HUT RI ke-81, LMA Port Numbay: Kemerdekaan Harus Diisi dengan Pembangunan

Ketua LMA Port Numbay Georg Awie foto bersama warga dalma menyemarakan HUT RI ke 81.
banner 120x600

LMA Port Numbay: Kemerdekaan Bukan Sekadar Diterima, Harus Diisi dengan Kerja Keras dan Pembangunan

JAYAPURA, Papuaterkini.com — Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Port Numbay George Awi menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak boleh hanya dimaknai sebagai perayaan seremonial tahunan, tetapi harus diisi dengan kerja keras, pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Pesan tersebut disampaikan George Awi saat menggelar kegiatan bakti sosial dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di kediaman Keondoafian Nafri Warke, Tanah Hitam, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, Senin (17/8/2026).

Kegiatan tersebut mengusung tema “Kampung Meriah, Adat Kuat, Indonesia Bersatu” dan menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan, menjaga nilai-nilai adat dan budaya, serta menumbuhkan semangat kebersamaan sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

George Awi yang juga merupakan Ondoafi Nafri Warke mengatakan, usia kemerdekaan Indonesia yang telah mencapai 81 tahun harus menjadi bahan refleksi bagi seluruh masyarakat.

Menurutnya, kemerdekaan merupakan modal dasar yang harus dimanfaatkan untuk membangun bangsa dan daerah melalui kerja nyata.

“Kemerdekaan ini perlu diisi dengan pembangunan. Pembangunan itu dilaksanakan oleh manusia-manusia yang berkualitas. Bukan hanya kita terima saja. Itu hakikat atau arti sebenarnya kemerdekaan,” ujar Awi.

Kerja Keras Jadi Kunci Mengisi Kemerdekaan

George menilai masyarakat tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial dalam memperingati kemerdekaan. Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, seluruh elemen masyarakat dituntut untuk terus berkontribusi melalui kerja keras dan pembangunan.

Ia menekankan, kerja keras dalam mengisi kemerdekaan bukan hanya berkaitan dengan kehadiran dalam sebuah kegiatan, tetapi bagaimana setiap orang mengambil peran dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan negara.

“Kerja keras itu bukan dalam arti kalau kita undang jam 2 datang, jam 2 datang. Itu namanya kerja. Sekarang kita sudah 81 tahun, sekarang kita harus koneksi dan kerja keras untuk mengisi kemerdekaan itu,” tegasnya.

Menurutnya, pembangunan yang berkelanjutan membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Karena itu, pendidikan, kerja keras dan semangat untuk terus berkembang harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Perempuan Biak Jadi Contoh

Dalam kesempatan tersebut, George Awi juga memberikan apresiasi terhadap seorang perempuan asal Biak yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Ia menilai keberhasilan perempuan tersebut hingga mampu menempati posisi penting merupakan buah dari kerja keras, pendidikan dan perjuangan, bukan semata-mata karena faktor keturunan atau jabatan.

“Dia bisa begini bukan karena dia pembapat (pewaris/keturunan), tapi dia kerja keras sekolah, bantu tulang, sampai sukses begini. Ini memberikan contoh untuk Indonesia. Itu mengisi kemerdekaan,” jelasnya.

George menilai kisah tersebut dapat menjadi contoh bahwa setiap masyarakat memiliki kesempatan untuk berkontribusi bagi bangsa apabila memiliki kemauan untuk belajar, bekerja keras dan berjuang.

Ia juga berpesan agar generasi muda yang telah berhasil tetap menjaga sopan santun, adat istiadat dan nilai-nilai budaya.

“Dia harus jaga diri baik-baik, tahu sopan santun, tahu adat. Itu namanya mengisi kemerdekaan,” pungkasnya.

George berharap momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI dapat menjadi pengingat bagi masyarakat Papua, khususnya generasi muda, untuk terus berkarya, meningkatkan kualitas diri, menjaga adat dan budaya serta berkontribusi dalam pembangunan daerah.
(bat)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *