Komisi V DPR Papua Bersama OPD Rumpun Kesehatan Bahas Penanganan Covid-19

  • Whatsapp
Ketua Komisi V DPR Papua, Timiles Yikwa, SE dan Wakil Ketua Komisi V, Kamasan Yakobus Komboy serta Asisten II Sekda Papua, Muhammad Musa'ad dalam RDP terkait penanganan Covid-19 di Swiss-Belhotel Papua, Senin, 21 Juli 2021.

JAYAPURA, Papuaterkini.com – Menyikapi melonjaknya kasus terkonfirmasi Covid-19, Komisi V DPR Papua bersama mitra Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) rumpun kesehatan yang dipimpin Asisten II Sekda Papua, Muhammad Musa’ad, membahas strategi penanganan Covid-19 yang berlangsung di Swiss-Belhotel Papua, Kota Jayapura, Senin, 21 Juli 2021.

Bahkan, dalam pembahasan penanganan Covid-19 itu, juga melibatkan Ketua Komisi III DPR Papua yang membidangi Anggaran, Benyamin Arisoy.

Bacaan Lainnya

Asisten II Sekda Papua, Muhammad Musa’ad mengungkapkan, jika Gubernur Papua terus memimpin rapat dalam beberapa hari terakhir menyangkut penanganan Covid-19 di Provinsi Papua.

Apalagi, ada perubahan secara nasional yang harus diantisipasi yakni terkait PPKM yang tadinya ada kategori darurat dan diperketat, tapi tidak lagi menggunakan nomenklatur itu, tapi memakai PPKM skala 1, 2, 3 dan 4.

“Skala 4 itu yang membahayakan, yang 3 itu sudah berada pada ujung tombak membahayakan. Hasil data menunjukkan bahwa Papua saat ini berada pada skala 3, tetapi sudah mendekati 4 artinya kita diminta lebih waspada dan ikhtiar lagi untuk jangan sampai masuk ke kategori 4. Berdasarkan itu kemudian ada beberapa kebijakan yang sudah dikeluarkan akan kita sesuaikan,” kata Musa’ad.

Dikatakan, gubernur telah memberikan arahan terkait penanganan Covid-19, setelah mendengar masukan dari instansi teknis dan rumah sakit, termasuk kelangkaan oksigen baik di rumah sakit pemerintah maupun swasta sehingga tengah diupayakan distribusi oksigen bisa tertangani untuk emergency.

“Kami akan rapat dengan direktur rumah sakit, untuk strategi memenuhi kebutuhan oksigen itu, karena suplayer yang ada di sini terbatas, produksi di Papua juga terbatas. Ada upaya RSUD Dok II Jayapura untuk meningkatkan produksi oksigen, namun alatnya masih menunggu 1 – 2 minggu ke depan, termasuk RSUD Abe juga memproduksi oksigen, tapi kapasitas masih terbatas, juga butuh alat,” jelas Musaad.

Terkait dengan APD, lanjut Musaad, APD masih tersedia di Dinas Kesehatan Papua sehingga sudah diminta untuk digeser ke rumah sakit yang membutuhkan sehingga tidak ada lagi kelangkaan APD.

Selain itu, soal keterbatasan tenaga medis, kata Musa’ad, Gubernur sudah mengarahkan untuk segera merekrut tenaga sukarelawan untuk mengantisipasi kebutuhan tenaga medis, karena banyak tenaga medis yang terpapar, misalnya di RSUD Dok II Jayapura ada 87 nakes terpapar, di RSUD Abepura ada nakes terpapar.

“Perintah bapak Gubernur sudah jelas, segera merekrut relawan sehingga bisa mengisi kebutuhan tenaga medis ini,” ujarnya.

Soal kekurangan tempat/bet di rumah sakit dengan melonjaknya pasien Covid-19, kata Musaad, RSUD Dok II Jayapura maupun RSUD Abepura sudah mengambil langkah dengan memanfaatkan ruang kelas 1 dan VIP untuk dirubah ruang isolasi agar pasien tidak lama menunggu di IGD.

