JAYAPURA, Papuaterkini.com — Akademisi Papua, Titus Pekei menegaskan pentingnya mempertahankan pendidikan ekologi berbasis Noken Papua di tengah arus globalisasi sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus identitas budaya masyarakat adat Papua.
Menurut Titus Pekei, Noken bukan sekadar tas tradisional, melainkan simbol kehidupan, kesuburan, persatuan, dan filosofi hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Noken juga telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dunia sejak 2012.
“Pendidikan ekologi berbasis Noken Papua merupakan langkah penting untuk mengintegrasikan kearifan lokal dengan sistem pembelajaran modern agar generasi muda tetap memahami budaya dan menjaga lingkungan,” ujar Titus Pekei dalam keterangannya yang dibagikan dan dimediasi oleh Agus G. Mote.
Ia menjelaskan, proses pembuatan Noken mengandung nilai ekologis yang tinggi karena menggunakan bahan alami seperti serat kulit kayu, pelepah pandan rawa, hingga kulit pohon anggrek yang diambil tanpa merusak ekosistem hutan.
Menurutnya, konsep tersebut dapat dijadikan media pembelajaran berbasis etnobotani di sekolah-sekolah, khususnya dalam mata pelajaran biologi dan pendidikan lingkungan hidup.
“Melalui pendidikan berbasis Noken, siswa tidak hanya belajar teknik menganyam, tetapi juga memahami jenis tumbuhan lokal dan pentingnya menjaga keberlanjutan hutan Papua,” katanya.
Titus Pekei menilai globalisasi menjadi tantangan tersendiri bagi pelestarian Noken karena generasi muda mulai beralih menggunakan produk modern dan meninggalkan budaya tradisional.
Namun demikian, ia melihat peluang besar bagi Noken untuk berkembang sebagai produk ekonomi kreatif yang dapat dipadukan dengan industri fesyen modern tanpa meninggalkan nilai budaya dan ekologinya.
“Noken bisa menjadi simbol identitas Papua di tingkat internasional sekaligus produk ekonomi kreatif yang ramah lingkungan,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah melalui regulasi pelestarian budaya, seperti kebijakan penggunaan Noken pada hari-hari tertentu maupun integrasi pendidikan budaya lokal dalam kurikulum sekolah.
Titus Pekei juga menyoroti peran penting mama-mama Papua dalam mewariskan keterampilan merajut Noken secara turun-temurun kepada generasi muda.
“Mama-mama Papua adalah guru utama dalam menjaga tradisi dan mengajarkan nilai perlindungan hutan kepada anak-anak Papua,” katanya.
Ia berharap pendidikan ekologi berbasis Noken dapat terus dikembangkan agar masyarakat Papua tetap berakar pada budaya lokal di tengah perkembangan globalisasi dan modernisasi. (bat)














