JAYAPURA, Papuaterkini.com – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, Gubernur Papua, Matius D Fakhiri, melakukan inspeksi mendadak (sidak) terbatas ke sejumlah rumah sakit di wilayah Jayapura, Jumat (20/3/2026).
Sidak dilakukan di beberapa fasilitas kesehatan pemerintah, antara lain RSUD Yowari, rumah sakit di Abepura, Dok II Jayapura, hingga RS Bhayangkara, guna memastikan kesiapan tenaga medis selama masa libur Lebaran.
Dalam keterangannya, Gubernur Fakhiri menegaskan bahwa fokus sidak bukan pada pelayanan pasien, melainkan pada kesiapan tenaga medis dalam menghadapi lonjakan kebutuhan layanan kesehatan saat libur panjang.
“Hari ini melakukan sidak terbatas. Sidaknya bukan mengecek pelayanan pasien, tetapi melihat kesiapan tenaga medis untuk melayani selama masa libur Idul Fitri,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa pelayanan kesehatan di Papua sempat menjadi sorotan saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), sehingga evaluasi kali ini penting untuk mencegah terulangnya persoalan serupa.
Dari hasil pemantauan, Gubernur Fakhiri mengaku bersyukur karena tenaga medis di sejumlah rumah sakit yang dikunjungi dalam kondisi siap siaga.
“Saya bersyukur para tenaga medis ada di tempat dan siap melayani, mulai dari Yowari hingga Dok II,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah kekurangan di rumah sakit. Namun, menurutnya, kesiapan tenaga medis menjadi hal paling utama.
Gubernur Fakhiri juga menginstruksikan agar tenaga medis tetap siaga hingga beberapa hari setelah Idul Fitri.
“Kalau hari raya tanggal 21, saya berharap sampai tanggal 23 tenaga medis tetap siap melayani pasien,” ujarnya.
Selain itu, ia menyoroti adanya penumpukan pasien di RSUD Yowari yang dinilai berisiko terhadap keselamatan pasien.
“Ada penumpukan pasien di Yowari. Ini menjadi bagian dari evaluasi kami,” ungkapnya.
Sebagai langkah cepat, Pemerintah Provinsi Papua akan mendistribusikan pasien ke sejumlah rumah sakit lain, baik milik pemerintah maupun swasta, termasuk RS di Abepura, Dok II, dan RS Bhayangkara.
Langkah ini diambil untuk mencegah penumpukan di instalasi gawat darurat (IGD) yang dapat membahayakan kondisi pasien.
“Jangan sampai terjadi penumpukan pasien di IGD hingga di luar ruangan, karena ini berisiko bagi kesehatan pasien,” tegasnya.
Gubernur juga menyoroti kondisi pasien dengan berbagai jenis penyakit yang ditempatkan dalam satu ruangan, yang dinilai dapat membahayakan.
“Contoh di Yowari, pasien paru bercampur dengan penyakit lain dalam satu tempat, ini berbahaya,” katanya.
Untuk itu, ia meminta Dinas Kesehatan Provinsi Papua segera berkoordinasi dengan seluruh direktur rumah sakit guna memecah konsentrasi pasien.
Ke depan, Pemerintah Provinsi Papua berkomitmen melakukan pembenahan menyeluruh terhadap layanan kesehatan, mulai dari tenaga medis, ketersediaan obat, hingga sistem pelayanan.
“Kami akan terus membenahi agar layanan kesehatan bisa menjangkau masyarakat dengan lebih baik,” ujarnya.
Ia juga mendorong penerapan sistem layanan terpadu satu pintu di rumah sakit, khususnya di IGD, agar masyarakat tidak kesulitan dalam mengurus administrasi.
“Kalau bisa semua rumah sakit menerapkan layanan satu atap, sehingga masyarakat tidak perlu lagi berpindah-pindah untuk mengurus administrasi,” pungkasnya. (bat)














