Oleh : Yosua Noak Douw*
Tokoh Muda Kristen di Tanah Papua
Di tanah yang disapa matahari dari timur,
di antara gunung, lembah, dan lautan biru,
pernah terdengar langkah sunyi dua utusan,
membawa terang dari Surga ke Pulau Mansinam.
Tanggal itu bukan sekadar angka sejarah,
5 Februari 1855 terukir dalam jiwa Papua.
Ketika firman Tuhan pertama kali berlabuh,
mengubah gelap menjadi terang,
mengubah takut menjadi pengharapan.
Injil datang bukan dengan pedang,
tetapi dengan kasih.
Bukan dengan kuasa dunia,
tetapi dengan kuasa pengampunan.
Ia menyentuh hati,
mengubah hidup,
membangun peradaban.
Dari honai-honai sederhana,
dari kampung-kampung di pesisir dan pegunungan,
firman itu tumbuh seperti benih,
menjadi pohon iman
yang menaungi generasi demi generasi.
Hari ini,
171 tahun telah berlalu.
Injil masih berdiri di tanah ini,
menjadi saksi perjalanan umat,
menjadi terang di tengah gelap zaman.
Namun kita bertanya dalam sunyi:
masihkah kita berjalan dalam terang itu?
Masihkah hati kita mendengar panggilan-Nya?
Masihkah pertobatan hidup dalam jiwa Papua?
Pertobatan bukan sekadar kata di mimbar,
bukan sekadar doa di bibir.
Pertobatan adalah air mata yang jatuh
saat manusia sadar akan jalannya.
Pertobatan adalah langkah baru
ketika hati kembali kepada Tuhan.
Ia mengubah kebencian menjadi kasih,
mengubah luka menjadi pengampunan,
mengubah perpecahan menjadi persaudaraan.
Pertobatan melahirkan keselamatan,
dan keselamatan melahirkan damai.
Wahai Tanah Papua,
tanah yang diberkati Tuhan,
tanah yang dipilih menerima terang Injil,
hari ini engkau dipanggil kembali.
Bertobatlah dari jalan yang menjauh,
kembalilah kepada kasih yang mempersatukan.
Tinggalkan kekerasan yang melukai,
peluklah damai yang menyembuhkan.
Sebab di dalam pertobatan
tersembunyi keselamatan bagi negeri ini.
Bagi para pemimpin,
biarlah pertobatan menjadi kompas.
Memimpin dengan takut akan Tuhan,
bukan dengan kesombongan kuasa.
Melayani dengan hati,
bukan dengan kepentingan diri.
Bagi generasi muda Papua,
engkaulah harapan esok hari.
Bangkitlah dalam iman,
berdirilah dalam kebenaran.
Jadilah terang di tanahmu sendiri,
jadilah pembawa damai bagi sesamamu.
Bagi gereja-gereja di tanah ini,
jangan biarkan api Injil redup.
Teruslah bersuara bagi kebenaran,
teruslah berjalan bersama umat.
Jadilah terang di tengah dunia,
jadilah garam bagi kehidupan.
Hari ini kita merayakan,
namun juga merenungkan.
171 tahun bukan akhir perjalanan,
melainkan awal panggilan baru.
Jika pertobatan sungguh hidup di hati,
keselamatan akan mengalir di tanah ini.
Dalam keluarga-keluarga sederhana,
dalam doa-doa yang dipanjatkan,
dalam tangan-tangan yang saling merangkul.
Papua akan berdiri dalam damai,
Papua akan berjalan dalam terang,
Papua akan hidup dalam kasih Tuhan.
Wahai Tuhan,
berkatilah tanah ini dari gunung hingga pesisir,
dari kota hingga kampung-kampung sunyi.
Biarlah Injil tetap hidup
di setiap hati anak negeri.
Sebab dari pertobatan
lahirlah keselamatan.
Dari keselamatan
lahirlah masa depan.
Selamat HUT Pekabaran Injil ke-171 di Tanah Papua.
Terang Injil tak akan padam.
Kasih Tuhan tak akan berhenti.
Dan Papua akan selalu hidup
dalam berkat-Nya. (*)















