YAHUKIMO, Papuaterkini.com – Dianggap sudah tidak layak lagi untuk tempat beribadah, masyarakat Kampung Ikmok Distrik Nipsan, Kabupaten Yahukimo sepakat untuk membangun gedung gereja yang baru Jemaat Yudea Klasis Nipsan.
Bahkan, kesepakatan ini tertuang dalam rapat Bamuskam Kampung Ikmok, Distrik Nipsan, Kabupaten Yahukimo pada April 2024 lalu.
Bahkan, peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja yang baru pada Desember 2024 dan kini tengah mempersiapkan material bangunan.
Kepala Kampung Ikmok, S Enos Kwak mengakui jika pembangunan gedung gereja baru itu, telah disepakati menggunakan anggaran dana desa kampung itu.
“Kami mendorong pembangunan gedung gereja baru ini melalui musyawarah kampung untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa di beberapa kota studi agar kegiatan ini terarah,” ujarnya.
Musyawarah Kampung dengan tema ‘Melalui Musyawarah Kampung, Berjiwa Bersatu Hati, MengembalikanAspirasi Masyarakat dari Demokrasi Perencanaan Pembangunan Kampung yang Tak Berdemokrasi’ ini, kata Enos Kwak, bertujuan untuk merancang rencana program dana desa jangka menengah dan progam kepala kampung agar anggaran lebih terarah pada program serta penetapan Peraturan Kepala Kampung Ikmok.
“Kami bersama masyarakat, tokoh gereja dan mahasiswa sudah sepakat untuk 2 tahun kemarin, dana desa fokus untuk pendidikan dan tahun 2025 kami sepakat untuk fokus bangun gedung gereja,”jelasnya.
Bahkan, peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja itu telah dilaksanakan pada Desember 2025 dan kini memasuki tahap penyiapan material bangunan terutama kayu.

Diakui, dalam pembangunan gedung baru gereja ini, tentu membutuhkan biaya tidak sedikit dan diperkirakan akan membutuhkan anggaran Rp 1,5 miliar lagi.
Untuk itu, Enos Kwak meminta dukungan pemerintah Kabupaten Yahukimo dalam hal ini Bupati dan Wakil Bupati Yahukimo untuk dapat menyelesaikan pembangunan gedung gereja yang baru tersebut. Sebab, jemaat punya kerinduan memiliki gedung gereja yang layak untuk beribadah.
“Sebagai kepala kampung tentu tidak sanggup untuk membiayai pembangunan gereja ini, karena medan mengalahkan anggaran. Saya berharap dukungan dari DPMK, kepala distrik, bapak bupati dan wakil bupati serta donatur agar dapat menyelesaikan pembangunan gereja ini. Memang kami berat diongkos transportasi untuk bahan bangunan, karena harus carter pesawat. Belum lagi dari distrik ke kampung yang harus ditempuh dengan jalan kaki hampir 6 jam,” ungkapnya.
Dalam peletakan batu pertama pembangunan gereja itu, imbuh Enos Kwak, juga dilakukan kegiatan doa pemulihan yang dirangkai dengan kegiatan perayaan Natal dan pembabtisan yang bertemakan ‘Segera Menjumpai denganTuhan Yesus’. (bat)















