahan sosial dan ekonomi.
“Bitauruf dan buta aksara harus ditangani serius. Literasi adalah kunci pemberantasannya. Jika masyarakat dan anak-anak bisa membaca, mereka bisa membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik,” tambahnya.
Mendorong Generasi Baru Puncak Jaya yang Kritis dan Produktif
Melalui Gerakan Literasi Tuuwone dan kolaborasi dengan berbagai komunitas literasi Papua Tengah, Otty berharap muncul generasi baru Puncak Jaya yang tidak hanya mampu membaca, tetapi juga bisa menulis, memproduksi gagasan, memimpin, dan membangun daerahnya secara mandiri.
Ia menegaskan bahwa gerakan literasi bukan proyek sementara, tetapi investasi jangka panjang yang harus terus diperjuangkan.
“Gerakan literasi adalah investasi jangka panjang untuk memutus keterbelakangan, meningkatkan kualitas pendidikan, serta membuka peluang baru bagi anak-anak dan pemuda Puncak Jaya,” tutupnya.(bat)















