BIAK, Papuaterkini.com – Pemerintah Kabupaten Biak Numfor terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular maupun tidak menular. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan efektivitas penanganan berbagai persoalan kesehatan yang masih menjadi tantangan di daerah tersebut.
Komitmen itu disampaikan Bupati Biak Numfor, Markus O. Mansnembra, SH., MM., melalui sambutan tertulis yang dibacakan Asisten II Setda Biak Numfor, Ottow Wanggai, pada kegiatan Koordinasi, Advokasi, dan Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) di Grand Ballroom KSL Biak, Rabu (22/7/2026).
Menurut Bupati Mansnembra, pembangunan kesehatan merupakan salah satu pilar utama dalam visi dan misi Pemerintah Kabupaten Biak Numfor. Namun, daerah itu masih menghadapi beban ganda penyakit, baik penyakit menular maupun tidak menular.
“Saat ini kita masih dihadapkan pada tantangan besar berupa beban ganda penyakit, yakni masih tingginya angka Tuberkulosis (TBC) dan HIV/AIDS, serta meningkatnya penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes,” ujar Bupati Mansnembra dalam sambutan yang dibacakan Ottow Wanggai.
Ia menegaskan bahwa upaya promotif dan preventif harus terus diperkuat melalui deteksi dini, respons cepat, serta pemantauan wilayah setempat (PWS). Menurutnya, keberhasilan program kesehatan tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan, tetapi membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Biak Numfor juga mengapresiasi peran tenaga kesehatan, kader kesehatan, dan seluruh lintas sektor yang selama ini berkontribusi dalam pelayanan kesehatan masyarakat.
Melalui forum koordinasi tersebut, pemerintah mengajak seluruh pihak meningkatkan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), memperluas deteksi dini penyakit seperti malaria, TBC, dan kusta di seluruh puskesmas, serta mendorong masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan yang telah tersedia.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Biak Numfor, Daud Nataniel Duwiri, SKM., M.Kes., mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memperkuat koordinasi lintas sektor, advokasi kebijakan, dan sosialisasi kepada masyarakat guna menekan beban penyakit menular maupun tidak menular.
Menurut Daud, Biak Numfor menjadi salah satu daerah yang fokus mendukung prioritas nasional dalam pengendalian penyakit menular seperti HIV/AIDS, TBC, malaria, kusta, demam berdarah dengue (DBD), diare, ISPA, hingga penguatan imunisasi dan surveilans kesehatan.
Ia mengungkapkan, selama lima tahun terakhir Kabupaten Biak Numfor masih berstatus daerah endemis malaria dengan angka Annual Parasite Incidence (API) yang meningkat dari 9,94 per seribu penduduk pada 2021 menjadi 30,99 per seribu penduduk atau sekitar 4.425 kasus pada 2025.
Selain itu, capaian penemuan kasus Tuberkulosis baru mencapai 57 persen dari target 795 kasus pada 2025. Sementara inisiasi pengobatan antiretroviral (ARV) bagi pasien HIV baru mencapai 79,1 persen dari target nasional sebesar 95 persen.
Meski demikian, jumlah kasus baru kusta menunjukkan tren penurunan, dari 558 kasus pada 2024 menjadi 375 kasus pada 2025.
Di sisi lain, Daud mengakui cakupan imunisasi dasar lengkap masih rendah, yakni 36,56 persen pada 2025. Kondisi geografis Biak Numfor yang terdiri dari wilayah kepulauan menjadi salah satu kendala dalam menjangkau seluruh sasaran imunisasi.
Data Dinas Kesehatan juga mencatat terdapat 8.857 kasus hipertensi dan 4.879 kasus diabetes melitus sepanjang 2025. Sementara jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang terdata meningkat dari 54 orang pada 2021 menjadi 218 orang pada 2025.
“Melalui sosialisasi ini saya berharap kita dapat membangun kesepahaman bersama, memperkuat komitmen lintas sektor, serta mencapai eliminasi penyakit dan pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan di Kabupaten Biak Numfor,” kata Daud.
Kegiatan tersebut diikuti oleh Dinas Kesehatan, organisasi perangkat daerah (OPD), lintas sektor, serta tenaga kesehatan dari seluruh puskesmas di Kabupaten Biak Numfor. (un)














