Bangkitlah, Anak Papua: Manifesto Kewajiban Orang Asli Papua

Dr Yosua Noak Douw, SSos, MSI, MA.
banner 120x600

Oleh: Yosua Noak Douw, S.Sos., M.Si., MA*
Doktor Lulusan Universitas Cenderawasih Jayapura, Papua

Dari Kesadaran Menuju Kebangkitan

Tanah Papua sedang berdiri di persimpangan sejarah: antara kehilangan dan kebangkitan. Selama puluhan tahun, kita banyak berbicara tentang hak-hak orang asli Papua (OAP) – hak atas tanah, politik, ekonomi, hingga budaya. Namun, jarang kita berbicara tentang kewajiban orang asli Papua terhadap tanah dan bangsanya sendiri.

Inilah yang melahirkan Manifesto Kewajiban Orang Asli Papua—bukan sekadar dokumen politik atau tuntutan sosial, tetapi panggilan moral dan spiritual. Sebuah ajakan agar setiap anak Papua kembali kepada akar jati dirinya: menjadi manusia yang setia menjalankan kewajiban terhadap Tuhan, sesama, dan tanah leluhur.

Sebab bangsa tidak bertahan karena hak yang dimiliki, tetapi karena kewajiban yang dijalankan dengan setia.

Iman dan Moral sebagai Fondasi Bangsa

Pasal pertama manifesto ini menegaskan: “Wajib beriman dan bertakwa kepada Allah, Sang Pencipta Bangsa West Papua”. Pernyataan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya revolusioner. Di tengah dunia yang makin sekuler, manifesto ini mengingatkan bahwa kekuatan sejati Papua tidak terletak pada emas, tambang, atau kekuasaan, melainkan pada iman yang hidup.

Papua dikenal sebagai tanah penginjilan. Namun ironinya, semakin banyak gereja berdiri, semakin banyak pula anak muda yang kehilangan arah. Miras, kekerasan, dan kebencian menjadi racun sosial yang perlahan membunuh generasi.

Manifesto ini menampar kesadaran kita: hentikan gaya hidup yang merusak!
Tidak ada pembangunan lahir dari botol kosong, tidak ada keadilan tumbuh dari darah sesama.

Kewajiban iman dan moral bukan sekadar seruan rohani, tetapi strategi penyelamatan bangsa. Revolusi ini dimulai dari hati setiap orang Papua untuk kembali hidup benar di hadapan Tuhan dan sesama.

Adat dan Identitas: Jiwa yang Tak Boleh Hilang

Bangsa tanpa budaya ibarat pohon tanpa akar. Ia akan mudah tumbang saat diterpa arus globalisasi.

Papua memiliki ratusan bahasa, ratusan suku, dan ribuan ekspresi budaya yang kaya. Namun, semuanya kini berada di ambang kepunahan. Banyak anak muda lebih fasih berbahasa asing ketimbang bahasa ibunya, malu memakai busana adat, atau malu menari tarian suku sendiri.

Manifesto ini menyerukan agar identitas budaya Papua kembali dipelihara dan dikembangkan dalam bahasa, seni, pakaian, serta ritual adat. Karena di sanalah jati diri bangsa berada.

Adat bukan fosil masa lalu, tetapi kompas moral masa kini. Nilai-nilai seperti gotong royong, penghormatan terhadap alam, dan hormat kepada orang tua adalah pilar peradaban yang jauh lebih tua dari konsep pembangunan modern.

Dalam masyarakat adat, orang tua adalah penjaga moral, dan anak muda adalah penjaga api kehidupan. Generasi tua harus mengajar, dan generasi muda harus menghormati—itulah keseimbangan yang hendak dihidupkan kembali oleh manifesto ini.

Tanah dan Alam: Tubuh dari Jiwa Papua

“Jaga tanah leluhurmu, sebab di sanalah roh dan sejarah kita berpijak.”
Kalimat ini menjadi inti spiritual manifesto.

Bagi orang Papua, tanah bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan bagian dari identitas dan jiwa.  Tanah adalah ibu. Sungai adalah darah. Hutan adalah paru-paru kehidupan.

Ketika tanah dijual, bukan hanya lahan yang hilang, tetapi juga sejarah, roh dan masa depan.

Kekayaan alam Papua, dari emas  Freeport hingga Tembaga Wabu, dari kayu Merauke hingga hutan Arfak, telah lama menbjadi incaran banyak pihak.  Namun, kekayaan itu jarang menetes  kepada rakyat di kampung-kampung yang hidup ditengah tanah subur.

Manifesto ini memberi arah baru: Lindungi sumber daya alam agar tidak dijarah dan dijual kepada kepentingan asing. Lestarikan hutan, sungai dan satwa endemik sebagai warisan Tuhan bagi dunia an yang paling penting: bangun kdaulatan  pangan sendiri.

Artinya, orang Papua tidak boleh hanya jadi penonton  dalam pembangunan ekonmi,tetapi harus menjadi pelaku utama  – menanam, memelihara  dan mengelola  hasilbumi dengan kearifan lokal.

Gerakan ini bukan sekadar soal ekonomi, melainkan strategi survival untuk masa depan bangsa Papua di  tengah krisis global.

Tanggung Jawab Sosial: Membangun dari Keluarga

Tidak ada bagsa yang kuat tanpa keluarga yang sehat. Bangsa yang kuat lahir dari keluarga yang sehat. Manifesto ini menegaskan: “Bangun rumah tangga yang takut akan Tuhan dan mendidik anak-anak dengan nilai adat dan moral”.

Keluarga Papua kini menghadapi krisis: kekerasan domestik, perceraian, dan kehilangan figur orang tua karena konflik sosial. Anak-anak tumbuh tanpa arah, kehilangan bimbingan moral.

Karena itu, kewajiban sosial yang diajarkan manifesto ini adalah cara konkret untuk memulihkan jaringan sosial Papua: saling menolong, saling menghormati, dan saling mengasihi.

Ketika satu kampung hidup dalam damai, maka seluruh tanah Papua akan damai.
Ketika satu keluarga hidup dalam kasih, maka seluruh bangsa akan diberkati. Ukuran sejati kemanusiaan bukan pada kekuasaan, tetapi pada kasih kepada sesama.

Dari Kewajiban Menuju Peradaban Baru

Jika Manifesto Hak Asasi Manusia mengubah dunia Barat, maka Manifesto Kewajiban Orang Asli Papua berpotensi mengubah dunia Timur, khususnya Tanah Papua.
Paradigma yang dibangun bukan lagi “menuntut hak”, melainkan “menjalankan kewajiban”.

Peradaban baru yang ditawarkan adalah peradaban yang:

  • Menghormati Tuhan,
  • Menjaga alam,
  • Menghargai manusia, dan
  • Memelihara adat.

Peradaban yang berakar di tanah, tetapi menjangkau dunia; yang tidak melawan modernitas, tetapi menuntunnya dengan moralitas.

Ketika  orang Papua menjalankan kewajibannya, maka  tanah ini akan memnacarkan kembali cahaya  keindahan yang lama pudar.Tidak akan ada lagi tanah yang dijual murah, hutan yang dibakar  atau sungai yang diracun.  Sebaliknya akan lahir  generasi baru Papua yang hidup dalam kasih, iman dan tanggungjawab-  generasi yang mencintai  tanahnya, bukan  karena  keuntungan, tetapi karena panggilan Illahi.

Penutup: Tanah yang Diberkati, Bangsa yang Dihormati

Pada akhirnya, manifesto ini bukan sekadar daftar kewajiban, tetapi doa kolektif seluruh orang asli Papua: agar tanah ini kembali diberkati, rakyatnya hidup damai, dan generasinya tumbuh bermartabat.

“Hidup orang Papua harus menjadi berkat bagi tanahnya sendiri, dan tanah Papua harus menjadi berkat bagi dunia.”

Kalimat penutup ini bukan retorika, melainkan janji moral—bahwa dari gunung-gunung yang tinggi dan lembah yang subur, dari air mata sejarah, akan lahir bangsa yang baru.

Bangsa yang tidak hanya menuntut hak, tetapi menunaikan kewajiban.
Bangsa yang hidup dalam harmoni dengan alam.
Bangsa yang berdiri tegak di hadapan Tuhan dan manusia—dengan kepala tegak, hati bersih, dan tangan terbuka.

Itulah makna sejati menjadi Orang Asli Papua: penjaga tanah, jiwa, dan martabat. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *