Kasus DBD di Biak Numfor Tembus 128 Kasus, Fogging Digencarkan

Pelaksanaan fogging oleh Dinas Kesehatan bersama Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas II Biak dan Puskesmas Sumberker untuk menekan populasi nyamuk Aedes Aegypti. (Foto: Yuni Bontong)
banner 120x600

BIAK, Papuaterkini.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Biak Numfor, Papua, terus meningkat. Hingga awal Agustus 2026, tercatat 128 kasus DBD dengan satu kasus kematian.

Menyikapi peningkatan tersebut, Dinas Kesehatan bersama Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas II Biak dan Puskesmas Sumberker melakukan fogging di kawasan Kompi C dan Kosek III Biak, Jumat (7/8/2026).

Fogging dilakukan untuk menekan populasi nyamuk Aedes aegypti sekaligus mencegah penyebaran DBD, terutama di lokasi yang dinilai berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Arinius Weya, mengatakan sebelumnya jumlah kasus DBD di Biak Numfor tercatat 121 kasus.

Namun, berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi, ditemukan tambahan tujuh kasus sehingga total kasus mencapai 128.

“Setelah dilakukan penyelidikan epidemiologi, kami mendapatkan tambahan tujuh kasus sehingga jumlahnya menjadi 128 kasus,” ujar Arinius.

Menurut Arinius, peningkatan kasus DBD perlu menjadi perhatian bersama. Kepadatan penduduk dan kondisi lingkungan menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi penyebaran penyakit tersebut.

Ia mengimbau masyarakat rutin menjaga kebersihan lingkungan dan menghilangkan genangan air di sekitar rumah yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Kasus Meningkat Sejak Maret

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Biak Numfor, Lukas Linggih, mengatakan peningkatan kasus DBD mulai terjadi sejak Maret 2026 dan hingga kini belum mencapai puncaknya.

“Kasus mulai meningkat sejak minggu pertama Maret hingga sekarang. Ini mungkin belum puncak dan bisa terus naik jika tidak ada intervensi atau upaya pencegahan bersama,” ujarnya.

Lukas menyebut kasus terbanyak ditemukan di Distrik Biak Kota dan Samofa. Sementara di wilayah kerja Puskesmas Sumberker, Kampung Anjereuw menjadi salah satu lokasi dengan jumlah kasus tertinggi.

Hasil survei epidemiologi, kata dia, menunjukkan faktor lingkungan masih menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kasus DBD. Karena itu, masyarakat diminta memperhatikan tempat penampungan air, baik di dalam maupun di luar rumah.
Mansinyas Tambah 12 Kasus

Kepala Puskesmas Sumberker, Maria Deseline, mengatakan hingga Juli 2026 terjadi penambahan sekitar 12 kasus DBD di Kelurahan Mansinyas.

“Data sampai dengan bulan Juli lalu menunjukkan ada peningkatan kasus kurang lebih 12 kasus di Kelurahan Mansinyas,” katanya.

Maria mengapresiasi kolaborasi Pemerintah Provinsi Papua dan Dinas Kesehatan Kabupaten Biak Numfor dalam penanganan DBD, mulai dari penyelidikan epidemiologi, fogging hingga pembagian abate.

“Kami juga mengimbau masyarakat rutin menguras tempat penampungan air, menutup wadah penyimpanan air, serta membersihkan barang-barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” pungkasnya. (un)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *