JAYAPURA, Papuaterkini.com — Sebanyak 1.000 warga Kampung Benyom Jaya 1, Distrik Nimbokrang, mengikuti pelatihan literasi keuangan melalui Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) Kementerian Desa.
Pelatihan yang berlangsung selama 10 hari, 15–25 September 2026, tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola keuangan keluarga sekaligus mendukung pengembangan kegiatan ekonomi produktif di tingkat kampung.
Kegiatan dilaksanakan secara intensif dengan dua sesi setiap hari. Masing-masing sesi diikuti 50 peserta sehingga dalam sehari terdapat 100 peserta yang mendapatkan pembekalan mengenai literasi keuangan.
Kepala Kampung Benyom Jaya 1, Joko Irianto, mengatakan pelatihan tersebut penting untuk membangun kebiasaan masyarakat dalam mengelola pendapatan dan pengeluaran secara lebih terencana.
“Pelatihan ini sangat penting bagi masyarakat karena memberikan pengetahuan praktis mengenai bagaimana mengelola keuangan dengan baik. Kami berharap pengetahuan yang diperoleh tidak hanya berhenti di ruang pelatihan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Joko.
Menurutnya, kemampuan mengelola keuangan menjadi salah satu aspek penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi keluarga. Pemahaman tersebut juga diharapkan membantu masyarakat mengembangkan kegiatan ekonomi sesuai potensi yang dimiliki.

Tidak Sekadar Memahami Uang
Materi pelatihan tidak hanya membahas cara menyimpan atau membelanjakan uang. Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai perencanaan keuangan, penentuan skala prioritas kebutuhan, pencatatan pemasukan dan pengeluaran, hingga pengambilan keputusan keuangan secara bijak.
Pemateri, Denni Rumayomi, menjelaskan bahwa kemampuan mengelola keuangan perlu dibangun melalui kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Literasi keuangan pada dasarnya adalah bagaimana seseorang mampu mengambil keputusan terhadap uang yang dimiliki. Karena itu, kami memberikan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan masyarakat agar materi lebih mudah dipahami dan diterapkan,” katanya.
Proses pembelajaran berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga diberikan kesempatan berdiskusi dan menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam mengelola keuangan keluarga maupun usaha.
Pengalaman peserta kemudian menjadi bagian dari diskusi sehingga materi yang diberikan dapat dikaitkan dengan kondisi nyata yang dihadapi masyarakat.

Fasilitator Dampingi Peserta
Pelaksanaan pelatihan juga mendapat pendampingan dari fasilitator untuk memastikan proses pembelajaran berjalan sesuai tujuan. Fasilitator tidak hanya membantu penyampaian materi, tetapi juga mendorong peserta aktif bertanya, berdiskusi, serta memahami penerapan literasi keuangan dalam kehidupan sehari-hari.
Fasilitator kegiatan, Budi Varel Tikoh, mengatakan partisipasi peserta menjadi salah satu hal yang terlihat selama pelatihan.
“Peserta cukup aktif mengikuti setiap sesi. Banyak pertanyaan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan rumah tangga maupun kegiatan usaha. Dari diskusi tersebut terlihat bahwa masyarakat membutuhkan pengetahuan praktis mengenai pengelolaan keuangan,” ujarnya.
Menurut Budi, keberhasilan pelatihan tidak hanya diukur dari pemahaman peserta terhadap materi, tetapi juga dari sejauh mana pengetahuan tersebut diterapkan setelah kegiatan berakhir.
Salah seorang peserta, Wulan, mengatakan pelatihan memberikan pemahaman mengenai pentingnya disiplin dalam mengelola keuangan, termasuk membedakan kebutuhan dan keinginan.
“Materinya sangat bermanfaat. Kami belajar bagaimana mencatat pemasukan dan pengeluaran serta menentukan mana kebutuhan yang harus didahulukan. Pengetahuan seperti ini penting untuk diterapkan dalam keluarga,” katanya.
Peserta lainnya, Maman, berharap kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat dapat terus dilaksanakan dengan materi yang lebih beragam.
“Kami berharap ke depan ada pelatihan lanjutan, terutama yang berkaitan dengan pengembangan usaha, pengelolaan hasil usaha, dan bagaimana meningkatkan pendapatan keluarga,” ujarnya.
Pelatihan yang berlangsung selama 10 hari tersebut melibatkan total 1.000 peserta. Pola dua sesi setiap haridengan 50 peserta dalam setiap sesi diterapkan untuk menjangkau seluruh peserta secara bertahap.
Melalui Program TEKAD Kementerian Desa, pelatihan literasi keuangan diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pengetahuan yang diperoleh masyarakat diharapkan dapat diterapkan menjadi kebiasaan dalam mengelola keuangan keluarga maupun mendukung aktivitas ekonomi produktif.
Bagi Kampung Benyom Jaya 1, peningkatan pemahaman masyarakat mengenai literasi keuangan menjadi salah satu modal dalam memperkuat kapasitas masyarakat dan mendukung pengembangan ekonomi kampung.
Joko Irianto menegaskan keberlanjutan manfaat pelatihan sangat bergantung pada kemauan masyarakat menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh.
“Harapan kami, setelah pelatihan ini masyarakat dapat mempraktikkan apa yang sudah dipelajari. Pengetahuan tentang pengelolaan keuangan harus menjadi kebiasaan sehingga dapat memberikan manfaat bagi keluarga dan mendukung peningkatan ekonomi masyarakat kampung,” imbuhnya. (bat)















