Danau Sentani Antarkan Praktisi Pariwisata Raih Doktor

Rektor Uncen Jayapura, DR. Ir Apolos Safanpo memberikan selamat kepada DR. Drs Joko Sunaryo usai menyelesaikan Ujian Promosi Doktor, baru-baru ini.

JAYAPURA, Papuaterkini.com  – Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, ternyata mampu menghantarkan Joko Sunaryo, seorang praktisi pariwisata di Papua berhasil meraih gelar Doktor dari Universitas Cenderawasih Jayapura.

Hal itu berdasarkan hasil Ujian Terbuka Promosi Doktor, Joko Sunaryo berhasil mempertahankan desertasinya pada Program Studi Ilmu Sosial S3, dengan judul Model Kebijakan Pemberdayaan Masyarakat Asli Sentani Berbasis Pariwisata Danau dihadapan 11 dewan penguji di Auditorium Uncen Jayapura, Kamis (31/5).

Bahkan, tim penguji akhirnya memberikan nilai sangat memuaskan yakni IKP 3,65 kepada praktisi pariwisata di Papua ini.

Tim penguji ini, terdiri dari Rektor Uncen Jayapura, Dr Ir Apolos Safanpo, ST, MT, Rektor Uncen, Ketua Tim Penguji, Prof DR Yohanes Rante, MSi, Promotor Prof DR Drs Agustinus Fatem, MT dan anggota tim penguji, DR Ana Nadya A, DR Yosepina Ahaiwutun, MSi, Prof DR Drs Akbar Silo, Dr Mesakik, SE, MSi, Elisabeth Wambrauw ST, MT, DR Drs Enos Rumansara, MSi, DR Agapitus Dumatubun, MSi dan DR Timotius Demotauw, SE, MSi.

“Tim penguji telah melakukan klarifikasi dan pertanyaan dan setelah mendengar dan menimbang jawaban jawaban tersebut, dan mengacu keputusan Rektor, maka dengan ini tim penguji menetapkan Joko Sunaryo dinyatakan lulus dengan IPK 3,65 atau predikat sangat memuaskan,“ kata Prof Yohanes Rante.

DR Drs Joko Sunaryo, MSi dalam pidatonya mengaku bangga jika gelar dokterandus yang diperolehnya telah disepurnakan menjadi doktor oleh Uncen Jayapura.

“Inilah yang jadi kebanggaan saya. Seorang doktor hendaknya berpikir bijak dan mencari kebenaran. Pada awalnya seorang doktor berpikir ilmu tak berujung, sehingga ingin menggali pengetahuan demi mencari kebenaran melalui pengetahuan. Seluruh proses ini sudah saya tempuh, sehingga gelar doktor ini saya peroleh,“ katanya.

Joko Sunaryo memang hanya menumpang lagir di Salatiga, Jawa Tengah, namun ia dibesarkan di kawasan Danau Sentani, darah dagingnya tumbuh dari hasil Danau Sentani.

Ini lah yang menyebabkannya, ingin membalas segala kebaikan alam Danau Sentani menjadi sesuatu yang bernilai bagi penghuninya yang selalu setia menerima kenyataan diatas segala misteri yang dikandungnya.

Siapa saja yang memandang danau Sentani pasti mengatakan danau ini sangat indah. Apalagi, jika menikmati Danau Sentani dari tempat ketinggian bukit yang ada di sekitar danau, rasanya tidak mau kehilangan moment itu.

Kunjungan Wisatawan ke Papua Turun

Drs Joko Sunaryo, MSi ketika berhadapan dengan dewan penguji Ujian Promosi Doktor di Auditorium Uncen Jayapura, baru-baru ini.

Namun, Joko Sunaryo mengaku terusik dan terus bertanya tentang pengembangan wisata Danau Sentani ini, setelah terjadi penurunan kunjungan wisatawan. Bahkan, sejumlah turis yang tiga kali dihandlenya berwisata di Papua, mengakui tidak ada perubahan signifikan terhadap Danau Sentani tersebut, tapi tetap sama sejak 1990 turis itu tur ke Papua mulai dari Asmat hingga berakhir di Danau Sentani.

“Ada seorang wisatawan dari Amerika yang pertama kali mengunjungi Indonesia tahun 1990 dan mengadakan tur di Papua selama dua bulan. Dimulai dari Asmat, berakhir di Danau Sentani. Wisatawan ini sangat menikmati alam dan panorama danau,“ katanya.

Pada tahun 2006 kembali mengunjungi Danau Sentani, kali ini dia mengitari keberadaan masyarakat Danau Sentani, tetapi masih seperti yang dulu.

“Dan pada tahun 2015, kembali berkunjung ke Danau Sentani, dia kecewa dengan kondisi yang tidak banyak berubah. Kenyataan ini memicu saya untuk mencari apa yang penyebab, kenapa pariwisata Danau Sentani ini tidak sustainable atau tidak berkesinambungan,“ katanya.

Padahal, kata Joko, mestinya pariwisata itu hidup seperti nadi, tidak pernah berhenti dan tidak boleh mati. Berangkat dari keprehatinan itu, Joko Sunaryo kemudian melakukan kajian terhadap masalah itu.

“Saya bukan pemerhati pariwisata, tapi saya seorang praktisi pariwisata itu yang membuat sehingga tinggal kepekaan saya terhadap setiap perkembangan pariwisata di Papua,“ katanya.

Apalagi, ungkap Joko Sunaryo, fakta membuktikan pariwisata di Papua masa boomingnya terjadi pada tahun 1985 – 1996. Setelah reformasi dan masuk era Otonomi Khusus (Otsus) justru pariwisata di Papua menurun ke titik yang sangat mengkhawatirkan dan sulit untuk bangkit kembali.

Joko Sunaryo mengilustrasikan jika sebelum pencanangan Indonesia Visit Year tahun 1990, masyarakat Asmat sangat makmur atas keberadaan pariwisata. Seluruh kampung di Asmat menjadi tempat kunjungan pariwisata eksklusif, masyarakatnya bisa hidup dari aktivitas pariwisata, tidak pernah mengharapkan raskin karena mereka bisa mandiri, dengan mengukir patung, menyuguhkan tari-tarian bagi wisatawan, rumah-rumah adat selalu menjadi home stay bagi wisatawan.

Begitu pula wilayah Pegunungan seperti Baliem Valey atau Kota Wamena, hampir menyamai Bali saat itu, sebab yang terlihat turis asing dimana-mana, dan seluruh hunian hotel penuh. Bahkan, home stay di kampung-kampung sudah terbooking.

Namun, kata Joko Sunaryo, situasi itu tidak bisa dijumpai lagi di Asmat dan Wamena saat ini. Belum lagi dampak-dampak sosial akibat menurunnya dampak pariwisata di kedua daerah itu.

Begitu pula pariwisata Danau Sentani, tidak jauh berbeda. “Saya hanya seorang yang bisa mengamati dari balik jendela Otsus ada yang belum tepat dengan kebijakan pariwisata di Papua. Danau Sentani bagi saya sebagai modal untuk dijadikan obyek kajian untuk memajukan pariwisata di Papua,“ katanya.

Ia berharap seluruh stakeholder bahu membahu menjadikan Danau Sentani menjadi icon kebangkitan pariwisata di Papua dan kita kembalikan kejayaan pariwisata di Papua dimasa lampau.

“Danau Sentani menyimpan banyak misteri yang harus dipecahkan, untuk melahirkan doktor-doktor baru setelah saya. Kami harap ini ditindaklanjuti untuk memajukan pariwisata di Jayapura dan Papua, apalagi tidak banyak peneliti yang meneliti pariwisata Papua, sehingga referensinya kurang,“ imbuhnya.

Rektor Uncen Jayapura, DR Ir Apolos Safanpo, MMT mengatakan, untuk dapat dinyatakan sebagai lulusan yang sah dari suatu perguruan tinggi, maka seseorang harus memiliki tiga persyaratan, yakni substansi, proses dan kewenangan.

“Maka berdasarkan itu, saudara Joko Sunaryo dinyatakan sah diluluskan Universitas Cenderawasih. Oleh karena itu, atas nama keluarga besar Cenderawasih, saya menyampaikan terima kasih banyak direktur program pasca sarjana, ketua program ilmu sosial, para promotor dan dewan penguji sehingga menghasilkan doktor baru,“ imbuhnya. (bat)

Tinggalkan Balasan