JAYAPURA, Papuaterkini.com – Komunitas Kintal Rum Fararur resmi mengumumkan pemenang Lomba Menulis tingkat SMA/SMK se-Tanah Tabi bertajuk Corong Literasi Budaya. Pengumuman pemenang berlangsung di Cafe Kintal X BM, Kotaraja, Kota Jayapura, Kamis (18/12/2025).
Dalam lomba tersebut, Benedicta Kumaniwareng berhasil meraih Juara I dengan nilai 131,5 poin. Juara II diraih Zaskia Clara dengan 110,5 poin, sementara Juara III ditempati Vina Kabak dengan nilai 104 poin.
Ketua Komunitas Kintal Rum Fararur, Onesias Chalvox Urbinas, mengatakan kegiatan ini digelar sebagai upaya mendorong kesadaran literasi sekaligus pelestarian budaya di tengah derasnya arus transformasi digital. Menurutnya, lomba ini mendapat respons positif, terutama dari kalangan pelajar.
“Kegiatan ini lahir dari diskusi-diskusi sederhana di ruang tongkrongan yang kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan budaya. Kami tidak ingin kegiatan ini berhenti sebagai seremoni semata,” ujar Onesias Urbinas yang akrab disapa Epo.
Epo menegaskan, lomba menulis budaya harus menjadi pemicu lahirnya gerakan literasi budaya yang lebih luas dan berkelanjutan. Ia juga menyoroti tantangan komunitas budaya yang kerap menghadapi keterbatasan dukungan operasional dibandingkan lembaga dengan kapasitas anggaran besar.
“Kami berharap ada keterlibatan pemerintah daerah dan dinas terkait melalui cara-cara kreatif dan kolaboratif bersama praktisi serta komunitas budaya,” katanya.
Lebih lanjut, Epo menyoroti minimnya perhatian serius terhadap pelestarian budaya, khususnya di kalangan generasi muda. Transformasi digital dinilai telah membuat penggunaan bahasa daerah semakin berkurang, bahkan di lingkungan keluarga.
“Sekarang ini, dalam satu keluarga saja dua generasi sudah sulit menggunakan bahasa daerah. Sementara di media sosial, konten yang tidak mendidik justru mudah ditemui,” ungkapnya.
Menurut Epo, literasi budaya melalui tulisan menjadi penting untuk menyeimbangkan arus informasi digital yang cenderung instan dan vulgar. Melalui lomba Corong Literasi Budaya, Komunitas Kintal Rum Fararur membuka ruang eksplorasi budaya yang lebih mendalam dan bernarasi.
Menariknya, peserta lomba didominasi oleh pelajar SMA/SMK. Hal ini menjadi temuan penting bagi penyelenggara, mengingat lomba menulis budaya selama ini umumnya menyasar kategori umum.
“Antusiasme anak-anak sekolah justru sangat tinggi. Ini menjadi harapan besar bagi masa depan literasi budaya Papua,” ujarnya.
Ke depan, Epo menyebutkan hasil tulisan peserta akan dipublikasikan dengan dukungan media, bahkan dikembangkan ke dalam bentuk visual seperti video dan cerita pendek digital.
“Kami ingin ada output yang jelas. Bukan sekadar lomba, tetapi pergerakan informasi budaya melalui media digital, ruang kelas, dan narasi literasi yang lebih spesifik,” tandasnya.
Sementara itu, Kapolresta Jayapura Kota Kombes Pol Fredrickus Maclarimboen, yang juga Pembina Yayasan Colo Sagu, menekankan pentingnya peran generasi muda Papua dalam menggali dan mendokumentasikan nilai-nilai budaya lokal melalui tulisan.
Menurutnya, kekayaan budaya Papua selama ini banyak diwariskan secara lisan dan belum terdokumentasi dengan baik. Padahal, perbedaan cara masyarakat di berbagai daerah—seperti Tanah Merah dan Sentani—dalam memaknai papeda merupakan identitas budaya yang penting untuk ditulis agar tidak hilang ditelan zaman.
“Menulis budaya, meski dimulai dari hal kecil, akan berdampak besar jika dilakukan secara konsisten,” ujarnya. Ia juga mendorong keterlibatan guru, media, dan berbagai pihak untuk terus memotivasi generasi muda Papua mengasah kemampuan menulis dan berpikir kritis melalui budaya mereka sendiri. (bat)















