Uncen Gandeng RSUD Jayapura, Prodi Dokter Spesialis Anestesi Segera Dibuka di Papua
JAYAPURA, Papuaterkini.com – Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih (Uncen) bekerja sama dengan RSUD Jayapura akan membuka Program Studi (Prodi) Dokter Spesialis Anestesi sebagai langkah strategis memperkuat pelayanan kesehatan dan ketersediaan tenaga dokter spesialis di Papua.
Peluncuran prodi tersebut direncanakan berlangsung pada 27 Februari 2026, dan akan diresmikan oleh Gubernur Papua bersama Rektor Universitas Cenderawasih.
Wakil Gubernur Papua, Aryoko AF Rumaropen, mengatakan pembukaan program ini merupakan hasil rapat koordinasi antara Pemprov Papua, Fakultas Kedokteran Uncen, Dinas Kesehatan, serta sejumlah rumah sakit pendidikan di Jayapura.
“Inti pembahasan terkait program profesi dokter melalui kerja sama Uncen dan Pemprov Papua, khususnya melalui RSUD Jayapura sebagai rumah sakit pendidikan,” ujarnya usai rapat koordinasi, Jumat (13/2/2026).
Penyelesaian Program Koas dan Penguatan Rumah Sakit Pendidikan
Dalam rapat tersebut disepakati sejumlah poin penting, salah satunya penyelesaian program koas bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran yang sedang menjalani pendidikan klinik di RSUD Jayapura sesuai kurikulum yang berjalan.
Koordinasi antara pihak rumah sakit dan fakultas akan dilakukan melalui komite khusus untuk memastikan proses pendidikan dokter umum berjalan optimal hingga tahap ujian profesi.
Selain itu, RSUD Abepura akan dikembangkan sebagai rumah sakit pendidikan bagi program profesi dokter (koas), sementara RSUD Jayapura tetap menjadi rumah sakit utama sekaligus dipersiapkan sebagai pusat pendidikan program pascasarjana kedokteran.
“RSUD Jayapura akan mulai dikembangkan sebagai rumah sakit penyelenggara pendidikan spesialis, diawali dengan program spesialis anestesi dan ke depan akan diikuti program spesialis lainnya,” kata Aryoko.
Jawaban atas Kekurangan Dokter Spesialis di Papua
Direktur RSUD Jayapura, Andreas Pekey, menjelaskan bahwa Papua masih menghadapi kekurangan tenaga dokter umum maupun dokter spesialis, yang berdampak pada layanan kesehatan di sejumlah wilayah.
Ia mencontohkan kasus di mana rumah sakit tidak memiliki dokter kandungan atau dokter anestesi karena keterbatasan SDM dan minimnya tenaga cadangan.
“Untuk menjawab persoalan itu, kita harus membuka sekolah dokter spesialis. Jika berjalan baik, maka empat hingga lima tahun ke depan Papua bisa menghasilkan dokter spesialis sendiri,” ujarnya.
Menurut Andreas, selain program spesialis anestesi, ke depan direncanakan pembukaan beberapa program lainnya seperti spesialis bedah, kandungan, anak, dan penyakit dalam.
Momentum Pengembangan Pendidikan Kedokteran di Papua
Dekan Fakultas Kedokteran Uncen, Dr. Ineke Viviana Somelang, menyebut pembukaan prodi spesialis anestesi menjadi momentum bersejarah bagi pengembangan pendidikan kedokteran di Papua.
Ia menegaskan bahwa kerja sama antara RSUD Jayapura dan RSUD Abepura bertujuan memperkuat sistem pendidikan tanpa adanya pemindahan mahasiswa secara sepihak.
“Ini adalah momentum pertama pembukaan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Uncen, dimulai dari anestesi. Harapannya akan ada program spesialis lain setelah ini,” ujarnya.
Siapkan SDM Lokal untuk Layani Masyarakat Papua
Pemprov Papua menilai pengembangan pendidikan dokter spesialis menjadi langkah strategis untuk mencetak tenaga kesehatan dari putra-putri asli Papua agar mampu melayani masyarakat di daerahnya sendiri.
“Tidak mungkin kita terus bergantung pada dokter dari luar. Anak-anak Papua harus kita siapkan menjadi tenaga medis yang profesional,” kata Aryoko.
Dengan pembukaan prodi ini, diharapkan kebutuhan dokter spesialis di rumah sakit daerah hingga wilayah pelosok Papua dapat terpenuhi secara bertahap. (bat)