“Kita sudah sepakat untuk membuat rencana kontigensinya untuk minggu ini, minggu depan dan seterusnya. Ini harus dibuat secara tertulis, supaya jadi pegangan untuk diawasi bersama, termasuk tempat alternative baik di LPMP dan Asrama Haji serta tempat lainnya,” katanya.

Musa’ad berharap adanya dukungan dari DPR Papua terkait dengan dana Belanja Tidak Langsung (BTT) dimana tahun 2020 tersisa Rp 150 miliar dan tahun 2021 sesuai instruksi Mendagri untuk refocusing 8 persen dari DAU dan lainnya.

“Kalau mau refocusing, prosedurnya lewat APBD Perubahan. Sementara kita ada hal – hal emergency yang harus diselesaikan sebelum APBD Perubahan. Yang sudah diputuskan pak Gubernur, yang emergency ini dalam 1 minggu ke depan ini, masih bisa memanfaatkan yang tersisa itu, sambil mencari formulasi yang tepat agar yang lain bisa terpenuhi, meski belum ketuk palu APBD Perubahan. Ini mohon dukungan dan kebijakan dari DPR Papua dan Gubernur telah meminta untuk memprioritaskan APBD Perubahan dan APBD 2022 untuk penyelesaina Covid-19,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Komisi V DPR Papua, Timiles Yikwa mengatakan, jika pihaknya sudah memutuskan bahwa untuk hal-hal yang emergensi, baik APD, oksigen dan lainnya, akan didahulukan.

“Nah, nanti akan dibicarakan dalam rapat banggar DPR Papua, termasuk penggunaan dana BTT seperti apa,” katanya.

Untuk itu, kata Timiles, Komisi V DPR Papua mengusulkan kepada TAPD jika kebutuhan mendesak dari rumah sakit, jika memang tersedia dananya, maka langsung ditransfer ke rumah sakit, tidak lagi melalui Dinas Kesehatan.

“Jadi, kami minta agar mekanisme penggunaan dana BTT tahun 2020, tidak perlu dipakai lagi. Tapi, kami minta jika ada pengajuan dari rumah sakit, maka uangnya langsung ditransfer saja ke rumah sakit,” ujarnya.

Yang jelas, lanjut Timiles, pihaknya akan membicarakna hal itu melalui rapat Banggar DPR Papua untuk mengatasi kebutuhan emergency dalam penanganan Covid-19 itu agar diproritaskan. Apalagi, kata Timiles, hal itu sudah dibicarakan oleh Pemprov Papua terkait beberapa hal yang segera ditangani, terutama dari sisi anggaran.

“Apalagi, APBD Perubahan  masih lama, apakah pakai ijin prinsip atau lainnya, nanti akan dibicarakan dalam rapat banggar. Soal dana untuk penanganan Covid-19, Komisi V DPR Papua meminta agar dipercepat prosesnya,” katanya.

“Ya, dalam keadaan emergency penanganan Covid-19, seperti di RSUD Dok II Jayapura yang disampaikan Direktur Aloysius Giyai yang meminta kebutuhan sebesar Rp 10 miliar – Rp 15 miliar, harus didahulukan. Surat menyurat nanti bisa dari belakang dan menyesuaikan. Karena ini demi keselamatan, karena pasien butuh pertolongan darurat dan cepat, sehingga harus didahulukan,” sambungnya.

Terkait insentif nakes yang belum dibayarkan tahun 2020, Timiles menambahkan, jika memang itu dari Kementerian Kesehatan atau APBN. “Tapi, ada regulasi bisa diatur melalui APBD. Jika bisa ditalangi lewat ABD, nanti kita akan bicarakan di rapat banggar,” pungkasnya. (bat)

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *