PPS Satria Muda Indonesia Komda Papua Gelar TOT dan Ujian Kenaikan Tingkat

Gubernur Papua Matius D Fakhiri diwakili Plt Kadispora Laurenz Wantik didampingi Ketua Harian PP PPS Satria Muda Indonesia Ir Erizal Chaniago, Ketua IPSI Papua, Alfius Demena, Ketua Komda PPS Satria Muda Indonesia Papua Yanni, SH, MH, MSos dan Ketua Panitia Geovano Pattipawae membuka TOT dan Ujian Kenaikan Tingkat di Swiss-BelExpres, Kamis, 12 Februari 2026.
banner 120x600

JAYAPURA, Papuaterkini.com – Perguruan Pencak Silat (PPS) Satria Muda Indonesia Komda Papua menggelar Training of Trainer (TOT) dan Ujian Kenaikan Tingkat yang berlangsung di Hotel Swiss-BelExpress Kota Jayapura, Kamis, 12 Februari 2026.

Pembukaan TOT dan Ujian Kenaikan Tingkat ini, dibuka langsung Gubernur Papua Matius D Fakhiri diwakili Plt Kadispora Papua Laurenz Wantik didampingi Ketua Harian PP PPS Satria Muda Indonesia, Ir Erizal Chaniago, Ketua IPSI Papua, Alfius Demena, Ketua Komda PPS Satria Muda Indonesia, Yanni, SH, MH, MSos dan Ketua Panitia, Geovano Pattipawae.

Gubernur Papua Matius D Fakhiri dalam sambutannya yang disampaikan Plt Kadispora Papua, Laurenz Wantik menilai kegiatan ini memiliki makna strategis, bukan hanya bagi organisasi, tetapi juga bagi pembangunan karakter generasi muda Papua.

“Pencak Silat bukan sekedar olehraga atau bela diri, melainkan warisan budaya bangsa yang sarat dengan nilai disiplin, ketangguhan, penghormatan serta semangat persatuan,” katanya.

Menurutnya, kegiatan TOT dan Ujian Kenaikan Tingkat PPS Satria Muda Indonesia ini sangat relevan dan sejalan dengan agenda pembangunan Papua. Pertama, melalui pembinaan Pencak Silat yang terstruktur dan berjenjang, menunjukkan sedang berkontribusi pada peningkatan SDM Papua yang unggul dan inklusif.

“Seorang pesilat tidak hanya dituntt memiliki kekuatan fisik, tetapi juga kecerdsan emosional, kedisiplinan integritas dan jiwa kepemimpinan. Inilah karakter generasi muda Papua yang kita harapkan yakni tangguh, berdaya saing dan berakhlak,” ujarnya.

Kedua, nilai-nilai yang terkandung dalam pencak silat sangat mendukung pemantapan keamanan dan kedamaian yang harmonis. Ketiga, penyelenggaran kegiatan ini menunjukkan pentingnya penguatan tata kelola yang responsif dan kolaboratif antara pemda, organisasi olahraga dan seluruh pemangku kepentingan.

“Mari jadikan pencak silat sebagai wadah pembinaan karakter, penguat persaudaraan dan penggerak semangat Papua Cerah,” pungkasnya.

Ketua Harian PP PPS Satria Muda Indonesia, Ir Erizal Chaniago mengatakan, ‎Perguruan Pencak Silat Satria Muda Indonesia, termasuk perguruan besar di Indonesia di bawah IPSI dan KONI.

“Kita mengadakan TOT dan Ujian Kenaikan Tingkat ini, diikut peserta dari 6 provinsi atua Papua Raya, dengan tujuan meningkatkan kualitas pelatihnya dan naik tingkat,” katanya.

Dalam TOT ini, ujar Erizal, sekaligus menyampaikan peraturan perandingan terbaru IPSI yang akan digunakan dalam PON di NTB agar pelatih-pelatih Satria Muda Indonesia di Papua Raya memahami tentang peraturan tersebut.

“Jangan sampai atlet Papua kalah bertanding karena peraturan. Dia sudah latihan capek, tahu-tahu kalah akibat tidak memahami peraturan,” tandasnya.

Ketua Harian PPS Satria Muda Indonesia Ir Erizal Chaniago, Plt Kadispora Papua, Laurenz Wantik, Ketua Komda PPS Satria Muda Indonesia Papua, Yanni, SH, MH, MSos dan Ketua IPSI Papua, Alfius Demena foto bersama peserta usai pembukaan TOT dan Ujian Kenaikan Tingkat.

Selain itu, lanjutnya, tujuan utama kegiatan ini adalah konsolidasi organisasi terutama semangat para pelatih PPS Satria Muda Indonesia membangun anak-anak muda di Papua berlatih silat.

“Nah, TOT ini diikuti para pelatih PPS SMI di tingkat pendekar. Untuk itu, pelatihan ini khusus untuk pelatih agar bisa diterapkan pada pelatihan tentang peraturan, organisasi dan membentuk atlet serta lainnya, seperti managemen pelatihan, managemen organisasi dan peraturan pertandingan serta teknik bela diri praktis, silat tradisinya seperti apa, semua diberikan contoh dan dipraktekkan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Komda PPS Satria Muda Indonesia Provinsi Papua, Yanni, SH, MH, MSos mengungkapkan, PPS Satria Muda Indonesia dibentuk 1987 dan dicetuskan oleh Presiden Prabowo Subianto.

“Perguruan SMI sudah hampir 40 tahun dan sudah ada di seluruh pelosok tanah air,” katanya.

Dikatakan, Perguruan Pencak Silat SMI bukan sekedar melatih fisik, tetapi tujuan untuk membentuk karakter jiwa patriot untuk membela bangsa dan negara serta melestarikan budaya bangsa.

“Peserta harus bangga bahwa pencak silat adalah budaya bangsa milik kita sendiri. Dari seluruh perguruan yang ada, kita harus merasa bangga untuk kita ada pada pencak silat yang kita cintai, karena budaya bangsa ini harus kita lestarikan,” ujarnya.

“Pada kesempatan ini, kami berharap khusus untuk cabang pencak silat di Tanah Papua, kalau bisa untuk Pengprov IPSI dan perguruan-perguruan silat di Tanah Papua mohon bapak Presiden berkenan memberikan bantuan finansial kepada kami di Tanah Papua,” sambungnya.

Apalagi, ungkap Yanni, minat putra-putri Papua terhadap pencak silat sangat besar. Namun, saat ini terkendala finalsial ditengah turunnya fiskal daerah.

“Jika mendengar atlet Papua, provinsi lain gentar. Karena anak-anak Papua sudah diberkati dengan fisik yang luar biasa, tapi kami mohon jika memungkinkan khusus untuk 6 provinsi di Tanah Papua dapat disampaikan kepada Presiden melalui ketua umum, ditengah kondisi efisiensi anggaran,” ujarnya.

Namun demikian, Yanni yang merupakan mantan Anggota DPR Papua 4 periode ini mengaku yakin bahwa Papua bisa mencetak atlet-atlet yang bisa ditampil di tingkat nasional.

Ketua Panitia TOT dan Ujian Kenaikan Tingkat PPS SMI, Geovano Pattipawae mengatakan, perguruan SMI berupaya meningkatkan kualitas pelatih dan atlet di wilayah Papua Raya.

“Acara ini diikuti 50 peserta dari 6 provinsi di Tanah Papua, yakni Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Selatan, Papua Pegunungan dan Papua Tengah,” katanya.

“Peserta ini, bukan hanya perwakilan, tapi akan membawa ilmu pulang ke masing-masing daerah dari Pegunungan Baliem hingga Pesiri Raja Ampat. Kami optimis, acara ini akan melahirkan trainer atau pelatih yang berkualitas yang memperkuat posisi Papua sebagai lumbung atlet nasional,” imbuhnya. (bat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *