DAS Mee: Rentetan Kekerasan di Timika Murni Kriminal, Bukan Konflik Antar Suku

Sekretaris Umum DAS Mee sekaligus Ketua Majelis Agama Suku Mee , Pdt. Desesrius Adii, M.Th
banner 120x600

TIMIKA, Papuaterkini.com — Badan Pengurus Pusat (BPP) Dewan Adat Suku Mee (DAS Mee) Kabupaten Mimika menyampaikan pernyataan sikap resmi terkait meningkatnya kasus pembunuhan, pembegalan, dan pembacokan yang terjadi di Timika dalam beberapa waktu terakhir.

Melalui Sekretaris Umum DAS Mee sekaligus Ketua Majelis Agama Suku Mee , Pdt. Desesrius Adii, M.Th, Dewan Adat menegaskan bahwa rangkaian aksi kekerasan tersebut adalah murni tindakan kriminal, bukan perang antarsuku atau konflik komunal.

Pernyataan tersebut disampaikan di Timika, Senin (8/12/2025), menyikapi situasi keamanan yang dinilai semakin meresahkan masyarakat.

Kekerasan Bukan Konflik Suku

Dalam pernyataan sikap bernomor 02/DASMee/XII/2025 itu, DASMee menekankan bahwa pelaku kekerasan adalah oknum pribadi yang tidak bertanggung jawab, sehingga tidak boleh dikaitkan dengan identitas suku tertentu.

“Ini murni kriminal, bukan perang suku. Kami menolak narasi sesat atau isu provokatif yang mencoba mengalihkan fokus dan mengatasnamakan suku,” tegas Pdt. Adii.

DAS Mee mengecam keras penyebaran hoaks melalui media sosial maupun media cetak yang berpotensi memecah belah harmoni antar-suku di Timika.

Dukung Penegakan Hukum

Dewan Adat Suku Mee menyatakan dukungan penuh kepada aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas seluruh kasus kekerasan, termasuk pembunuhan terhadap Pendeta Neles Peuki di Kapiraya.

“Kasus Kapiraya juga kriminal murni. Pelakunya harus segera ditangkap dan diproses sesuai hukum,” ujar Adii.

Selain itu, DAS Mee meminta Pemerintah dan DPR Kabupaten Mimika segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan perang saudara yang berkepanjangan di Kwamki Narama, yang telah menelan korban, termasuk Pdt. Melkianus Wamang dan empat warga lainnya.

Seruan Khusus kepada Warga Mee

Dalam pernyataan tersebut, DASMee mengajak seluruh masyarakat Mee, baik di kampung, di Kota Timika, maupun di seluruh Tanah Papua untuk tetap menjaga persaudaraan dan tidak mudah terprovokasi.

Beberapa poin seruan penting kepada warga Mee antara lain, Menjaga persaudaraan dan tidak terpancing isu atau fitnah, Mengangkat harga diri orang Mee melalui kebijaksanaan, bukan kekerasan, Menolak balas dendam serta tindakan yang merugikan masyarakat umum, Mengutamakan dialog dan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan.

Selain itu, Menjalin hubungan harmonis dengan seluruh suku di Papua, Mendukung penegakan hukum atas setiap tindak kriminal dan Membangun budaya damai mulai dari keluarga dan generasi muda.

“Tanah Papua adalah rumah besar kita bersama. Kekerasan bukan jalan orang Mee yang bermartabat,” tegas Adii.

Harapan untuk Timika yang Aman

Melalui pernyataan ini, DAS Mee menegaskan komitmen menjaga keamanan, kerukunan, dan stabilitas sosial di Timika. “Timika yang aman adalah tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya. (bat) 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *