JAYAPURA, Papuaterkini.com — Sampah tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berpotensi diolah menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat. Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) pengelolaan persampahan yang digelar Tim 16 Ekspedisi Patriot Institut Teknologi Bandung (ITB) 2026 di Kawasan Transmigrasi Lereh, Distrik Yapsi, Kabupaten Jayapura, Papua.
FGD berlangsung di Balai Kampung Bumi Sahaja (SP 2), Distrik Yapsi, pada 19 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi forum bagi Tim Ekspedisi Patriot untuk memaparkan temuan awal mengenai kondisi persampahan sekaligus menggali persoalan, kebutuhan, dan potensi pengelolaan sampah di kawasan tersebut.Kegiatan dihadiri Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura, Pemerintah Distrik Yapsi, kepala kampung dari enam kampung transmigrasi (SP), perwakilan dinas pendidikan, aparat keamanan, serta masyarakat setempat.
Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura, Sandi Nusantara, SP., M.KP., menyambut positif kegiatan tersebut. Ia berharap masyarakat dapat terlibat aktif dalam memberikan masukan terkait persoalan persampahan di wilayah Yapsi.
“Kami mendukung adanya kegiatan ini. Kami berharap warga aktif memberikan masukan, khususnya dalam pengelolaan sampah, agar lingkungan kita tetap terjaga,” ujarnya.
Pembakaran Sampah Plastik Masih Menjadi Persoalan
Dalam FGD, salah satu persoalan yang dibahas adalah praktik pembakaran sampah plastik yang masih dilakukan masyarakat.
Ketua Tim 16 Ekspedisi Patriot ITB, Prof. Dr. Mochammad Chaerul, S.T., M.T., menjelaskan bahwa pembakaran sampah plastik secara terbuka dapat menimbulkan risiko terhadap kesehatan dan lingkungan.
Masyarakat menyampaikan bahwa praktik tersebut salah satunya dipicu belum tersedianya tempat penampungan sementara (TPS) yang memadai. Karena itu, Tim Ekspedisi Patriot ITB mendorong adanya alternatif pengelolaan sampah yang tidak hanya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah pengolahan sampah plastik melalui teknologi pirolisis.
Dosen Kimia Universitas Cenderawasih, Dr. Darwanta, M.Si., yang dihadirkan dalam kegiatan tersebut, memaparkan potensi pengolahan sampah plastik menjadi sumber energi alternatif.
Menurutnya, melalui proses pirolisis, sampah plastik dapat diolah menjadi bahan bakar. Teknologi tersebut, kata dia, telah diuji melalui pabrik percontohan di Universitas Cenderawasih. Hasil pengolahan berupa bahan bakar tersebut disebut memiliki karakteristik yang setara dengan Premium dan berpotensi menjadi salah satu alternatif pemanfaatan sampah plastik.
Selain bahan bakar, sampah plastik tertentu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembuatan batako dan paving block.
Pemanfaatan ini dinilai dapat menjadi alternatif untuk jenis sampah plastik yang sulit diolah menjadi bahan bakar, seperti gelas plastik dan bungkus oli. Sementara itu, pemanfaatan sampah plastik sebagai material menyerupai aspal masih membutuhkan penelitian dan pengujian lebih lanjut.
Sampah Organik Bisa Diolah dengan BSF
Persoalan sampah di Distrik Yapsi juga mencakup sampah organik. Dari hasil diskusi, sampah organik yang banyak dihasilkan rumah tangga antara lain sisa makanan, kotoran hewan, serta sampah rumput dan taman.
Perwakilan sekolah menyampaikan bahwa sisa makanan menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian, terutama dengan adanya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menghasilkan sisa makanan secara rutin.
Warga SP 6 menyebut sisa makanan selama ini umumnya dibuang atau dimanfaatkan sebagai pakan ternak ayam. Sementara warga SP 2 menyampaikan bahwa kotoran ternak juga belum dikelola secara optimal.
Ketua Tim 16 Ekspedisi Patriot menjelaskan bahwa terdapat sejumlah alternatif pengolahan sampah organik sesuai karakteristiknya.
Sampah daun, sampah taman, dan kotoran sapi, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk pengomposan. Kotoran sapi juga berpotensi dikembangkan menjadi sumber energi berupa biogas.
Untuk sisa makanan, Tim Ekspedisi Patriot menawarkan pemanfaatan Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam sebagai salah satu alternatif pengolahan.
Pengembangan BSF tersebut direncanakan menjadi bagian dari pilot project Tim 16 Ekspedisi Patriot di Distrik Yapsi. Melalui metode tersebut, sisa makanan dapat masuk ke dalam rantai pemanfaatan baru. Larva dan pupa BSF dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan residu pengolahan berupa kasgot atau bekas maggot dapat dimanfaatkan sebagai pupuk dan media tanam.
Dr. Himawan, M.Si., menjelaskan bahwa BSF memiliki siklus hidup relatif singkat sehingga pengembangannya tidak membutuhkan waktu yang panjang. Pemanfaatan BSF diharapkan tidak hanya membantu mengurangi timbulan sampah organik, tetapi juga menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Dorong Sistem Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Melalui FGD tersebut, Tim 16 Ekspedisi Patriot ITB 2026 mengharapkan adanya masukan langsung dari masyarakat dan pemangku kepentingan untuk menjadi dasar pengembangan strategi pengelolaan sampah di Kawasan Transmigrasi Lereh.
Sejumlah alternatif yang dibahas mencakup pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar, pemanfaatan plastik sebagai bahan bangunan, pengomposan, biogas, hingga pengembangan BSF untuk mengolah sampah organik.
Tim Ekspedisi Patriot berharap inovasi tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan di Distrik Yapsi. Selain menjaga lingkungan, pengelolaan sampah berbasis inovasi juga diharapkan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di Kawasan Transmigrasi Lereh.















