FCS 2026, Kapolresta Maclarimboen: Jangan Sampai Generasi Kita Gigit Jari Melihat Sagu Punah di Papua

Kapolresta Jayapura Kota Kombes Pol Kombes Pol Fredrickus W.A. Maclarimboen bersama Ketua DPR Papua, Denny Henrry Bonai, Wakil Ketua I DPR Papua, Herlin Beatrix M Monim, Wakil Wali Kota Jayapura, H Rustan Sarru saat mengunjungi UMKM yang menawarkan produk olahan berbahan sagu dalam Festival Colo Sagu 2026 di halaman Kantor DPR Papua, Minggu, 21 Juni 2026.
banner 120x600

JAYAPURA, Papuaterkini.com – Kapolresta Jayapura Kota, Kombes Pol Fredrickus W.A. Maclarimboen, menegaskan pentingnya menjaga dan mengembangkan sagu sebagai identitas budaya sekaligus sumber ekonomi masyarakat Papua.

Hal tersebut disampaikannya saat pembukaan Festival Colo Sagu 2026 yang digelar di halaman Kantor DPR Papua, Kota Jayapura, Jumat (19/6/2026).

Menurut Kapolresta Fredrickus Maclarimboen, Festival Colo Sagu yang kini memasuki penyelenggaraan ketiga lahir dari kepedulian terhadap keberadaan sagu yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Papua.

“Kenapa kami buat ini? Pertama adalah panggilan hati saya juga. Orang Papua punya sagu banyak, tetapi orang Papua yang sukses dengan sagu tidak banyak. Orang Papua bangga makan papeda atau sagu, tapi sedikit yang peduli dengan sagu,” ujar Inisiator Colo Sagu ini.

Ia mengungkapkan, luas kawasan sagu di Papua terus mengalami penyusutan. Dari sekitar satu juta hektare yang pernah dimiliki, kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 700 ribu hektare.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peringatan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk lebih serius mengelola dan melestarikan potensi sagu sebagai kekayaan daerah.

“Sagu memang ada, artinya Tuhan sudah memberikan sagu di tanah ini yang melimpah dengan harapan kita yang tinggal dan berdiam di tanah ini berhikmat untuk mentransformasikan dia dari nilai-nilai kultural menjadi nilai-nilai ekonomi,” katanya Dewan Penasehat Yayasan Sagu Fondation ini.

Fredrickus Maclarimboen menilai sagu tidak boleh hanya dipandang sebagai warisan budaya semata, tetapi juga harus menjadi sumber kesejahteraan masyarakat Papua melalui pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal.

Dalam pelaksanaan Festival Colo Sagu 2026, panitia juga menggelar lomba esai dan makalah tentang sagu. Menariknya, sebagian besar peserta berasal dari luar Papua.

“Bahkan untuk tingkat mahasiswa, pemenangnya berasal dari kampus yang bukan berada di Tanah Papua. Ini menjadi catatan penting bagi kita yang ada di sini, kira-kira sagu mau dibawa ke mana? Hanya sebagai sekadar cerita atau sebagai sumber kehidupan bagi kita yang berdiam di tanah ini,” ujarnya.

Kapolresta berharap momentum festival tersebut dapat mendorong lahirnya regulasi yang lebih kuat terkait perlindungan dan pengembangan sagu di Papua.

Ia secara khusus meminta dukungan pimpinan DPR Papua untuk mendorong pembentukan kebijakan yang berpihak pada pelestarian sagu sebagai salah satu sumber pangan lokal.

“Saya berharap pimpinan DPR Papua dapat mendorong adanya regulasi yang berbicara tentang sagu ini, sehingga sagu bisa beriring bersama memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang berdiam di tanah ini,” katanya.

Selain itu, Fredrickus yang juga menjabat Ketua Penasehat Yayasan Sagu Foundation mengajak akademisi, pemerintah, dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam seminar sagu yang akan digelar di Universitas Cenderawasih.

Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak sangat diperlukan agar sagu tetap lestari dan mampu menjadi sumber kehidupan bagi generasi mendatang.

“Tuhan sudah memberikan sagu untuk memenuhi generasi terdahulu. Jangan sampai kita generasi sekarang dan generasi yang akan datang hanya gigit jari melihat sagu ini punah di tanah ini,” pungkasnya.(bat)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *