Dari Keterpurukan Menuju Panggilan Ilahi: Kisah Hidup dan Pelayanan Pdt. Jack Ikomou, S.Th di Tanah Papua

Pdt. Jack Ikomou
banner 120x600

Oleh: Yosua Noak Douw

Biografi ini disusun bukan sekadar untuk mengenang perjalanan seorang hamba Tuhan, melainkan untuk merekam jejak kasih karunia Allah yang bekerja nyata dalam sejarah hidup seseorang, sekaligus dalam sejarah gereja di Tanah Papua.

Kehidupan Pdt. Jack Ikomou, S.Th memperlihatkan dengan jelas bahwa panggilan Tuhan tidak selalu berjalan lurus, tetapi selalu setia menuju tujuan-Nya.

Apa yang dibaca di halaman-halaman berikut bukan kisah tanpa luka. Ini adalah kisah tentang iman yang bertumbuh, jatuh, dihancurkan, dipulihkan, dan akhirnya dipakai Tuhan secara utuh bagi pelayanan Injil.

I. AKAR KEHIDUPAN DAN IMAN

Pdt. Jack Ikomou lahir di Enarotali, 10 Januari 1953, sebagai buah iman dari keluarga Kristen generasi awal di Tanah Papua. Orang tua beliau adalah Bapa Yakopa Yumabi Ikomou dan Mama Naomi Uwotuai Gobay, pasangan suami-istri Kristen pertama yang menikah secara gerejawi di Gereja KINGMI Enarotali, ketika Bapa Yakopa masih menempuh pendidikan di Sekolah Alkitab.

Kelahiran Pdt. Jack Ikomou terjadi dalam konteks sejarah yang sangat penting bagi gereja Papua. Saat itu, Injil masih merupakan kabar baru bagi banyak wilayah pedalaman. Gereja belum mapan, fasilitas terbatas, dan para pelayan Tuhan bekerja dalam kesederhanaan serta pengorbanan besar. Ia lahir bukan hanya dari rahim seorang ibu, tetapi dari rahim kebangunan rohani yang sedang tumbuh di tanah Mee Pago.

Kedua orang tua beliau termasuk murid angkatan pertama Sekolah Alkitab di Enarotali, bahkan Bapa Yakopa duduk sebangku dengan tokoh gereja Papua, Zeth Yeimo. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga Pdt. Jack Ikomou berada sangat dekat dengan pusat pembentukan iman Kristen generasi awal Papua.

Dalam konteks inilah Pdt. Jack Ikomou lahir di tengah api kebangunan rohani awal Injil di wilayah Mee Pago. Sejak awal, hidupnya sudah dikelilingi oleh doa, pengajaran firman, dan teladan iman yang hidup.

Sebagai anak laki-laki pertama Gereja KINGMI di Tanah Papua, ia dipersembahkan secara khusus kepada Tuhan oleh Pdt. Tuan Walter Pos, suatu tanda profetis yang kelak digenapi melalui perjalanan hidup dan pelayanannya. Persembahan ini bukan sekadar simbol liturgis, tetapi sebuah penyerahan hidup yang kelak terbukti: hidupnya memang “dikembalikan” kepada Tuhan melalui jalan yang tidak mudah.

Tahun 1959, Bapa Yakopa Ikomou diterima sebagai anggota Kepolisian Republik Indonesia dan dipindahkan dari Enarotali ke Moanemani, membawa serta seluruh keluarga. Perpindahan ini membuka babak baru kehidupan keluarga, mempertemukan Pdt. Jack Ikomou dengan dunia yang lebih luas, budaya yang berbeda, dan pengalaman hidup yang membentuk daya tahan serta karakternya sejak dini.

II. MASA PENDIDIKAN: PENCARIAN DAN PERGUMULAN

Pdt. Jack Ikomou mengawali pendidikan formal pada 1961 di TK Katolik Moanemani, lalu melanjutkan pendidikan dasar di SD Katolik Kimupugi Moanemani (1962–1968).

Lingkungan pendidikan Katolik pada masa itu dikenal ketat, disiplin, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Dari sinilah tertanam nilai ketekunan, keteraturan hidup, dan rasa hormat terhadap otoritas rohani.

Sejak kelas 5 SD, seorang pastor Katolik bernama Kleopa Regrok melihat potensi besar dalam diri beliau. Selama satu tahun penuh, setiap pagi dan sore, pastor tersebut mendatangi asrama polisi Nuwaibutu untuk meminta izin orang tua agar Jack disekolahkan di Seminari Santo Paulus Padang Bulan, Abepura.

Kesungguhan pastor ini menunjukkan bahwa bakat dan kecerdasan Pdt. Jack Ikomou sudah terlihat sejak dini. Ia bukan hanya pintar secara akademik, tetapi memiliki kepekaan rohani dan kedewasaan berpikir di atas rata-rata.

Akhirnya, dengan persetujuan orang tua, tahun 1968 Pdt. Jack Ikomou :
• Lulus SD sebagai Juara I
• Lulus tes Seminari dengan nilai terbaik
• Dikirim gratis naik pesawat ke Jayapura

Keberangkatan ke Jayapura menjadi pengalaman besar bagi seorang anak dari pedalaman. Ia meninggalkan keluarga, budaya lokal, dan kenyamanan masa kecil untuk memasuki dunia pendidikan rohani yang ketat dan penuh tuntutan.

Beliau menempuh pendidikan SMP Seminari Santo Paulus (1968–1970), lalu melanjutkan ke SMA Gabungan Dok V Jayapura. Namun di masa SMA, terjadi krisis identitas dan kebingungan arah hidup. Tekanan akademik, pergumulan batin, serta dinamika masa muda membuatnya berpindah ke STM Dok VII jurusan mesin, lalu meninggalkan Jayapura pada 1972.

Masa ini menjadi fase pencarian yang berat, diwarnai ketidakpastian, kegelisahan batin, dan kekecewaan pribadi. Panggilan yang pernah terasa jelas seolah mengabur. Inilah fase yang kelak sangat menentukan dalam membentuk kedalaman pelayanannya.

III. KEGAGALAN, KEJATUHAN, DAN TITIK TERENDAH HIDUP

Atas desakan Bapak Guru Yusak Ikomou, beliau kembali bersekolah di SGB, lulus sebagai Juara I, dan dikirim ke SPG Negeri Abepura. Namun perjalanan kembali terhenti.

Tahun 1973, beliau mengikuti pelatihan VTC (Vocational Training Center) bidang bangunan yang diselenggarakan oleh PBB. Setelah lulus, ia menunggu panggilan kerja ke Tembagapura, sebuah harapan besar bagi masa depan ekonomi.

Tahun 1974, ia diterima bekerja di Kantor Pos Jayapura, dari 300 peserta tes hanya 16 orang yang lulus. Secara sosial dan ekonomi, ini adalah puncak keberhasilan. Namun justru di titik inilah kejatuhan dimulai.

Selama 1974–1980, hidup beliau dikuasai oleh :
• Minuman keras
• Keributan
• Skorsing kerja
• Keluar masuk penjara
• Kehancuran relasi dan masa depan

Tahun 1980, beliau diskors dari Kantor Pos. Tahun-tahun berikutnya menjadi masa paling gelap: hidup tanpa arah, mabuk terus-menerus, keluar masuk lembaga pemasyarakatan Jayapura dan Nabire.

Ini adalah fase kehancuran total, di mana semua potensi seakan sirna. Namun dalam iman Kristen, justru di titik inilah Tuhan sering bekerja paling dalam.

IV. PERTEMUAN DENGAN TUHAN: TITIK BALIK KEHIDUPAN

Tahun 1983, dalam sebuah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Gereja Bethesda Nabire, Pdt. Jack Ikomou mengalami pertobatan sejati.

Ia berjumpa dengan Tuhan bukan sebagai orang sukses, melainkan sebagai manusia yang hancur. Di hadapan firman Tuhan, ia menyadari dosanya, kehancuran hidupnya, dan kasih karunia Allah yang memanggilnya kembali.

Inilah babak baru kehidupan, bukan perbaikan kecil, tetapi perubahan arah hidup secara total.

V. PEMBENTUKAN HAMBA TUHAN

Tahun 1984, tanpa tes, ia diterima di Sekolah Theologia STA. Walter Pos, Tapioka, Nabire, dan menempuh pendidikan selama tiga tahun hingga tamat pada 1987.

Namun setelah lulus, ia kembali menghadapi penolakan. Masa lalu menjadi tembok. Beberapa Sekolah Alkitab dan gereja menolak melayaninya.

Akhirnya, melalui campur tangan Tuhan, Tuan Gibings di Beoga menerima beliau dan menugaskannya melayani di Tembagapura dan Gereja KINGMI Bahtera Timika, mendampingi Alm. Pdt. Dr. Noak Nawipa.

VI. PELAYANAN, SAKIT, DAN PEMULIHAN

Tahun 1988, dengan dukungan penuh keluarga Pdt. Zuls termasuk perlengkapan pelayanan lengkap beliau diantar ke Timika menggunakan pesawat MAF.

Namun hanya empat bulan melayani, beliau jatuh sakit :
• Malaria
• Penyakit jantung
• TBC

Selama 1988–1990, beliau menjalani masa pemulihan total. Seluruh biaya hidup dan pengobatan ditanggung oleh Tuan Gibings. Ini bukan hanya pemulihan fisik, tetapi pemulihan iman dan ketergantungan penuh kepada Tuhan.

Tahun 1990, Tuhan menyembuhkan beliau sepenuhnya.

VII. PELAYANAN PEDALAMAN DAN GERAKAN PENGINJILAN

Sejak 1990–2005, Pdt. Jack Ikomou melayani di Bedeyda Topo, Uwapa, wilayah tanpa akses jalan.

Beliau mendirikan Tim Penginjilan Kasih Allah Melanda Piyaiye Uwapa, melayani daerah pedalaman, danau-danau Yamor, serta KKR keliling Nabire, Moanemani, Waghete, dan Enarotali.

Beliau juga menjadi pelopor pencetakan dan pembagian Alkitab Bahasa Mee secara gratis, disertai pemutaran film Injil, pembagian pakaian, dan pelayanan kesehatan.

VIII. KEPEMIMPINAN SINODAL DAN MENARA DOA

Tahun 1999, beliau diangkat sebagai Ketua Komisi Penginjilan Klasis Nabire. Tahun 2006, beliau terpilih sebagai Ketua Departemen Penginjilan dan Doa Sinode KINGMI di Tanah Papua.

Selama 2006–2025, beliau membangun dan melayani di Menara Doa Sinode KINGMI APO Jayapura selama 20 tahun, tanpa honor, tanpa uang saku, tetapi dengan pemeliharaan Tuhan yang nyata.

IX. PENUTUP: SETIA SAMPAI AKHIR

Kini, di usia 73 tahun, Pdt. Jack Ikomou berdiri sebagai saksi hidup kasih karunia Allah. Hidupnya membuktikan bahwa Allah tidak mencari hidup yang sempurna, tetapi hati yang mau dipulihkan.

Pelayanan beliau adalah warisan iman bagi gereja di Tanah Papua dan generasi yang akan datang.(*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *