Oleh:
Fiktor Palembangan
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Fajar-Makassar*
Generasi Z atau yang sering disingkat Gen Z adalah gerenasi yang berbeda dengan miliki tantangan yang berbeda. Mereka lahir antara pertengahan 1997 hingga awal 2012-an.
Merekapun merupakan kelompok generasi yang tumbuh besar di tengah pesatnya perkembangan teknologi, di mana internet, media sosial, dan perangkat digital menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mereka juga sering disebut sebagai iGeneration atau Generasi Internet yang hampir memiliki ketergantungan pada teknologi sejak usia dini.
Generasi ini secara alami memiliki keterampilan teknologi yang kuat dan menghabiskan banyak waktu dalam interaksi dengan perangkat digital. Mereka akan mendapatkan banyak dampak positif dengan memiliki kemampuan dalam memanfaatkan teknologi untuk mendapatkan akses terhadap informasi dengan cepat dan mudah. Mereka dapat belajar secara otodidat atau mandiri, mengembangkan kreativitas, dan berkolaborasi dengan sesama melalui platform online.
Di balik mendapatkan banyak peluang melalui kemudahan akses informasi dan konektivitas global yang mereka nikmati, generasi ini juga harus menghadapi berbagai tantangan unik yang secara signifikan mempengaruhi kehidupan mereka.
Penggunaan teknologi yang berlebihan dapat menyebabkan ketergantungan, isolasi sosial, dan masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Maraknya penggunaan media sosial, tentunya juga memungkin Gen Z paparan konten-konten yang tidak sesuai usia yang pada akhirnya dapat memengaruhi persepsi mereka terhadap diri sendiri dan orang lain.
Harus diakui bahwa tantangan yang dihadapi oleh Generasi Z sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Permasalahan yang dihadapi oleh Generasi Z dimasa depan tidak boleh dianggap remeh. Kecerdasan buatan (AI) dan kemajuan pesat digitalisasi terus mengubah mekanisme di hampir semua sektor, mulai dari pendidikan, keterampilan, identitas, isu-isu sosial, keragaman dan dunia kerja serta sejumlah pengaruh lainnya.
Semua faktor ini menciptakan lanskap yang kompleks dan sering kali penuh tekanan, yang pada akhirnya menuntut mereka untuk terus beradaptasi dan menemukan cara baru untuk mengatasinya.
Ditengah pesatnya perkembangan teknologi saat ini tentu saja membuat tuntutan terhadap keterampilan dan pendidikan terus berubah. Pendidikan tradisional tidak selalu cukup untuk mempersiapkan Generasi Z menghadapi dunia kerja yang dinamis. Mereka perlu mengembangkan keterampilan baru yang relevan dengan kebutuhan pasar, seperti coding, data analysis, dan kemampuan berpikir kritis
Di era serba digital dan persainggan yang cukup besar, Generasi Z perlu mencari pendidikan tambahan melalui kursus online, program pelatihan, dan pengalaman kerja praktis untuk meningkatkan daya saing mereka di pasar kerja. Oleh karena itu, menuju bonus demografi dalam satu atau dua dekade mendatang, Indonesia perlu merespons perubahan lanskap terhadap kesiapan Generasi Z dengan program-program yang adaptif dan berfokus pada pengembangan kompetensi sebagai angkatan kerja yang memiliki daya saing di masa depan sejalan dengan makin canggihnya teknologi digital.
Generasi Z, yang akrab dengan internet dan media sosial perlu menciptakan ruang publik melalui platform digital mengasah dan menambawah wawasan. Mereka perlu membangun komunikasi efektif untuk mencapai tujuan-tujuan positif dengan memanfaatkan media sosial dan kemudahan teknologi informasi yang ada.
Teknologi internet dan media sosial harus dijadikan media komunikasi efektif untuk berbagi dan mendapatkan informasi serta membentuk opini dengan berbagai isu yang dinilai dapat memberikan informasi.
Jurgen Habermas, seorang filsuf dan sosiolog Jerman yang terkenal dengan teorinya tentang tindakan komunikatif dan ruang publik memberikan kerangka berpikir untuk memahami bagaimana Gen Z berinteraksi dalam era digital. Habermas menekankan pentingnya dialog efektif dan rasional dalam ruang publik untuk mencapai pemahaman bersama, termasuk dengan memanfaatkan keunggulan dari berbagai fasilitas digital yang ada.
Dalam konteks komunikasi, Habermas menekankan pentingnya rasionalitas komunikatif dan tindakan komunikatif sebagai cara untuk mencapai pemahaman bersama dan konsensus. Ruang publik, salah satunya melalui media sosial dinilai area penting bagi Gen z untuk dapat berpartisipasi dalam dialog dan diskusi ataupun membentuk opini publik yang pada akhirnya membantu dalam membuat suatu keputusan yang tepat.
Dalam konteks media, Habermas berpendapat bahwa media harus berperan dalam memfasilitasi dialog yang konstruktif dan kritis di ruang publik. Dialog menurut Jurgen Habermas: Kekuatan Komunikasi. Secara singkat, Habermas melihat komunikasi sebagai kekuatan yang penting untuk menciptakan masyarakat yang lebih rasional, demokratis, dan berkeadilan.
Teorinya tentang tindakan komunikatif dan ruang publik memberikan kerangka kerja untuk memahami bagaimana komunikasi dapat digunakan untuk mencapai pemahaman bersama dan mengatasi tantangan sosial yang dialami oleh Gen Z.
Teori ruang publik Habermas juga dapat diaplikasikan untuk memahami bagaimana Generasi Z berpartisipasi dalam diskursus publik. Teori Habermas menyoroti pentingnya ruang publik sebagai arena bagi warga negara untuk berdiskusi, bertukar pikiran, dan membentuk opini publik.
Generasi Z, dengan akses luas ke internet dan media sosial, membentuk ruang publik mereka sendiri, baik secara online maupun offline, untuk membahas berbagai isu yang relevan bagi mereka.
Dari uraian disimpulkan bahwa teori ruang publik Habermas diera digitalisasi relevan untuk memahami bagaimana Generasi Z berpartisipasi dalam kehidupan sosial sehingga mereka mampu menyesuaikan dengan tantangan dalam berbagai kehidupan mereka kedepan.
Mereka (Gen Z) diharapkan mampu menciptakan dan memanfaatkan ruang publik, baik secara online maupun offline, untuk berdiskusi, berbagi informasi, dan membentuk opini. Hal ini menunjukkan bahwa Generasi Z, meskipun lahir di era digital, tetap mempertahankan kebutuhan dasar untuk berinteraksi, berdiskusi, dan membentuk opini public.
Kesimpulan;
Gen Z sebagai generasi yang lahir diera digitalisasi perlu mengoptimalkan potensi positif teknologi sambil mengelola dampak negatifnya, hal ini penting dilakukan dengan harapan Generasi Z dapat menjadi pengguna yang cerdas dan bertanggung jawab dalam era digital saat ini.
Sebagai generasi terbesar saat ini, Gen Z memiliki potensi untuk berkontribusi signifikan pada pembangunan bangsa. Untuk itu, kreativitas dan inovasi yang mereka dimiliki terutama dalam penggunaan teknologi adalah potensi untuk menciptakan solusi baru dan mendorong kemajuan di berbagai bidang.
Di balik kemudahan akses informasi dan konektivitas global yang mereka nikmati, Gen Z juga harus menghadapi berbagai tantangan unik yang secara signifikan mempengaruhi kehidupan mereka. Memahami tantangan dan peluang Gen Z sangat penting bagi berbagai pihak, termasuk pemerintah dan orang tua.
Generasi Z memiliki potensi bonus demografi yang signifikan untuk Indonesia, sebagai generasi terbesar saat ini. Namun, untuk memaksimalkan potensi ini, diperlukan dukungan dari pemerintah dan masyarakat, termasuk akses pendidikan berkualitas dan peluang kerja yang lebih baik.
Pemerintah perlu merancang kebijakan yang mendukung pendidikan, memperketat membuat batasan-batasan penggunaan internet dan memberikan pelung kerja yang besar. Demikian halnya mayarakat ataupun orang tua memiliki peran yang sangat krusial dalam membimbing anak-anak Gen Z menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang di era digital.
Meskipun sering distereotipkan sebagai generasi manja yang bergantung pada kecangihan teknologi, Gen Z menghadapi tantangan sosial dan ekonomi yang besar. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan mereka. Kita dan semua pihak tanpat terkecuali perlu menciptakan lingkungan yang suportif dan inklusif bagi perkembangan Gen Z.
Masa depan Indonesia sangat bergantung pada bagaimana kita memanfaatkan potensi Gen Z melalui pendidikan, dukungan sosial dan kesempatan ekonomi yang lebih baik. Penting dipahami bersama bahwa perubahan generasi adalah mesin perubahan sosial dan setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk membentuk generasi berikutnya. (*)















