Opini  

Mengabarkan Kemenangan dengan Data: Antara Euforia dan Metodologi Ilmiah

Penulis Firdaus foto bersama dengan Ketua DPW PKS Papua, Suherman, Plt Ketua DPD Partai Golkar Papua, Ahmad Doli Kurnia, Juru Bicara Mari-Yo M Rivai Darus.
banner 120x600

Oleh: Firdaus (Tim Tabulasi MARI-YO)*

Dalam setiap pemilihan kepala daerah, mengabarkan kemenangan adalah momen yang penuh gairah. Namun di tengah euforia politik, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: apakah kemenangan yang diumumkan benar-benar terukur, atau sekadar klaim emosional?

Dalam PSU di Papua tanggal 6 Agustus 2025 kemarin, kami dari Tim Tabulasi MARI-YO telah menggunakan quick countdengan metodologi Bootstrapping dan Simulasi Monte Carlo untuk memperkirakan konsistensi hasil, dan telah diumumkan pada malam hari pemilihan itu juga. Margin of Error dari metode tersebut berkisar pada rentang 1-10 %.

Proses ini tidak hanya menghasilkan estimasi yang kuat secara statistik, tetapi juga telah terbukti akurasinya : 21% jumlah TPS sampel Quickcount yang diambil dari total 2023 TPS se-Papua, hasil persentasenya selaras dengan perhitungan persentase real countkami yang telah mencapai total angka 90% dari data masuk berdasarkan C Hasil, bahkan selaras juga pada masing-masing Kota dan Kabupaten se-Papua.

Fakta ini memberi landasan kuat bagi klaim kemenangan, sekaligus membangun kepercayaan publik bahwa perhitungan bukanlah sekadar narasi, melainkan cerminan data lapangan.

Di era politik yang semakin cerdas, publik sudah tidak puas hanya dengan slogan “Kami unggul”. Mereka ingin tahu bagaimana kemenangan itu dihitung. Di sinilah metode ilmiah seperti Bootstrapping dan Simulasi Monte Carlo memainkan peran.

Metode Bootstrapping memungkinkan kita memperkirakan sebaran kemungkinan hasil dengan mengambil sampel ulang dari data yang ada, berkali-kali, untuk mengukur konsistensi keunggulan.

Sementara Simulasi Monte Carlo membawa pendekatan probabilistik yang lebih luas: menguji ratusan hingga ribuan  kemungkinan skenario berdasarkan distribusi suara yang terkumpul. Hasilnya bukan sekadar angka statis, tetapi peta probabilitas.

Pendekatan ini mengubah cara kita memaknai “informasi kemenangan”. Bukan lagi sekadar pernyataan sepihak, tetapi sebuah estimasi terukur yang bisa diuji, direplikasi, dan dipertanggungjawabkan. Kubu pemenang tetap mendapatkan efek psikologis positif: pendukung termotivasi, moral menguat. Namun, klaim ini juga memberi sinyal kepada lawan dengan cara yang lebih elegan — bukan intimidasi kosong, tetapi pesan bahwa data berada di pihak kita.

Lebih dari itu, metodologi ini mengangkat standar etika politik. Klaim kemenangan yang berbasis simulasi dan analisis statistik mendorong transparansi, mengurangi potensi disinformasi, dan menumbuhkan kepercayaan publik terhadap proses demokrasi.

Memang, tidak ada metode yang bebas dari kesalahan. Tetapi ketika publik diberi gambaran bahwa klaim kemenangan memiliki margin error, tingkat kepercayaan, dan sumber data yang jelas, proses demokrasi menjadi lebih sehat.

Akhirnya, kemenangan sejati bukan hanya tentang siapa yang lebih cepat mengklaim, tetapi siapa yang mampu membuktikan klaim itu dengan cara yang terukur. Politik akan selalu penuh drama, tetapi data memberi kita satu hal yang tidak bisa ditawar: kebenaran yang berbicara lewat angka. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *