Laurenzus Kadepa Kecam Pembakaran Mahkota Cenderawasih, Minta Pemerintah Susun Regulasi Perlindungan Burung Endemik Papua

Tokoh Politik Papua, Laurenzus Kadepa.
banner 120x600

JAYAPURA, Papuaterkini.com — Menyikapi aksi pembakaran mahkota burung Cenderawasih oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua yang menimbulkan kemarahan masyarakat, tokoh politik Tanah Papua, Laurenzus Kadepa, menyatakan penyesalannya dan meminta pemerintah menempuh langkah yang lebih bijaksana.

Menurut Laurenzus, meskipun ia mendukung langkah pemerintah dalam penertiban penggunaan atribut satwa dilindungi, tindakan membakar mahkota burung Cenderawasih tidak bisa dibenarkan.

“Saya pribadi mendukung langkah pemerintah dalam rangka penertiban, namun tidak dibenarkan dengan cara membakar mahkota Cenderawasih. Sekali lagi, membakar mahkota Cenderawasih itu tidak bisa dibenarkan!” tegas Laurenzus Kadepa, Rabu (23/10/2025).

Ia menilai, peristiwa tersebut seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat regulasi perlindungan terhadap burung Cenderawasih yang merupakan simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Papua.

Mantan Anggota DPR Papua ini mengusulkan tiga langkah strategis yang perlu segera dilakukan pemerintah bersama Majelis Rakyat Papua (MRP) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Papua, dengan melibatkan tokoh adat, akademisi, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Pertama, pemerintah perlu menyusun regulasi yang ketat untuk melindungi keberlanjutan populasi burung Cenderawasih dari ancaman kepunahan. Kedua, pemerintah diminta menghentikan dan mencabut seluruh izin investasi yang menyebabkan deforestasi di habitat alami burung Cenderawasih.

“Ketiga, kita perlu kembali pada kesadaran orang Papua. Selayaknya mahkota Cenderawasih diberikan kepada individu, kelompok, atau lembaga yang benar-benar berjasa dalam menjaga kelestarian alam dan berjiwa humanis, bukan kepada tokoh-tokoh politik yang justru merusak ekosistem,” ujarnya.

Laurenzus menegaskan bahwa mahkota burung Cenderawasih bukan sekadar hiasan, melainkan simbol kehormatan dan hubungan spiritual masyarakat Papua dengan alam. Karena itu, segala tindakan terhadap simbol tersebut harus dilakukan dengan penuh rasa hormat dan kearifan lokal.

Dengan pernyataannya, Laurenzus berharap kejadian serupa tidak terulang lagi, dan menjadi pelajaran penting bagi semua pihak dalam menjaga martabat budaya dan ekologi Tanah Papua. (bat)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *