Smelter di Jatim, Laurenzus Kadepa: Itu Melukai Hati Rakyat Papua

  • Whatsapp
Anggota Komisi I DPR Papua, Laurenzus Kadepa.

JAYAPURA, Papuaterkini.com – Pembangunan Smelter PT Freeport Indonesia yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus di Gresik, Jawa Timur, tampaknya mendapat reaksi keras dari sejumlah pihak di Papua.

Salah satunya, Anggota Komisi I DPR Papua, Laurenzus Kadepa menilai jika pembangunan Smelter di Jawa Timur itu, tentu sangat melukai hati rakyat Papua, khususnya 8.300 buruh mogok kerja (Moker) PT Freeport Indonesia yang hingga kini belum jelas nasibnya.

“Smelter di Jawa Timur itu, tentu melukai hati rakyat Papua, terutama 8.300 buruh moker Freeport yang menantikan keadilan,” kata Laurenzus Kadepa kepada Papuaterkini.com, Kamis, 14 Oktober 2021.

Untuk itu, Kadepa mendesak Presiden Jokowi dan managemen PT Freeport untuk segera memperhatikan nasib 8.300 karyawan moker, yang sejak tahun 2017 hingga saat ini mencari keadilan.

“Kasihan mereka. Saat ini sesuai data yang ada, sudah ada ratusan orang yang meninggal dunia, karena mereka betul – betul menjadi korban akibat PHK sepihak itu,” tegasnya.

Dikatakan, penetapan Gresik, Jawa Timur menjadi pusat pembangunan Smelter PT Freeport yang bakal menyerap 40 ribu tenaga kerja, berbanding lurus dengan perjuangan buruh moker Freeport.

“Ini sangat menyedihkan jika dibandingkan dengan perjuangan buruh moker Freeport. Sebanyak 8.300 orang dan keluarga mereka dikorbankan, nanti mereka akan tambah sakit hati dengan adanya Smelter di Gresik,” ujarnya.

Untuk itu, Kadepa meminta pemerintah pusat dan managemen Freeport tidak boleh menutup mata terhadap persoalan 8.300 buruh moker Freeport ini.

Apakah bisa 8.300 buruh moker Freeport itu, nantinya direkrut kembali untuk dipekerjakan pada Smelter di Gresik? Politisi Partai Nasdem ini mengatakan, hal itu bisa dilihat kembali, namun yang penting mereka dipekerjakan kembali oleh Freeport.

“Dari 8.300 buruh moker itu, tidak semua karyawan Freeport, ada yang dari perusahaan privatisasi, kontraktor dan sub kontraktor. Jadi, 8.300 buruh moker itu, harus ada keadilan dan ditegakkan, mereka dipekerjakan kembali. Jika mau dipindahkan ke Smelter atau kemana, itu terserah dari managemen Freeport,” paparnya.

Kadepa secara tegas menyatakan bahwa pemerintah dan managemen PT Freeport untuk segera mempekerjakan kembali 8.300 buruh moker itu, lantaran nasibnya terkatung – katung sejak tahun 2017.

“Jadi, bagi saya pak Jokowi sebagai kepaal Negara, termasuk pemerintah daerah dan perangkatnya di sini, harus mendorong ini. Tapi, masalah Smelter Freeport ini kan masuk ranahnya pemerintah pusat, termasuk Pak Jokowi, karena ada saham 51 persen,” tandasnya.

Secara pribadi sebagai Anggota DPR Papua, Kadepa mengerti kondisi yang dialami oleh 8.300 buruh moker Freeport, apalagi sejak tahun 2017, ia selalu mengawal perjuangan mereka untuk mendapatkan keadilan dan hak – hak mereka.

“Kesannya yang saya dapat, semua diam. Padahal, mereka 8,300 buruh itu, sudah berkontribusi kepada managemen Freeport maupun Negara melalui pajak, karena yang di PHK itu, puluhan tahun berpengalaman bekerja di Freeport maupun di kontraktor,” imbuhnya. (bat)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. terimakasih kaka telah mengingatkan pemerintah dalam hal ini presiden Jokowi dan direktur PT FI Toni wenas untuk tidak lupa dengan janji Jokowi pada tanggal 13 februari tahun dua ribu sembilan belas untuk menyelesaikan permasalahan moker dan kami 8300 tunggu sampai selesai PON oktober 2021 masalah moker belum diselesaikan juga