Kasus TBC dan Kusta di Numfor Masih Tinggi, Gubernur Fakhiri Minta Penanganan Diperkuat

Gubernur Papua Matius D Fakhiri melihat langsung pelayanan kesehatan di Puskesmas Yenburwo, dalam kunjungan kerjanya di Kabupaten Biak Numfor, Kamis, 21 Mei 2026.
banner 120x600

NUMFOR, Papuaterkini.com – Gubernur Papua Matius D. Fakhiri menyoroti tingginya kasus tuberkulosis (TBC) paru dan kusta di wilayah Kepulauan Numfor.

Ia meminta pemerintah daerah hingga tokoh gereja memperkuat perhatian terhadap penanganan kesehatan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Fakhiri saat berdialog dengan masyarakat di Kampung Yenbepon, Kabupaten Biak Numfor, Kamis (21/5/2026).

“Tadi saya tanya kepada Wakil Bupati, di sini malaria sudah mulai berkurang, tetapi TBC paru masih tinggi dan juga ada penyakit kusta,” kata Fakhiri.

Menurutnya, persoalan kesehatan harus menjadi perhatian serius karena berkaitan langsung dengan kualitas hidup masyarakat dan masa depan generasi muda Papua.

“Ini tugas pemerintah dari kampung sampai provinsi untuk membantu masyarakat,” ujarnya.

Gubernur Fakhiri mengatakan Pemerintah Provinsi Papua akan menurunkan tenaga kesehatan untuk membantu melakukan deteksi dini sekaligus pengobatan bagi masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan.

“Nanti tenaga kesehatan akan kami turunkan untuk mencari, menemukan, dan mengobati masyarakat yang sakit,” katanya.

Ia menilai penyakit menular seperti TBC dan kusta perlu ditangani secara serius agar tidak menimbulkan dampak jangka panjang terhadap masyarakat.

“Kalau penyakit-penyakit ini tidak kita atasi, lama-lama generasi muda orang asli Papua bisa makin berkurang,” ucapnya.

Selain itu, Gubernur Papua juga meminta para pendeta dan tokoh gereja untuk turut mengambil peran melalui edukasi kesehatan kepada masyarakat.

“Saya juga titip kepada para pendeta dan tokoh gereja supaya lewat mimbar gereja disampaikan pentingnya menjaga kesehatan,” kata Fakhiri.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung pentingnya peningkatan jumlah penduduk Papua karena jumlah penduduk menjadi salah satu faktor yang memengaruhi besaran dana transfer pemerintah pusat ke daerah.

“Kalau jumlah orang Papua tidak bertambah, maka anggaran juga tetap kecil,” ujarnya.

Gubernur Fakhiri menambahkan, keterbatasan anggaran yang dimiliki Papua saat ini harus mendorong pemerintah lebih fokus pada sektor-sektor mendasar seperti kesehatan, ekonomi masyarakat, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. (bat)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *