Puluhan Mahasiswa Turun Langung Bangun Lapangan Terbang Perintis Wompoli Kabupaten Yalimo

Puluhan mahasiswa asal Yalimo dari beberapa kota studi turun langsung membantu pembangunan lapangan terbang perintis di Wompoli, Distrik Welarek, Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan.
banner 120x600

YALIMO, Papuaterkini.com – Pembangunan Lapangan Terbang (Lapter) Perintis Wompoli di Desa Wompoli, Lingkungan Werenggik Amput, Distrik Welarek, Kabupaten Yalimo, mendapat dukungan nyata dari puluhan mahasiswa asal Kabupaten Yalimo.

Puluhan mahasiswa tersebut terlibat langsung dalam pekerjaan fisik pembangunan sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat.

Sebanyak 61 mahasiswa dari tiga kota studi, yakni Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Jayawijaya, turun langsung membantu pembangunan lapter perintis. Keterlibatan mahasiswa berlangsung selama kurang lebih satu bulan, sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat.

“Kami tidak membedakan status, baik yang masih aktif kuliah maupun yang sudah semester akhir. Semua bersama-sama turun ke lapangan untuk membantu orang tua dan masyarakat,” ungkap salah satu perwakilan mahasiswa.

Perwakilan tokoh masyarakat Manase Wirik Kepno mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Yalimo melalui Dinas Perhubungan yang telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp500 juta. Dengan anggaran tersebut, pembangunan lapter telah mencapai 250 meter.

“Untuk melanjutkan pekerjaan hingga tuntas, dibutuhkan anggaran di atas Rp5 miliar, sehingga kami dapat mengundang kampung-kampung sekitar untuk bergotong royong menyelesaikan sisa pekerjaan,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Ketua Panitia Lapangan Terbang Perintis Wompoli, Lewi Kepno. Ia mengatakan pembangunan lapter ini bertujuan memperpendek akses pelayanan masyarakat, terutama dalam kondisi darurat kesehatan.

“Dari Werenggik Amput ke lapangan terbang perintis lain seperti Poik, Sali, Salema, Welarek, dan Mabualem jaraknya sangat jauh. Akibatnya, evakuasi pasien sakit darurat sering terkendala,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Persekutuan Anggota Muda (PAM) GKI Lingkungan Werenggik Amput, Hengki Pahabol, yang mengoordinir 61 mahasiswa, menyebutkan bahwa pembangunan lapter dimulai sejak 2 Januari 2026.

“Setelah kegiatan lepas sambut tahun baru bersama masyarakat kampung, pekerjaan terus dilakukan hingga 21 Januari 2026. Saat ini tinggal sisa pekerjaan, sehingga kami berharap dukungan pendanaan dari Pemda Provinsi Papua Pegunungan maupun Pemkab Yalimo agar masyarakat dapat mengundang kampung-kampung sekitar untuk bekerja secara gotong royong,” katanya.

Apresiasi juga datang dari Anggota DPRK Yalimo Daerah Pemilihan II Distrik Welarek dan Benawa, Simon Walilo, SIKom. Ia menilai langkah 61 mahasiswa tersebut sebagai bentuk pemikiran kritis dan peran nyata mahasiswa sebagai agen perubahan.

“Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kampus atau melakukan penelitian, tetapi juga harus berkreasi melalui pengabdian langsung kepada masyarakat seperti ini,” tegasnya.
Menurutnya, gerakan tersebut patut mendapat dukungan dari pemerintah, gereja, dan masyarakat, terutama dalam membuka keterisolasian wilayah melalui pembangunan infrastruktur dasar.

Ia berharap ke depan akses penerbangan pesawat berbadan kecil dapat segera dibuka guna meningkatkan pelayanan publik di wilayah Wompoli dan sekitarnya. (bat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *