JAYAPURA, Papuaterkini.com – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Mayjen TNI (Purn.) Trenggono, bersama Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk meninjau penanganan pasien dugaan keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Jayapura, Jumat (7/8/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan pelayanan kesehatan kepada para pasien berjalan optimal sekaligus memantau perkembangan kondisi korban yang masih menjalani perawatan.
Direktur Perencanaan, Keuangan, dan Layanan Operasional (PKLO) RSUP Jayapura, dr. Antonius Oktavian Ibo Ilambra, C.N.F., M.Kes., mengatakan pihak rumah sakit bergerak cepat menyiapkan pelayanan setelah menerima informasi adanya rujukan pasien dari Kabupaten Jayapura.
Menurutnya, RSUP Jayapura sejak awal telah berkoordinasi dengan puskesmas dan Dinas Kesehatan guna memastikan seluruh kebutuhan pelayanan medis dapat dipenuhi.
“Sebanyak 22 pasien sempat dirujuk ke RSUP Jayapura, terdiri dari satu pasien dewasa yang telah diperbolehkan pulang dan 21 pasien anak yang menjalani perawatan di rumah sakit,” ujar dr. Antonius.
Ia menjelaskan kondisi pasien secara umum terus menunjukkan perkembangan positif. Pada Jumat (7/8), delapan pasien telah dipulangkan setelah dinyatakan membaik, sementara pasien lainnya masih menjalani observasi hingga kondisi kesehatannya benar-benar stabil.
“Hari ini delapan pasien dipulangkan dan beberapa pasien lainnya juga akan dipulangkan karena kondisinya sudah sehat. Kami berharap seluruh pasien yang masih menjalani observasi dapat segera kembali ke rumah apabila kondisinya tetap stabil,” katanya.
Gejala Ringan hingga Sedang
Dr. Antonius menjelaskan gejala yang dialami pasien umumnya berupa diare dan muntah dengan tingkat keparahan ringan hingga sedang. Berdasarkan hasil triase di Instalasi Gawat Darurat (IGD), seluruh pasien berada pada kategori hijau dan kuning, tanpa ditemukan pasien dalam kondisi gawat atau kategori merah.
Terkait penyebab dugaan keracunan, ia menegaskan RSUP Jayapura berfokus pada pelayanan medis, sedangkan pemeriksaan sampel makanan dilakukan oleh instansi yang berwenang, termasuk Balai POM.
“Fokus kami adalah memberikan pelayanan terbaik kepada pasien. Untuk pemeriksaan sampel makanan dilakukan oleh instansi yang berwenang dan kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait,” jelasnya.
Pasien Diobservasi Karena Penyakit Penyerta
Sementara itu, Wakil Kepala BGN Mayjen TNI (Purn.) Trenggono mengatakan sebagian besar pasien sebenarnya telah sembuh dari keluhan utama akibat dugaan keracunan.
Namun, beberapa pasien masih menjalani observasi karena memiliki penyakit penyerta (komorbid), seperti malaria, sehingga dokter memastikan seluruh kondisi kesehatannya benar-benar pulih sebelum diizinkan pulang.
“Dokter menyampaikan bahwa pasien sebenarnya sudah sembuh dari keluhan yang dialami. Namun beberapa masih menjalani observasi karena memiliki penyakit komorbid sehingga perlu dipastikan seluruh kondisi kesehatannya pulih sebelum dipulangkan,” ujarnya.
Ia menilai kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat tata kelola Program Makan Bergizi Gratis agar pelaksanaannya semakin baik melalui pengawasan dan koordinasi lintas sektor.
“Program Makan Bergizi Gratis merupakan program yang sangat dibutuhkan masyarakat. Karena itu, perbaikan tata kelola dan pengawasan akan terus dilakukan melalui kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta seluruh pihak terkait,” katanya.
Ribka Haluk Apresiasi Respons Cepat
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk mengapresiasi respons cepat masyarakat Kabupaten Jayapura yang segera membawa anak-anak ke fasilitas kesehatan setelah mengalami gejala.
Ia juga memberikan penghargaan kepada pemerintah daerah, tenaga kesehatan, TNI, Polri, tokoh agama, dan tokoh masyarakat yang bergerak cepat dalam menangani para korban.
“Kami menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Kabupaten Jayapura yang dengan cepat membawa anak-anak ke fasilitas kesehatan. Kami juga mengapresiasi kerja sama pemerintah daerah, tenaga kesehatan, TNI, Polri, tokoh agama, dan tokoh masyarakat sehingga penanganan dapat dilakukan secara optimal,” ujar Ribka.
Menurutnya, berdasarkan hasil peninjauan di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan, sebagian besar pasien telah pulih dan kembali ke rumah. Hal tersebut menunjukkan koordinasi lintas sektor berjalan baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Hingga Jumat (7/8/2026), RSUP Jayapura masih merawat 21 pasien anak berusia 2 hingga 15 tahun akibat dugaan keracunan pangan. Sebagian pasien telah dipulangkan setelah dinyatakan membaik, sementara pasien lainnya masih menjalani observasi hingga kondisinya benar-benar pulih. (bat)














