Persipura, Luka Lama di Tanah Papua, untuk Keadilan yang Belum Pulang

Josua Noak Douw.
banner 120x600

Puisi oleh: Yosua Noak Douw*

Sore yang Tak Pernah Selesai

Di sebuah sore di Tanah Papua,
peluit panjang berbunyi,
namun cerita tak pernah usai.
Skor di papan hanyalah angka
yang sesungguhnya tertulis,
adalah luka yang kembali bertanya:
“Sampai kapan?”

Kami pulang bukan dengan tangan hampa,
kami pulang dengan dada yang penuh,
penuh tanya, penuh lelah, penuh cinta yang menolak padam.

Kepada Lawan yang Bermain dengan Hormat

Untuk Adhyaksa FC,
Kami angkat topi dengan jujur.
Kalian tenang, kalian rapi,
Kalian membaca arah angin, seperti pelaut yang matang di laut dalam.
Kemenangan kalian, dari kaki ke kaki,
adalah kemenangan yang patut dihormati.
Tetapi izinkan kami bertanya, bukan kepada kalian, melainkan kepada jalan
yang dilalui kemenangan itu.

Tentang Sebelas yang Melawan Tujuh Belas

Di lapangan hari itu,
kami tidak melawan sebelas pemain.
Kami melawan tujuh belas bayangan:
sebelas berbaju lawan,
satu wasit yang membisu pada keadilan,
dua asisten yang memejamkan mata,
dan satu layar VAR
yang lupa pada janjinya sendiri.

Gol offside disahkan tanpa malu.
Dua handsball dibiarkan berlalu seperti angin,
seakan kotak penalti
hanyalah panggung sandiwara,
bukan ruang tempat keadilan diuji.

VAR, Janji yang Belum Ditepati

Wahai layar yang dipasang tinggi,
kami mengenalmu sebagai kawan,
bukan sebagai tirai
yang menyembunyikan kebenaran.

Kau lahir dari niat yang mulia,
agar mata wasit yang manusiawi
ditolong oleh mata kamera yang jernih.
Tetapi bila prosesmu disembunyikan,
bila tayanganmu tak pernah sampai
ke mata jutaan penonton yang menanti,
maka kau bukan lagi VAR,
kau hanya pajangan teknologi
di altar yang kehilangan iman.

Lagu Lama dari Tanah Papua

Ada sebuah kalimat tua
yang turun dari mulut ke mulut,
dari tribun ke tribun,
dari ayah ke anak di Tanah Papua:
“Kita tahu barang ini, tapi kita masih tetap tahan
dengan sakit hati.” Itu bukan lagu kebencian.

Itu adalah madah kesabaran nyanyian dari mereka yang dilukai
namun menolak balas dendam, nyanyian dari mereka yang dikecewakan, namun menolak berhenti mencintai.

Persipura, Lebih dari Sekadar Klub

Persipura bukan hanya sebelas kaki di lapangan.
Persipura adalah napas.
Persipura adalah cerita yang dibacakan
di rumah-rumah panggung,
di pinggir Sungai Mamberamo,
di lereng Pegunungan Tengah,
di pesisir Biak yang berdebur ombak.

Persipura adalah nama yang diucapkan dengan dada membusung, yang dinyanyikan dengan air mata, yang diwariskan dari kakek
kepada cucu yang belum sempat menjabat tangannya.

Persipura adalah Papua,
dan Papua tidak akan pernah berhenti
mencintai mereka yang berseragam merah-hitam itu.

Surat untuk Sepak Bola Indonesia

Wahai sepak bola tanah airku,
kami tidak menulis surat ini
untuk meruntuhkanmu.

Kami menulisnya
karena kami masih percaya kepadamu.
Kami percaya engkau bisa lebih baik
dari yang kami lihat sore itu.

Kami percaya wasit-wasitmu
bisa berdiri tegak, tanpa condong ke kiri atau ke kanan, tanpa takut, tanpa pesanan.

Kami percaya federasimu bisa membuka pintunya selebar lapangan,
sehingga publik tidak lagi mengintip
dari celah keraguan.

Kami percaya kompetisimu
bisa menjadi rumah,
rumah tempat semua klub pulang
dengan rasa hormat yang sama,
entah dari Jakarta atau dari Jayapura,
entah dari Surabaya atau dari Sorong.

Tentang Wacana yang Mulai Berbisik

Sudah mulai terdengar suara-suara
di warung-warung kopi Papua:
“Mungkin sudah saatnya kita berlayar,
ke Liga Pasifik, ke Liga Australia,
ke samudra yang lebih biru.”

Itu bukan ancaman.
Itu adalah alarm.
Itu adalah lonceng kecil
yang berbunyi di subuh hari,
mengetuk pintu federasi:

“Bangunlah, ada yang harus diperbaiki.”
Sebab tidak ada anak yang ingin pergi
dari rumah yang masih layak ditinggali.

Anak hanya pergi
ketika rumah berhenti mendengarnya.

Kritik yang Tumbuh dari Cinta

Dengarkanlah kami baik-baik, Indonesia,
kritik ini bukan racun yang kami siram di akarmu.
Kritik ini adalah pupuk yang kami taburkan dengan tangan gemetar,
karena kami terlalu mencintaimu
untuk membiarkanmu tumbuh bengkok.

Suporter yang bersuara
bukanlah suporter yang membenci.
Mereka adalah penjaga malam
yang menolak tidur
selagi rumah masih bocor di sana-sini.

Janji yang Kami Pegang Erat

Maka biarkanlah kami menutup puisi ini
dengan janji yang sederhana,
janji yang kami ucapkan
sambil menatap langit Jayapura
yang selalu setia membiru.

Kami akan terus mencintai sepak bola.
Kami akan terus datang ke stadion.
Kami akan terus menyanyikan nama Persipura
sampai suara kami serak,
sampai bendera kami pudar warnanya,
sampai cucu kami mewarisi cinta yang sama.

Tetapi kami juga akan terus bertanya.
Kami akan terus menulis.
Kami akan terus mengetuk pintu keadilan,
hingga pintu itu terbuka,
atau hingga kami sendiri
menjadi pintu itu.

Doa di Bawah Langit Papua

Tuhan yang menjaga lapangan-lapangan hijau,
yang mendengar sorak dan tangis di tribun,
yang menimbang setiap peluit
dengan timbangan keadilan-Mu sendiri,
peliharalah sepak bola kami.

Berikan wasit-wasit yang lurus hatinya.
Berikan federasi yang jujur tangannya.
Berikan layar VAR yang berani jujur pada publik.
Dan berikan kepada kami,
suporter Persipura,
hati yang cukup besar
untuk terus mencintai
walaupun terus dilukai.

Sebab Persipura adalah cerita.
Persipura adalah kebanggaan.
Persipura adalah napas dan identitas
Tanah Papua.

Dan selama napas itu masih ada,
selama cinta itu masih dijaga,
sepak bola Indonesia
masih punya satu alasan
untuk berbenah,
dan kami, masih punya satu alasan
untuk percaya.

Jayapura, 8 Mei 2026, di sebuah sore yang menyisakan tanya.

Yosua Noak Douw*

Penikmat Bola dan Pendukung Persipura 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *