banner 728x250

Kunjungi Bank Sampah Bali Wastu Lestari, BI Dorong Bisa Diimplementasikan di Papua

Ketua Yayasan Bali Wastu Lestari yang juga Sekjen Asosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI) Ni Wayan Riawati menjelaskan proses pengolahan sampah kepada Kepala Perwakilan BI Papua, Juli Budi Winantya dan wartawan Papua dalam kunjungan ke Bank Sampah Bali Wastu Lestari.
banner 120x600
banner 468x60

BALI, Papuaterkini.com – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Juli Budi Winantya bersama 25 wartawan Papua mengunjungi Bank Sampah Induk Bali Wastu Lestari dalam kegiatan Capacity Building Wartawan Papua yang digelar di Bali, 10 – 12 Juni 2022.

Kunjungan ke Bank Sampah Induk Bali Wastu Lestari yang terletak Jl A Yani Utara, Gg Garuda No 1, Br. Dakdakan Peguyangan – Denpasar ini, disambut oleh Kepala UPT Pengolahan Sampah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Budita, SH, Ketua Asosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI) DPD Kota Denpasar, I Nyoman Arianto dan Ketua Yayasan Bali Wastu Lestari yang juga Sekjen ASOBSI, Ni Wayan Riawati, SE, MSi.

banner 325x300

<span;>Ketua Yayasan Bali Wastu Lestari, Ni Wayan Riawati memaparkan mengenai pengelolaan sampah mulai dari skup terkecil di rumah tangga tentunya secara mandiri dan melalui Bank Sampah yang ada dapat diwujudkan menjadi Bank Sampah Berbasis Masyarakat yang artinya dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat.

Apalagi, kata Ni Wayan Riawati, melihat jumlah TPA dan daya tampungnya yang ada saat ini di Bali sudah tidak memungkinkan lagi, karena sampah akan terus ada dan tidak pernah habis, maka dari itu mulai dari sejak dini bersama-sama mengupayakan sampah harus habis di sumbernya, dengan cara memilah sampah itu.

“Bank Sampah ini mampu menggerakan masyarakat untuk peduli dengan lingkungan, menjadi sarana sosialisasi juga kepada masyarakat untuk mengurangi jumlah timbunan sampah,” ujarnya.

Ditambahkan, Bank Sampah juga bisa mendorong ekonomi kreatif bagi warga dan memberikan penghasilan bagi masyarakat yang menyetorkan sampah mereka setelah dipilah ke Bank Sampah yang ada.

Sementara itu, Kepala UPT Pengolahan Sampah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Buditha menjelaskan, jika pihaknya tengah fokus terhadap pengelolaan sampah yang ada di bank sampah dan melakukan kerjasama dengan Asosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI) yang ada di kota dan kabupaten di Bali.

Menurutnya, di Provinsi Bali memberikan dukungan terhadap pengembangan Bank Sampah, termasuk mendorong terbentuknya ASOBSI di masing-masing kabupaten/kota.

“Jadi, kita setiap tahun telah membuat SK Penetapan dari jumlah bank sampah yang ada di Kota Denpasar. Tahun 2020 berjumlah 100 bank sampah, 2021 ada 224 dan di tahun 2022 ada sekitar 317 yang ada di Kota Denpasar,” katanya.

Diakui, bank sampah ini sangat membantu pemerintah dalam mengurangi sampah yang di kota, khususnya sampah organik. Selain itu, pemerintah telah mengeluarkan regulasi terkait pemilahan sampah dari sumber.

“Dengan adanya proses pemilahan sampah itu, secara tidak langsung juga ada nilai ekonomi yang didapatkan oleh masyarakat,” katanya.

Selain, imbuhnya, pemerintah daerah menggalakkan di RT/RW, bank sampah juga digalakkan di sekolah dengan tujuan meregenerasi kebiasaan mengolah sampah sejak usai dini.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Juli Budi Winantya mendorong program Bank Sampah dapat diimplementasikan di Provinsi Papua.

“Kunjungan ke Bank Sampah ini, bagaimana melihat pemerintah daerah di Bali mengelola sampah. Jadi, ini menjadi bekal memperkaya teman-teman wartawan dalam penulisan berita, sekaligus bisa mendorong implementasi yang sama di Papua, hal serupa ini bisa diterapkan di Papua dalam pengeloaan sampah dan pentingnya mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru,” kata Juli.

Bank Indonesia telah mendorong program tersebut bisa dilakukan di Papua dan berdasarkan komunikasi dengan beberapa stakeholder terutama BNI 46 Wilayah XVI Papua dan Papua Barat telah menginisiasi program bank sampah di Kota Merauke.

Juli menjelaskan, Green Ekonomi atau ekonomi berwawasan lingkungan mulai ditanamkan melalui perubahan ekonomi linear (beli, gunakan, dan buang) ke ekonomi sirkular (produksi, gunakan dan buang).

“Jadi, ekonomi linear kita mengambil sumber daya terus menggunakannya kemudian membuang atau tidak dipergunakan lagi menjadi ekonomi sirkular, yakni resources itu kita pakai, kemudian setelah masanya habis kita daur ulang dan Bank Sampah Wastu Lestari inilah yang merupakan bentuk dari sirkular ekonomi,” imbuhnya. (bat)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.