Oleh : Yosua Noak Douw*
Tanah Papua, negeri yang diberkati dengan kekayaan alam yang melimpah dan keberagaman budaya yang memesona, sedang berdiri di persimpangan zaman.
Di tengah gelombang modernisasi dan beragam tantangan, masa depan Papua Raya yang gemilang tidak hanya bergantung pada sumber daya alam atau kebijakan politik, tetapi pada fondasi yang paling hakiki: keluarga.
Keluarga Kristen yang tangguh dan beriman adalah benteng terkuat dan sekaligus lokomotif pembangunan yang paling efektif bagi bumi Cenderawasih.
Dalam narasi kekristenan, keluarga bukanlah sekedar lembaga sosial, tetapi sebuah gambaran ilahi tentang hubungan Kristus dengan jemaat-Nya (Efesus 5:32). Oleh karena itu, membangun keluarga menurut pola Tuhan adalah sebuah tindakan strategis yang berdampak kekal.
Melalui akronim SUAMI dan ISTRI, kita menemukan sebuah “Peta Ilahi” yang tidak hanya indah secara teologis, tetapi juga sangat praktis dan kontekstual bagi keluarga-keluarga Papua.
SUAMI : Pemimpin yang Melayani, Pilar Bagi Papua Baru
Seorang suami Papua dipanggil untuk menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter keluarga yang tangguh. Panggilan ini adalah panggilan kepemimpinan yang melayani, mencerminkan kepemimpinan Kristus.
Sabar (S) : Kesabaran adalah kekuatan, bukan kelemahan. Dalam budaya Papua yang dikenal keras dan tegas, kesabaran Alkitabiah menawarkan sebuah paradigma baru. Kesabaran seorang suami Papua bukan berarti pasif, tetapi aktif menahan diri, memiliki ketabahan hati dalam menghadapi tekanan ekonomi, dinamika rumah tangga, dan ketidaksempurnaan anggota keluarga.
Seperti Kristus yang sabar terhadap gereja-Nya, seorang suami yang sabar (Efesus 4:2) menciptakan ruang aman bagi pertumbuhan istri dan anak-anaknya. Ia adalah seperti batu karang di pantai yang tetap teguh meski diterpa ombak, menjadi penopang dan penenang bagi keluarganya.
Usaha (U) : Tanggung jawab untuk berusaha adalah bagian dari ibadah. Etos kerja keras seorang suami, baik sebagai petani di kebun, nelayan di laut, pegawai, atau pengusaha, adalah wujud nyata kasihnya. Prinsip dalam 1 Timotius 5:8 tegas: seseorang yang tidak menyediakan kebutuhan keluarganya dianggap lebih buruk dari orang tidak beriman. Bekerja dengan jujur, tekun, dan mengandalkan Tuhan adalah fondasi kesejahteraan keluarga.
Kemandirian ekonomi keluarga yang dibangun dengan usaha yang tulus akan berkontribusi langsung pada ketahanan ekonomi masyarakat Papua secara keseluruhan.
Akur (A) : Keharmonisan adalah atmosfer yang memungkinkan pertumbuhan. Seorang suami, sebagai kepala keluarga, memikul tanggung jawab utama untuk menciptakan dan memelihara “shalom” atau perdamaian yang utuh di dalam rumahnya.
Ini berarti ia harus menjadi peredam konflik, bukan pemicunya. Dalam konteks budaya yang mungkin memiliki tradisi menyelesaikan konflik dengan cara tertentu, suami Kristen dipanggil untuk menerapkan prinsip Roma 12:18: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.” Membangun komunikasi yang sehat, rendah hati untuk meminta maaf, dan cepat untuk mengampuni adalah kunci menciptakan rumah yang “akur”.
Manis (M) : Kuasa perkataan yang membangun. Kata-kata memiliki kuasa untuk mematikan atau menghidupkan (Amsal 18:21). Seorang suami Papua yang “manis” perkataannya adalah dia yang menggunakan mulutnya untuk memberkati, memuji, mengucap syukur, dan mendorong (Efesus 4:29). Melawan budaya kata-kata kasar dan merendahkan, perkataan yang lemah lembut justru merupakan tanda kekuatan dan kedewasaan rohani (Amsal 15:1). Seorang istri dan anak yang tumbuh dalam lingkungan perkataan yang membangun akan berkembang menjadi pribadi yang percaya diri dan penuh kasih.
Iman (I) : Fondasi segala fondasi. Semua kualitas di atas mustahil diwujudkan hanya dengan kekuatan manusiawi. Seorang suami haruslah pertama-tama adalah seorang yang beriman, yang memiliki hubungan pribadi yang hidup dengan Tuhan Yesus Kristus. Iman inilah yang menjadi sumber hikmat, kekuatan, dan kompas moral baginya. Sebagai imam bagi keluarganya, ia memimpin dengan keteladanan, seperti Yosua yang bertekad, “…tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15). Keluarga yang dipimpin oleh seorang suami yang beriman akan menjadi keluarga yang memiliki arah dan tujuan yang jelas, yakni untuk memuliakan Tuhan.
ISTRI : Mitra yang Penuh Kuasa, Jantung Keluarga Papua
Peran istri dalam Alkitab digambarkan sebagai “Penolong” (Ezer) yang sepadan (Kejadian 2:18). Kata “Ezer” ini sama dengan kata yang digunakan untuk menggambarkan pertolongan yang datang dari Tuhan, menunjukkan bahwa peran istri adalah peran yang penuh kuasa dan vital, bukan sekadar asisten.
Iman (I) : Sumber kecantikan dan kekuatan sejati. Seorang istri Papua yang beriman menemukan identitas dan nilainya di dalam Kristus, bukan pada penampilan luar atau pengakuan dunia. Ketakutan akan Tuhan adalah modal terbesarnya (Amsal 31:30). Dari hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan ini, ia menarik hikmat, ketenangan, dan kekuatan untuk menjalani perannya yang kompleks. Iman yang teguh membuatnya tidak mudah goyah oleh berbagai badai kehidupan.
Setia (S) : Fondasi kepercayaan dan kedamaian. Kesetiaan seorang istri menciptakan benteng keamanan bagi suami dan anak-anaknya. Hati suaminya percaya kepadanya (Amsal 31:11). Kesetiaan ini mencakup kesetiaan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Ia juga adalah pembawa damai (Matius 5:9) yang aktif merajut keharmonisan dalam keluarga. Dalam konteks yang lebih luas, kesetiaannya menjadi contoh bagi generasi muda tentang arti komitmen yang tak tergoyahkan.
Taat (T) : Kekuatan yang teratur. Ketaatan istri kepada suami (Efesus 5:22) adalah salah satu prinsip yang paling sering disalahpahami. Ketaatan alkitabiah bukanlah ketaatan yang bersifat membuta atau karena keterpaksaan, melainkan ketundukan sukarela dalam kasih, sebagai bentuk ketaatannya kepada Kristus. Ini adalah bentuk kemitraan yang teratur. Seorang istri yang taat adalah partner yang aktif, yang dengan hikmat dan kelembutan mendukung dan melengkapi kepemimpinan suaminya, selama kepemimpinan itu selaras dengan Firman Tuhan. Ketaatan seperti ini justru memerlukan kekuatan karakter dan kedewasaan rohani yang tinggi.
Rajin (R) : Manager dan pembangun rumah tangga yang cakap. Amsal 31 memuji seorang istri yang rajin dan bijaksana. Kerajinannya dalam mengelola rumah tangga, mendidik anak, mengatur keuangan, dan bahkan dalam kegiatan ekonomi, adalah sebuah pelayanan yang mulia. Ia adalah “Mahkota” bagi suaminya (Amsal 12:4) dan perempuan yang bijak yang “mendirikan rumahnya” (Amsal 14:1). Seorang istri yang rajin dan cakap tidak hanya meningkatkan kesejahteraan keluarganya, tetapi juga menjadi agen ekonomi kreatif dalam masyarakat.
Ikhlas (I) : Motivasi pelayanan yang tulus. Banyak dari pelayanan seorang istri dan ibu tidak terlihat oleh publik dan seringkali tidak mendapat pujian. Memasak, membersihkan, mendampingi anak belajar semuanya adalah ibadah ketika dilakukan dengan hati yang ikhlas bagi Tuhan (Kolose 3:23). Kasih yang tulus dan tanpa pamrih adalah motor penggeraknya (1 Korintus 13). Seorang istri yang melayani dengan ikhlas akan memancarkan sukacita dan kedamaian, menjadikan rumahnya bukan hanya sebuah bangunan, tetapi sebuah “Home” tempat yang penuh kehangatan dan penerimaan.
Sinergi SUAMI-ISTRI : Kekuatan Tangguh untuk Masa Depan Papua Raya
SUAMI dan ISTRI bukanlah dua entitas yang terpisah, melainkan dua pilar yang saling menopang dalam satu bangunan yang kokoh. Ketika suami mengasihi istri dengan kasih yang sabar, berkorban, dan memimpin dengan iman, dan ketika istri menghormati serta mendukung suami dengan kesetiaan, ketaatan, dan kerajinan yang ikhlas, terciptalah sebuah sinergi yang dahsyat.
Keluarga yang dibangun dengan pola ini akan menjadi :
1. Keluarga yang Tangguh secara Mental dan Spiritual: Siap menghadapi segala tantangan zaman karena berfondasikan pada Kristus.
2. Keluarga yang Produktif dan Sejahtera: Etos kerja dan kerajinan yang dikelola dengan bijaksana akan membawa dampak ekonomi yang positif.
3. Keluarga yang Harmonis dan Damai: Menjadi contoh dalam masyarakat untuk menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
4. Keluarga yang Melahirkan Generasi Penerus yang Berkualitas: Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih, disiplin alkitabiah, dan keteladanan iman, akan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan Papua yang takut akan Tuhan.
Seruan dan Solusi Konkret
Membangun Papua dimulai dari meja makan keluarga, dalam doa keluarga, dan dalam interaksi sehari-hari antara suami, istri, dan anak-anak. Untuk itu, diperlukan komitmen bersama :
1. Bagi Para Suami dan Calon Suami : Bangunlah kedekatan pribadi dengan Tuhan. Jadilah pemimpin rohani dengan memimpin doa keluarga dan menjadi teladan dalam perkataan dan perbuatan. Perlakukan istri dengan hormat dan kasih.
2. Bagi Para Istri dan Calon Istri: Bangunlah kekuatan dari dalam melalui doa dan Firman Tuhan. Dukunglah suami dengan hikmat dan doa. Lihat peran muliamu di rumah sebagai panggilan Tuhan yang bernilai tinggi.
3. Bagi Gereja : Gereja harus aktif memberikan pengajaran yang alkitabiah dan kontekstual tentang pernikahan. Bentuklah kelompok pemuridan atau sel keluarga di mana suami-istri dapat saling mendukung dan bertumbuh.
4. Bagi Masyarakat dan Pemerintah: Dukunglah program-program yang memperkuat ketahanan keluarga, seperti seminar pernikahan dan parenting, yang berlandaskan nilai-nilai Kristiani.
Kesimpulan
Kekuatan terbesar untuk membangun Papua Raya di masa depan justru tidak terletak di luar, tetapi di dalam dinding-dinding rumah kita masing-masing. Ketika setiap suami di tanah Papua menghidupi makna “SUAMI” yang sejati, dan setiap istri menghidupi makna “ISTRI” yang alkitaniah, maka ribuan keluarga yang tangguh dan beriman akan bermunculan. Keluarga-keluarga inilah yang akan menjadi agen-agen perubahan, pembawa damai, dan fondasi yang kokoh bagi sebuah Papua yang tidak hanya makmur secara materi, tetapi juga mulia secara moral dan spiritual. Pada akhirnya, keluarga yang dibangun di atas Kristuslah yang akan sanggup menghadapi segala tantangan dan mewariskan warisan iman yang kekal bagi generasi mendatang.
“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36).*















