Yanni Usulkan Peneguhan Papua sebagai Tanah Injili yang Diberkati, Ini Kerangka Gagasannya

Anggota KEPP Otsus Papua Yanni bersama Wapres RI Gibran Rakabuming Raka.
banner 120x600

JAKARTA, Papuaterkini.com — Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (KEPP Otsus Papua), Yanni, mengusulkan peneguhan Papua sebagai “Tanah Injili yang Diberkati”.

Gagasan itu ia sampaikan dalam Rapat Pleno Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (BP3OKP) yang dipimpin Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Manokwari, Papua Barat, beberapa waktu lalu.

Menurut Yanni, usulan tersebut memiliki dasar historis, sosiologis, spiritual, sekaligus kebangsaan — yang semuanya dianggap penting untuk memperkuat martabat Papua dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Papua yang berada di ujung timur Indonesia bisa dikenali melalui identitas bermartabat, yakni Tanah Injili yang Diberkati. Peneguhan ini penting sebagai simbol integrasi spiritual dan kebangsaan,” ujar Yanni di Jakarta, Jumat (21/11/2025).

Ia menekankan bahwa predikat ini bersifat simbolik dan tetap menghormati keberagaman agama di Indonesia.

Dasar Historis Papua Tanah Injili

Yanni yang juga mantan Anggota DPR Papua 4 periode ini menjelaskan bahwa fondasi ide Papua sebagai Tanah Injili bermula pada kedatangan Injil di Pulau Mansinam pada 1855, yang menjadi titik penting bagi perkembangan modern Papua. Peristiwa itu membawa pendidikan formal, layanan kesehatan, dan tata administrasi yang lebih terstruktur.

Mengacu pada pendekatan historical institutionalism, Yanni menyebut bahwa momen awal tersebut menjadi “jalur sejarah” yang membentuk pola sosial dan identitas masyarakat Papua.

“Warisan sejarah itu memberi legitimasi kuat bagi penegasan Papua sebagai tanah injili, karena nilai dan institusi yang hadir sejak abad ke-19 terus tumbuh hingga kini,” jelasnya.

Peran gereja dalam membangun pendidikan, kesehatan, dan solidaritas sosial menjadi bukti kuat bahwa spiritualitas Kristen telah membentuk karakter masyarakat Papua selama lebih dari satu abad.

Landasan Sosiologis: Simbol Kolektif Pemersatu Papua

Dalam perspektif sosiologis, Yanni menilai bahwa simbol Tanah Injili selaras dengan teori fungsional-struktural Émile Durkheim, bahwa agama dan simbol kolektif berfungsi memperkuat solidaritas sosial.

Papua dengan keragaman suku, bahasa, dan wilayah membutuhkan simbol pemersatu yang mampu memperkuat identitas moral bersama.

“Penobatan Papua sebagai Tanah Injili yang Diberkati dapat dipahami sebagai representasi kolektif yang mengikat masyarakat Papua dalam identitas moral dan spiritual,” kata Yanni.

Dimensi Spiritual Papua sebagai Tanah Injili

Yanni menyoroti kuatnya tradisi kekristenan di Papua yang hadir dalam kehidupan sosial, pelayanan jemaat, hingga penyelesaian konflik. Spiritualitas ini dinilai membentuk karakter masyarakat Papua yang mengedepankan kasih, pelayanan, dan kebersamaan.

“Dalam keseharian masyarakat Papua, nilai Injil hadir dalam musyawarah jemaat, pembinaan generasi muda, hingga proses penyelesaian konflik,” tuturnya.

Peneguhan Tanah Injili, menurutnya, merupakan pengakuan terhadap nilai spiritual yang telah membentuk Papua dari generasi ke generasi.

Aspek Kebangsaan: Nasionalisme Papua dalam Bingkai NKRI

Dari sisi kebangsaan, Yanni memandang identitas Tanah Injili sebagai cara memperkuat posisi Papua dalam narasi nasional Indonesia. Ia menyebut bahwa simbol identitas daerah, seperti “Serambi Mekkah” untuk Aceh dan “Pulau Dewata” untuk Bali, telah diterima sebagai bagian dari mozaik kebangsaan.

Dengan cara yang sama, Papua dapat meneguhkan simbol yang mengangkat martabat sejarah dan spiritualitasnya.

“Penguatan identitas Papua sebagai Tanah Injili akan memperkokoh rasa memiliki terhadap negara serta memperdalam integrasi sosial,” jelas Yanni.

Harapan di Usia 24 Tahun Otsus Papua

Menutup pernyataannya, Yanni menyampaikan selamat atas HUT Otonomi Khusus Papua ke-24. Ia mengajak seluruh elemen bangsa memaknai Otsus sebagai wujud perhatian negara terhadap Papua.

“Pada usia 24 tahun Otsus, Papua mengingatkan kita bahwa cahaya dari timur selalu membawa harapan bagi kejayaan bangsa Indonesia,” pungkasnya.(bat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *