NABIRE, Papuaterkini.com – Mantan Pj Bupati Puncak Jaya, Yopi Murib, SE, MM tampak merasa lega setelah pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Puncak Jaya periode 2025 – 2030 dan melakukan serahterima jabatan di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Selasa, 17 Juni 2025.
Apalagi, sejak dilantik Gubernur Papua Tengah menjadi Pj Bupati Puncak Jaya pada akhir Desember 2024, Yopi Murib langsung menghadapi konflik atau perang antar kedua kubu pendukung pasangan calon bupati hingga belasan nyawa melayang, 600 orang lebih luka-luka dan ratusan rumah terbakar.
Berbagai upaya pendekatan telah dilakukan untuk meredam konflik, termasuk berkoordinasi dengan Gubernur, Wakil Gubernur, Kapolda, Danrem 173/PVB, MRP Papua Tengah dan Forkompinda Kabupaten Puncak Jaya, pendekatan dari hati ke hati, akhirnya mencapai kesepakatan kedua kubu untuk mengakhiri konflik.
Bahkan, telah dilakukan acara perdamaian secara adat dengan ritual belah kayu doli di Mulia, pada 12 Mei 2025.
Untuk itu, Yopi Murib berpesan kepada Bupati dan Wakil Bupati Puncak Jaya, Yuni Wonda – Mus Kogoya untuk tetap menjaga kondusivitas masyarakat di Kabupaten Puncak Jaya, khususnya di Kota Mulia.
Selain itu, Yopi Murib berharap Bupati dan Wakil Bupati Puncak Jaya segera merangkul semua pihak untuk membangun kembali Kabupaten Puncak Jaya.
“Bapak bupati dan wakil bupati segera merangkul kedua kubu, sehingga tidak ada lagi gejolak muncul, tidak ada lagi korban setelah pelantikan. Mohon pak bupati dan wakil bupati merangkul semua. Kubu-kubu itu terjadi saat perlawanan dan hari ini tidak ada kubu lagi, itu jadi satu kubu atau satu honai agar beliau berdua dapat menjalankan visi misinya dan menjalankan roda pemerintahan bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.
Apalagi, lanjut Yopi Murib, pemerintah melaksanakan tugas untuk pelayanan kepada masyarakat, sehingga jika ada isu-isu yang dapat mengganggu situasi keamanan agar segera dipadamkan.
“Jangan ada pembiaran, karena ujungnya akan terjadi konflik,” pesannya.
Selama menjabat Pj Bupati Puncak Jaya hampir 6 bulan ini, ada banyak kesan mendalam bagi Yopi Murib. Bahkan sering kali, selaku Pj Bupati atau Pemkab Puncak Jaya selalu disalahkan oleh kedua belah pihak ataupun masyarakat.
“Sekalipun korbannya mereka, sekalipun kita bersebelahan, tapi selalu ada tuduhan tidak netral alias berpihak ke salah satu kubu. Itu kesannya sangat menyakitkan, tapi sebagai pemimpin, ya harus terima itu,” ungkapnya.
“Bahkan, korban pun diserahkan ke kami. Itu kesan yang saya alami selama Pj Bupati Puncak Jaya. Itu rasa-rasanya bagaimana, kadang ya sudah kita jadi kepala perangnya saja. Ya, namanya pemerintah selalu siap disalahkan masyarakat, tapi kita terus benahi dan berikan pemahaman,” selorohnya.
Ditengah-tengah konflik itu, ia sudah lebih dari 3 kali dituduh berpihak. Bahkan, sempat dituduh bahwa Pj Bupati mengakibatkan banyak korban berjatuhan.
Namun Yopi Murib sadar sebagai pemimpin harus siap menerima itu semua, termasuk harus dicaci maki. Tetapi, sebagai pemimpin harus terus melakukan pendekatan kepada kedua belah pihak.
“Itu bukan berarti kita mundur, tapi justru itu jadi kekuatan kita harus masuk melakukan pendekatan kepada kedua belah pihak untuk proses perdamaian, sehingga setiap saat kita berupaya hadir setiap saat di kedua belah pihak, hingga mereka menerima dengan apa adanya,” ujarnya.
Yang jelas, imbuhnya Yopi Murib, kuncinya adalah kehadiran pemimpin atau pemerintah di tengah-tengah masyarakat, apapun masalahnya.
“Apapun masalahnya, kita harus hadir, karena itu akan menggugah hati masyarakat. Kami harap bupati dan wakil bupati jangan anggap itu sepele, karena itu sudah berkelanjutan, jangan sampai ujungnya konflik terjadi,” pungkasnya. (bat)















