Elisabeth Flassy Wandik dan Warisan Pengabdian: Ketika Perempuan Papua Mengubah Kehidupan Melalui Pelayanan

Alm Ny Elisabeth Yulanda Flassy Wandik, SE, MM (Kandidat Doktor).
banner 120x600

Oleh: Dr. Yosua Noak Douw
Sekretaris Daerah Kabupaten Tolikara

JAYAPURA, Papuaterkini.com – Kepergian Ny. Elisabeth Yulanda Flassy Wandik, S.E., M.M., kandidat doktor, pada Senin, 2 November 2026, bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga besar Flassy–Wandik, tetapi juga menjadi kehilangan bagi masyarakat Tolikara dan Tanah Papua.

Istri Bupati Tolikara, Willem Wandik, S.H., S.Sos., tersebut mengembuskan napas terakhir di RSUP Abepura, Jayapura, pada usia 52 tahun. Namun, usia bukanlah satu-satunya ukuran untuk menilai arti sebuah kehidupan. Ada manusia yang mungkin tidak menjalani usia panjang, tetapi meninggalkan jejak pengabdian yang terus dikenang oleh banyak orang.

Elisabeth adalah salah satu sosok itu.

Perjalanan hidupnya mengajarkan bahwa pengabdian tidak selalu dimulai dari jabatan tinggi, kekuasaan, atau fasilitas yang memadai. Pengabdian justru tumbuh dari kemauan untuk bekerja, belajar, melayani, dan memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Dari Kesederhanaan Menuju Pengabdian

Lahir di Seribau, 10 Maret 1974, Elisabeth memulai perjalanan hidupnya dengan pendidikan dan pengalaman kerja yang sederhana. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah di SMA Negeri 1 Kota Sorong pada 1991, ia mengawali karier sebagai karyawan PDAM.

Perjalanan berikutnya membawanya masuk ke lingkungan pemerintahan. Ia pernah menjadi tenaga honorer di Balai Bina Marga Jayapura sebelum diangkat menjadi CPNS pada 2006 dan PNS pada 2007.

Kariernya terus berkembang. Ia pernah menduduki sejumlah posisi strategis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tolikara, mulai dari bidang pekerjaan umum, sekretariat dinas, hingga Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman. Pada 2025, ia dipercaya memimpin BAPPERIDA Kabupaten Tolikara.

Di tengah perjalanan karier tersebut, Elisabeth tidak pernah berhenti belajar. Ia meraih gelar Sarjana Ekonomi Manajemen dan Magister Manajemen Keuangan. Bahkan, pada Agustus 2024, ia memulai pendidikan doktoral bidang manajemen di Universitas Cenderawasih.

Walaupun cita-cita menyelesaikan pendidikan doktoralnya tidak tercapai karena Tuhan lebih dahulu memanggilnya, semangat belajarnya meninggalkan pesan penting bagi generasi muda Papua: pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena usia, pekerjaan, maupun keterbatasan keadaan.

Kepemimpinan Bukan Sekadar Jabatan

Salah satu pelajaran penting dari kehidupan Elisabeth adalah tentang makna kepemimpinan.

Kepemimpinan tidak cukup diukur dari jabatan yang pernah diduduki, berapa banyak orang yang berada di bawah koordinasi, atau seberapa besar kewenangan yang dimiliki. Kepemimpinan sejati terlihat dari kemampuan menghadirkan perubahan dan memberikan manfaat bagi kehidupan orang lain.

Elisabeth menunjukkan bahwa perempuan Papua mampu mengambil peran penting dalam birokrasi dan pembangunan daerah.

Ia dikenal memiliki karakter tegas, berpendirian kuat, dan tidak mudah menyerah menghadapi tantangan. Namun, ketegasan tersebut berjalan bersama kepedulian sosial dan semangat pelayanan.

Pengabdiannya menjangkau berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, organisasi perempuan, pendidikan, gereja, hingga pemberdayaan masyarakat.

Ia pernah dipercaya menjadi Sekretaris TP-PKK Provinsi Papua, Ketua Dekranasda Kabupaten Tolikara, serta Ketua Persatuan Anggrek Indonesia Kabupaten Tolikara.

Dari berbagai peran tersebut, kita dapat melihat bahwa kepemimpinan perempuan tidak seharusnya dibatasi oleh ruang domestik atau organisasi tertentu. Perempuan memiliki kapasitas untuk ikut menentukan arah pembangunan, membangun institusi, dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Elisabeth telah memperlihatkan hal itu melalui perjalanan pengabdiannya.

Pendidikan dan Kesehatan Anak: Warisan yang Harus Dijaga

Jika ada dua bidang yang patut menjadi perhatian besar dari warisan Elisabeth, keduanya adalah pendidikan dan kesehatan anak.

Melalui Yayasan Kuben Oeyah Wonok, ia merintis lembaga pendidikan berupa SD, TK/PAUD Oeyah Wonok, serta PKBM Oeyah Wonok di Kabupaten Tolikara.

Langkah tersebut memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mendirikan sekolah. Di wilayah pegunungan Papua, akses pendidikan masih menjadi tantangan yang membutuhkan perhatian serius. Kehadiran lembaga pendidikan di tengah masyarakat merupakan bagian dari upaya membuka kesempatan bagi anak-anak untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik.

Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak selalu terlihat dalam waktu singkat, tetapi manfaatnya akan dirasakan oleh generasi berikutnya.

Perhatian Elisabeth terhadap anak-anak juga diwujudkan melalui perjuangan pencegahan stunting di wilayah pegunungan.

Upaya tersebut mendapatkan pengakuan melalui dua penghargaan nasional pada 2026, yakni Indonesia People’s Choice Awards dan The Indonesia Leadership Matrix Awards.

Penghargaan itu bukan semata-mata tentang pencapaian seorang individu. Lebih dari itu, penghargaan tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan stunting, kesehatan keluarga, dan kualitas hidup anak-anak di wilayah terpencil harus terus menjadi prioritas pembangunan.

Kita tidak boleh membiarkan perjuangan tersebut berhenti hanya karena sosok penggeraknya telah tiada.

Pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi perempuan, lembaga pendidikan, gereja, dan masyarakat perlu mengambil bagian untuk memastikan program-program yang telah dirintis dapat dilanjutkan secara berkelanjutan.

Gereja dan Pelayanan Sosial sebagai Panggilan Hidup

Bagi Elisabeth, pelayanan kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari pelayanan kepada sesama manusia.

Keterlibatannya dalam pelayanan gereja terlihat melalui perannya sebagai Ketua Panitia Peresmian Gereja Solagratia Buper Waena pada 2023 dan Ketua Panitia Pembangunan GKI Syaloom di Seribau, kampung halamannya.

Ia juga dipercaya memimpin Sidang Klasis GKI Sentani pada 2026.

Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa gereja bukan hanya tempat beribadah, tetapi juga ruang untuk membangun solidaritas, memperkuat persaudaraan, mendidik generasi muda, dan memberikan perhatian kepada masyarakat yang membutuhkan.

Nilai-nilai iman seharusnya tidak berhenti pada kata-kata dan ritual keagamaan. Iman perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, kepedulian, kejujuran, dan kesediaan melayani.

Dalam konteks kehidupan masyarakat Papua yang memiliki ikatan kuat dengan gereja dan adat, keteladanan seperti ini menjadi sangat penting.

Perempuan Papua dan Masa Depan Pembangunan

Kehidupan Elisabeth juga mengajak kita merenungkan kembali posisi perempuan dalam pembangunan Papua.

Selama ini, perempuan Papua memiliki peran besar dalam keluarga, pendidikan anak, ekonomi masyarakat, pelestarian budaya, dan kehidupan sosial. Namun, potensi tersebut masih membutuhkan ruang yang lebih luas agar perempuan dapat berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan kepemimpinan publik.

Perempuan bukan sekadar pendamping dalam pembangunan. Mereka adalah bagian penting dari penggerak pembangunan itu sendiri.

Elisabeth telah membuktikan bahwa perempuan dapat berkontribusi dalam birokrasi, perencanaan pembangunan, pendidikan, kesehatan, organisasi sosial, dan pelayanan gereja.

Karena itu, kepergiannya seharusnya tidak hanya dikenang sebagai kehilangan seorang tokoh perempuan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kesempatan dan keberpihakan terhadap perempuan Papua yang memiliki kapasitas, integritas, serta semangat pengabdian.

Kita membutuhkan lebih banyak perempuan yang diberi kesempatan untuk belajar, memimpin, berinovasi, dan mengambil bagian dalam menentukan masa depan daerahnya.

Melanjutkan Warisan, Bukan Sekadar Mengenang

Setiap orang pada akhirnya akan meninggalkan dunia ini. Namun, tidak semua orang meninggalkan warisan yang dapat terus dirasakan oleh masyarakat.

Elisabeth meninggalkan keluarga yang dicintainya, lembaga pendidikan yang telah dirintis, pelayanan gereja yang masih berjalan, serta jejak pengabdian dalam pembangunan dan peningkatan kesehatan masyarakat Tolikara.

Tentu masih ada pekerjaan yang belum selesai. Pembangunan gereja, pengembangan sekolah, peningkatan kualitas pendidikan, dan perjuangan mengatasi stunting membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Di sinilah tanggung jawab kita bersama.

Pemerintah Kabupaten Tolikara perlu menjaga kesinambungan program-program yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat. Organisasi perempuan perlu meneruskan semangat pemberdayaan. Gereja perlu terus menjadi ruang pelayanan dan solidaritas. Sementara generasi muda harus menjadikan semangat belajar dan pengabdian Elisabeth sebagai inspirasi.

Mengenang seseorang tidak cukup dengan menyampaikan kata-kata duka atau menggelar penghormatan. Penghormatan yang paling bermakna adalah melanjutkan nilai-nilai baik yang telah diwariskannya.

Selamat Jalan, Mama

Kepergian Ny. Elisabeth Yulanda Flassy Wandik mengingatkan kita bahwa kehidupan bukan semata-mata tentang berapa lama seseorang berada di dunia, melainkan tentang apa yang telah dilakukan selama hidupnya.

Dari Seribau hingga berbagai ruang pengabdian di Papua, ia telah melewati perjalanan panjang sebagai seorang perempuan, istri, ibu, aparatur sipil negara, pemimpin organisasi, dan pelayan gereja.

Kita berduka, tetapi kita juga bersyukur pernah mengenal sosok yang telah memberikan begitu banyak teladan.

Kepada Bapak Willem Wandik, anak-anak, serta seluruh keluarga besar Flassy–Wandik, kiranya Tuhan Yesus Kristus memberikan kekuatan dan penghiburan.

Sebagaimana tertulis dalam 2 Timotius 4:7:

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

Selamat jalan, Mama Elisabeth. Pengabdianmu telah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Tolikara dan Tanah Papua. Semoga benih-benih kebaikan yang telah ditabur terus tumbuh melalui generasi yang melanjutkan perjuanganmu.

Karubaga, 6 November 2026

Dr. Yosua Noak Douw
Sekretaris Daerah Kabupaten Tolikara

Sumber naskah: Daftar Riwayat Hidup almarhumah dari keluarga besar Flassy–Wandik, dan obituari “Ny Elisabet Wandik, Sosok yang Tertambat Cinta Pada Gereja dan Masyarakat Tanah Papua” (odiyaiwuu.com, 6 November 2026).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *