Oleh: Laurenzus Kadepa*
Mantan Anggota DPR Papua 2014–2024
Pemerhati Ekonomi Sosial Politik dan Aktivis Buruh Papua
Elvis Tabuni dan Makna Kepemimpinan Papua
Papua membutuhkan lebih dari sekadar pejabat publik. Papua membutuhkan pemimpin yang memahami denyut kehidupan masyarakatnya, mengerti adat istiadat, mampu berbicara di ruang politik, sekaligus hadir di tengah rakyat saat menghadapi persoalan kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks itu, sosok Elvis Tabuni menarik untuk dicermati. Bupati Puncak periode 2025–2030 ini tidak hanya dikenal sebagai kepala daerah, tetapi juga sebagai kepala suku, politisi, dan tokoh masyarakat yang memiliki perjalanan panjang dalam dunia pemerintahan dan politik Papua.
Lahir pada 11 Desember 1967, Elvis Tabuni menempuh jenjang pengabdian yang tidak singkat. Kariernya dimulai dari Hansip, kemudian menjadi Kepala Desa, anggota DPRD Kabupaten, anggota DPR Papua, hingga akhirnya dipercaya masyarakat menjadi Bupati Puncak.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak lahir secara instan, melainkan dibentuk melalui proses panjang, pengalaman lapangan, dan interaksi langsung dengan masyarakat.
Bupati yang Berupaya Hadir di Tengah Rakyat
Sebagai Bupati Puncak, Elvis Tabuni menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kabupaten Puncak merupakan salah satu daerah yang kerap menghadapi persoalan keamanan, keterbatasan akses layanan dasar, serta tantangan pembangunan di wilayah pegunungan Papua.
Dalam berbagai kesempatan, Elvis Tabuni terlihat berupaya hadir langsung di tengah masyarakat. Baginya, jabatan bupati bukan sekadar posisi administratif, melainkan amanah untuk memastikan negara tetap hadir bagi rakyat.
Sikap tersebut tercermin dari perhatian terhadap sektor pendidikan dan kesejahteraan tenaga honorer yang selama ini menjadi tulang punggung pelayanan publik di daerah.
Dalam perspektif kepemimpinan, seorang kepala daerah tidak diukur dari seberapa besar kewenangan yang dimiliki, melainkan seberapa besar keberpihakannya kepada masyarakat yang dipimpinnya.
Politisi yang Tumbuh dari Bawah
Elvis Tabuni juga merupakan politisi yang lahir dari proses panjang di akar rumput. Pengalamannya selama puluhan tahun di lembaga legislatif tingkat kabupaten maupun provinsi memberinya pemahaman yang kuat tentang kebutuhan masyarakat Papua.
Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa pembangunan Papua tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan dari atas. Diperlukan komunikasi yang intensif dengan pemerintah pusat, kementerian, maupun berbagai pemangku kepentingan agar kebutuhan pembangunan daerah dapat terakomodasi.
Dalam perjalanan politiknya, Elvis Tabuni dikenal sebagai figur yang kerap menyuarakan pentingnya pendidikan, kesehatan, dan pelayanan dasar sebagai fondasi pembangunan masyarakat Papua.
Politik, dalam pandangan seperti ini, bukan semata-mata soal kekuasaan, tetapi sarana memperjuangkan kepentingan rakyat melalui jalur kebijakan.
Kepala Suku yang Menjaga Identitas Papua
Di luar jabatan formal pemerintahan, Elvis Tabuni juga memegang peran penting sebagai kepala suku.
Dalam masyarakat Papua, posisi kepala suku memiliki makna yang jauh lebih luas dibandingkan struktur birokrasi pemerintahan. Kepala suku merupakan simbol penjaga nilai, adat istiadat, serta identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial yang begitu cepat, menjaga identitas budaya menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, peran tokoh adat menjadi penting untuk memastikan pembangunan tetap berjalan tanpa menghilangkan akar budaya masyarakat Papua.
Modernisasi dan pembangunan memang diperlukan, tetapi keduanya harus tetap menghormati nilai-nilai adat dan hak-hak masyarakat adat sebagai pemilik tanah dan budaya Papua.
Tokoh yang Lahir dari Keberpihakan
Tidak semua pejabat otomatis menjadi tokoh. Jabatan bisa berakhir karena masa tugas, tetapi ketokohan lahir dari kepercayaan masyarakat yang dibangun dalam waktu lama.
Dalam konteks Papua, seorang tokoh biasanya dikenang karena keberanian mengambil sikap, kedekatan dengan rakyat, serta kemampuannya menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah.
Ketokohan Elvis Tabuni dibentuk oleh kombinasi berbagai peran yang dijalaninya selama ini: sebagai kepala suku, politisi, dan kepala daerah.
Kepercayaan masyarakat tidak lahir dari gelar atau jabatan, melainkan dari konsistensi dalam memperjuangkan kepentingan rakyat serta kesediaan untuk tetap hadir saat masyarakat menghadapi kesulitan.
Refleksi bagi Generasi Muda Papua
Sosok Elvis Tabuni memberikan pelajaran penting bagi generasi muda Papua bahwa kepemimpinan bukan tentang kemewahan jabatan atau simbol kekuasaan.
Kepemimpinan adalah keberanian untuk mengambil tanggung jawab, keberanian untuk berpihak kepada rakyat, dan keberanian menghadapi berbagai tantangan demi kepentingan masyarakat.
Papua adalah daerah yang kaya akan sumber daya alam, tetapi juga menghadapi tantangan sosial, ekonomi, pendidikan, dan keamanan yang kompleks. Karena itu, pemimpin Papua masa depan dituntut memiliki kemampuan membangun kolaborasi, menjaga identitas budaya, sekaligus menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.
Pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pernah menjadi pejabat. Sejarah lebih mengingat mereka yang mampu meninggalkan jejak pengabdian dan membawa perubahan nyata bagi kehidupan rakyat.
Elvis Tabuni masih akan diuji oleh perjalanan kepemimpinannya sebagai Bupati Puncak. Namun satu hal yang dapat menjadi refleksi bersama, bahwa kepemimpinan yang berakar pada rakyat, adat, dan keberanian mengambil sikap akan selalu memiliki tempat dalam perjalanan sejarah Papua. (*)















