Oleh: Laurenzus Kadepa*
Mantan Anggota DPR Papua 2014–2024, Pemerhati Ekonomi, Sosial dan Politik Papua
Kabupaten Puncak bukanlah daerah yang mudah dipimpin. Wilayah yang berada di jantung Pegunungan Tengah Papua ini menghadirkan tantangan yang jauh berbeda dibandingkan daerah lain di Indonesia. Selain kondisi geografis yang ekstrem, Kabupaten Puncak juga masih dihadapkan pada persoalan konflik keamanan yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Di tengah situasi tersebut, Bupati Puncak, Elvis Tabuni, hadir sebagai pemimpin yang sedang menjalani ujian kepemimpinan yang sesungguhnya. Baru lebih dari satu tahun menjabat sejak dilantik pada Maret 2025, berbagai langkah dan kebijakan telah mulai diperlihatkan. Tentu masih banyak kekurangan dan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, namun keberanian untuk hadir dan bekerja di tengah situasi sulit patut diapresiasi.
Puncak dan Ujian Kepemimpinan
Kabupaten Puncak merupakan daerah hasil pemekaran dari Kabupaten Puncak Jaya yang dibentuk melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2008. Dengan kondisi geografis pegunungan pada ketinggian 1.500 hingga 3.000 meter di atas permukaan laut, akses transportasi masih sangat bergantung pada jalur udara.
Hingga saat ini, konektivitas jalan darat menuju pusat-pusat ekonomi seperti Timika dan Nabire belum sepenuhnya terbangun. Akibatnya, harga kebutuhan pokok, material bangunan, hingga bahan bakar minyak menjadi sangat mahal.
Di wilayah seperti inilah seorang kepala daerah diuji. Bukan hanya soal kemampuan administrasi pemerintahan, tetapi juga keberanian mengambil keputusan dalam situasi yang penuh risiko.
Memilih Hadir Bersama Rakyat
Salah satu pesan penting yang ditunjukkan Elvis Tabuni setelah dilantik adalah keputusannya untuk langsung kembali dan berkantor di Ilaga, ibu kota Kabupaten Puncak.
Keputusan tersebut memiliki makna psikologis yang kuat. Di tengah situasi keamanan yang belum sepenuhnya stabil, kehadiran seorang pemimpin di tengah masyarakat menjadi simbol bahwa rakyat tidak ditinggalkan.
Kepemimpinan bukan hanya tentang menandatangani dokumen dari balik meja, melainkan tentang keberanian berada di lokasi ketika rakyat menghadapi kesulitan.
Sebagai tokoh asli Puncak yang lahir dan besar dalam kultur masyarakat pegunungan, Elvis Tabuni juga memiliki modal sosial yang kuat. Kedekatan dengan struktur adat dan komunitas lokal menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah.
Tiga Tembok Besar yang Harus Dihadapi
Meski berbagai langkah awal telah dilakukan, terdapat setidaknya tiga tantangan besar yang akan menentukan keberhasilan kepemimpinan Elvis Tabuni ke depan.
Pertama, persoalan keamanan.
Konflik yang berkepanjangan berdampak pada seluruh sektor kehidupan. Guru menjadi enggan mengajar, tenaga kesehatan takut bertugas, dan pelayanan publik tidak berjalan optimal. Tanpa stabilitas keamanan, pembangunan akan selalu berjalan tersendat.
Kedua, tingginya biaya pembangunan.
Membangun satu kilometer jalan di wilayah pegunungan Papua membutuhkan biaya berlipat ganda dibandingkan daerah lain. Harga semen yang bisa mencapai sekitar Rp1 juta per sak serta distribusi BBM yang bergantung pada transportasi udara menunjukkan betapa mahalnya biaya pembangunan di Puncak.
Ketiga, kualitas sumber daya manusia.
Masalah pendidikan, kesehatan, stunting, serta angka putus sekolah masih menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan perhatian serius. Pembangunan fisik penting, namun pembangunan manusia harus menjadi prioritas utama.
Harapan bagi Masa Depan Puncak
Salah satu harapan terbesar masyarakat adalah terwujudnya konektivitas yang lebih baik antara Ilaga, Timika, dan Nabire. Infrastruktur jalan yang memadai akan menjadi kunci penurunan harga barang, peningkatan aktivitas ekonomi, serta membuka akses pelayanan dasar bagi masyarakat.
Karena itu, kemampuan Bupati Puncak dalam membangun komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Papua Tengah maupun Pemerintah Pusat akan menjadi faktor penting dalam mempercepat pembangunan wilayah.
Puncak membutuhkan dukungan anggaran, kebijakan afirmatif, dan perhatian khusus agar mampu keluar dari berbagai keterisolasian yang selama ini menjadi hambatan utama pembangunan.
Dukungan dan Pengawasan Harus Berjalan Bersama
Masyarakat tentu berharap banyak kepada Elvis Tabuni. Namun harus dipahami bahwa membangun Kabupaten Puncak bukan pekerjaan satu orang. Pemerintah daerah, DPRD, tokoh adat, tokoh agama, aparat keamanan, pemerintah pusat, dan masyarakat harus berjalan bersama.
Di sisi lain, dukungan tidak boleh menghilangkan fungsi pengawasan. Setiap kebijakan tetap harus diawasi secara kritis agar pembangunan berjalan sesuai kebutuhan rakyat.
Karena itu, prinsip yang perlu dikedepankan adalah: mendukung yang benar dan mengawasi yang rawan.
Penutup
Menjadi Bupati Puncak di tengah situasi konflik dan keterbatasan bukanlah tugas yang ringan. Namun keberanian untuk hadir, bekerja, dan mengambil tanggung jawab di tengah berbagai tantangan menunjukkan adanya komitmen untuk membawa perubahan.
Perjalanan masih panjang. Berbagai ujian masih akan datang. Namun jika konsistensi kepemimpinan, keberpihakan kepada rakyat, dan semangat membangun terus dijaga, maka harapan akan masa depan Kabupaten Puncak yang lebih aman, maju, dan sejahtera bukanlah sesuatu yang mustahil.
Hari ini, harapan masyarakat Puncak berada di pundak Elvis Tabuni. Sejarah kelak yang akan menilai sejauh mana amanah itu mampu diwujudkan. (*)














