JAYAPURA, Papuaterkini.com – Beredarnya video konflik antarwarga di Kampung Mogodagi, Distrik Kapiraya, wilayah perbatasan Kabupaten Deiyai dan Mimika, mendapat respons serius dari Ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Provinsi Papua Tengah, Nason Utty.
Nason Utty menegaskan, konflik tersebut tidak bisa dianggap sepele, terlebih adanya korban jiwa, termasuk seorang pendeta yang dilaporkan tewas dalam insiden kekerasan antarwarga tersebut beberapa waktu lalu.
Ia pun mendesak Gubernur Papua Tengah bersama Bupati Mimika dan Bupati Deiyai untuk segera turun langsung menangani konflik di wilayah perbatasan itu.
“Kami minta Pak Gubernur bersama kedua bupati segera menangani konflik antarwarga di perbatasan tersebut. Jangan diabaikan, karena rakyat bisa menjadi korban,” tegas Nason Utty, Selasa, Rabu, 11 Februari 2026.
Mantan Anggota DPR Papua ini menilai konflik di wilayah Kapiraya terkesan dibiarkan berlarut-larut, meski telah menelan banyak korban jiwa dari masyarakat setempat. Ia bahkan menduga konflik tersebut dipelihara oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan.
“Kami beranggapan konflik ini ada yang memelihara, karena kepentingan tertentu,” tandasnya.
Selain mendesak pemerintah daerah, Nason Utty juga meminta Kapolda Papua Tengah untuk segera turun tangan memastikan penanganan konflik antarwarga, khususnya di Kampung Mogodagi yang berada di perbatasan Deiyai dan Mimika.
Menurutnya, konflik tersebut patut dicurigai dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk masuk dan menguasai masyarakat setempat, terutama yang berkaitan dengan kepentingan sumber daya alam.
“Dari konflik ini, kami mencurigai ada yang memanfaatkan situasi untuk secara bebas masuk dan menguasai masyarakat. Ada yang berkepentingan dengan sumber daya alam di sana,” ujarnya.
Nason Utty kembali menegaskan agar Gubernur Papua Tengah bersama Bupati Mimika dan Bupati Deiyai segera mengambil alih penanganan konflik dan meminta aparat kepolisian melakukan langkah-langkah hukum yang tegas.
“Kami tidak ingin terjadi konflik horizontal seperti yang pernah terjadi di Mimika yang menelan korban jiwa. Kami juga tidak mau konflik di Mogodagi Kapiraya ini mengarah pada perang suku antara Mee dan Kamoro, karena selama ini hidup harmonis, rukun, dan berdampingan,” katanya.
Ia pun menegaskan bahwa segala bentuk upaya adu domba dan penciptaan konflik demi kepentingan sumber daya alam tidak boleh dibiarkan.
“Ada pihak lain yang masuk karena kepentingan sumber daya alam, itu tidak boleh. Jangan sampai konflik diciptakan untuk mengadu domba masyarakat,” pungkasnya.
(bat)















