Reses Yacob Ingratubun di BTN Puskopad, Warga Keluhkan Minyak Tanah dan Air Bersih

Ketua Komisi III DPR Papua, Drs Yacob Ingratubun, MM saat reses di BTN Atas Puskopad, Abepura, Kota Jayapura.
banner 120x600

JAYAPURA, Papuaterkini.com – Sejumlah persoalan pelayanan dasar dan kondisi ekonomi disampaikan masyarakat saat reses Anggota DPR Papua, Drs Yacob Ingratubun, MM di BTN Puskopad Atas, RT 02/RW 16, Kelurahan Awiyo, Distrik Abepura, Kota Jayapura.

Dalam reses tersebut, warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan minyak tanah, berkurangnya durasi aliran air bersih dari PT Air Minum Jayapura (AMJ) Robongholo Nanwani, pembangunan jalan dan pagar lingkungan, hingga menurunnya pendapatan tukang ojek akibat semakin banyaknya layanan ojek online.

Ketua RT 02/RW 16, Yeyen Mustari, mengatakan kelangkaan minyak tanah menjadi salah satu persoalan yang cukup dirasakan masyarakat di kompleks tersebut.

“Warga di sini mencari minyak tanah susah. Kadang kalau sudah dapat, harganya juga mahal,” ungkap Yeyen.

Ketua Komisi III DPR Papua, Yacob Ingratubun menyerahkan bantuan bama kepada warga BTN Puskopad Abepura.

Menurutnya, di kompleks BTN Puskopad Atas terdapat dua tempat yang biasanya menjual minyak tanah. Namun, keberadaan dua agen tersebut dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga.

Yeyen menduga kondisi tersebut antara lain dipengaruhi oleh warga dari luar kompleks yang turut membeli minyak tanah di agen atau pangkalan yang berada di lingkungan tersebut.

Meski demikian, kata Yeyen, sejumlah pelayanan dasar lainnya di lingkungan BTN Puskopad tetap berjalan. Warga juga masih membutuhkan pembangunan pagar kompleks dan peningkatan jalan lingkungan.

Ketua Komisi III DPR Papua Drs Yacob Ingratubun MM menyerahkan bama kepada warga BTN Puskopad Atas dalam reses.

Warga Keluhkan Air Hanya Mengalir 1,5 Jam

Keluhan lain datang dari warga terkait pelayanan air bersih. Dessy, salah seorang warga, mengatakan durasi aliran air dari PT AMJ Robongholo Nanwani saat ini semakin berkurang.

Menurutnya, air bersih hanya mengalir sekitar dua kali dalam seminggu dengan durasi sekitar 1,5 jam. Kondisi tersebut dinilai belum mencukupi kebutuhan rumah tangga.

“Kami berharap waktu aliran air ditambah. Paling tidak, empat jam mengalir. Karena air kurang, kami terpaksa harus membeli. Padahal pembayaran air kami rutin,” ujar Dessy.

Selain persoalan minyak tanah dan air bersih, warga turut menyampaikan keluhan terkait keamanan dan kondisi ekonomi yang dinilai belum stabil.

Keberadaan transportasi berbasis aplikasi atau ojek online juga menjadi perhatian warga, terutama bagi pengemudi ojek lingkungan yang mengaku mengalami penurunan pendapatan.

Ketua Komisi III DPR Papua, Drs Yacob Ingratubun, MM foto bersama warga usai kegiatan reses.

Yacob: Aspirasi Warga Harus Ditindaklanjuti

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Yacob Ingratubun yang juga Ketua Komisi III DPR Papua ini mengatakan kegiatan reses menjadi momentum penting bagi anggota legislatif untuk turun langsung dan melihat kondisi masyarakat.

“Kalau kita sering terjun ke masyarakat, kita bisa memahami dan mengerti secara nyata masalah yang dihadapi masyarakat. Dalam kegiatan reses kedua ini, banyak persoalan yang disampaikan masyarakat,” kata politisi Partai Golkar tersebut.

Yacob, yang akrab disapa Yopi Ingratubun, mengatakan berbagai persoalan yang disampaikan warga membutuhkan perhatian pemerintah, baik Pemerintah Kota Jayapura maupun Pemerintah Provinsi Papua.

Menurutnya, sejumlah aspirasi juga berkaitan dengan instansi atau pihak terkait, termasuk PT AMJ Robongholo Nanwani dan Pertamina.

Ia mengatakan masyarakat juga mengeluhkan kondisi ekonomi yang belum stabil. Perputaran uang di tengah masyarakat dinilai tidak menentu dan turut memengaruhi aktivitas ekonomi warga.

“Termasuk ada persoalan monopoli terkait transportasi, seperti Grab dan Maxim, sehingga ojek-ojek lingkungan banyak yang mati,” ujarnya.

Terkait pelayanan air bersih, Yacob mengatakan warga mengeluhkan semakin pendeknya durasi pengaliran air.

Jika sebelumnya air dapat mengalir selama beberapa jam, warga kini mengaku hanya memperoleh pasokan sekitar satu hingga satu setengah jam pada jadwal tertentu.

Menurutnya, warga berharap distribusi air dapat diperbaiki. Jika pelayanan belum memungkinkan dilakukan setiap hari, maka durasi pengaliran perlu diperpanjang atau frekuensinya ditambah.

“Kalau hanya dua kali dalam seminggu, masyarakat meminta waktunya diperpanjang. Atau paling tidak seminggu tiga kali,” katanya.

Ketua Komisi III DPR Papua Drs Yacob Ingratubun, MM foto bersama warga BTN Puskopad Atas Abepura usai reses.

Persoalan minyak tanah juga menjadi perhatian Yacob. Ia mengatakan masyarakat tidak hanya kesulitan memperoleh minyak tanah, tetapi juga menghadapi persoalan harga yang dinilai cukup tinggi ketika membeli di tingkat pengecer.

Yacob menegaskan seluruh aspirasi masyarakat yang disampaikan dalam kegiatan reses akan diteruskan kepada pemerintah sebagai bahan perhatian dan evaluasi dalam menentukan kebijakan.

“Pada prinsipnya, kita hanya meneruskan apa yang disampaikan masyarakat. Termasuk masalah minyak tanah yang sekarang sulit didapat. Ini menjadi perhatian pemerintah, baik pemerintah kota maupun pemerintah provinsi, untuk menjawab aspirasi masyarakat sesuai dengan kemampuan keuangan daerah,” tegasnya.

Ia berharap aspirasi masyarakat tidak berhenti pada forum reses, tetapi dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam meningkatkan pelayanan dasar dan menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Masyarakat BTN Puskopad berharap persoalan air bersih, ketersediaan minyak tanah, keamanan, kondisi ekonomi, serta transportasi dapat segera mendapat perhatian dan tindak lanjut dari pemerintah sesuai kewenangan dan kemampuan keuangan daerah.

Dalam kesempatan reses ini, Yocob Ingratubun memberikan bantuan bahan makanan (bama) kepada warga. (bat)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *