Dosen Teknologi Pangan FMIPA Uncen Gelar Pelatihan Mie Warna-warni Alami di Kelurahan Gurabesi

Tim dosen Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Uncen Jayapura bersama seorang mahasiswa Teknologi Pangan melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Kelurahan Gurabesi, Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua.
banner 120x600

JAYAPURA, Papuaterkini.com — Tim dosen Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, bersama seorang mahasiswa Teknologi Pangan melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Kelurahan Gurabesi, Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua.

Kegiatan ini mengangkat tema pelatihan pengolahan pewarna alami menjadi produk pangan serbaguna, yaitu mie warna-warni alami.

Kegiatan pengabdian ini mengusung judul “MEWARNAI: Mie Warna-warni dari Pewarna Alami” juga dihadiri oleh tim Mata Garuda Papua, komunitas alumni LPDP dari berbagai universitas ternama di dunia, yang diketuai oleh Sam Viktor Rumbiak. Salah satu alumninya adalah Kepala Kelurahan Gurabesi dan tim pengabdian dari Uncen dan Mata Garuda Papua

Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan pada pemanfaatan bahan pangan lokal dan bahan alami sebagai sumber warna, antara lain buah merah, buah naga, daun kelor, bunga telang, ubi ungu, dan labu kuning.

Tim dosen Prodi Teknologi Pangan, Fakultas Matematika dan IPA Uncen melatih ibu-ibu di Kelurahan Gurabesi membuat mie warna-warni yang aman.

Kepala Kelurahan Gurabesi, Maria Jochu, S.IP., M.Sc., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan menyambut baik itikad Universitas Cenderawasih dalam melakukan diseminasi ilmu pengetahuan kepada masyarakat.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting untuk terus hadir di tengah masyarakat melalui berbagai bentuk kegiatan edukatif, agar perkembangan ilmu pengetahuan dapat diketahui dan dirasakan manfaatnya secara langsung oleh warga.

Pelatihan ini dipandu oleh Baiq Amarwati Tartillah dan Jeirel Wattilete, dosen Program Studi Teknologi Pangan FMIPA Universitas Cenderawasih.

Kecerian ibu-ibu membuat mie warna-warni.

Dalam pemaparannya, Baiq menjelaskan pentingnya mengenalkan pewarna alami sebagai alternatif dalam pengolahan pangan rumah tangga. Pewarna alami tidak hanya memberi tampilan yang menarik pada makanan, tetapi juga memiliki nilai tambah karena berasal dari bahan pangan yang dikenal masyarakat dan relatif mudah ditemukan.

Secara ilmiah, warna alami pada bahan pangan berasal dari pigmen tertentu. Warna ungu pada ubi ungu dan bunga telang berkaitan dengan kandungan antosianin, warna kuning-oranye pada labu kuning berkaitan dengan karotenoid, warna hijau pada kelor berasal dari klorofil, sedangkan buah naga dan buah merah memiliki pigmen alami yang memberi warna merah hingga oranye kemerahan.

Pemanfaatan bahan-bahan ini dapat menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan pangan yang lebih menarik, terutama bagi anak-anak, tanpa bergantung sepenuhnya pada pewarna sintetis.

Penyerahan bantuan peralatan dan bahan membuat mie warna-warni.

Dalam pelatihan tersebut juga ditekankan bahwa penggunaan pewarna alami tetap harus memperhatikan kebersihan bahan, proses pengolahan yang higienis, serta penggunaan dalam jumlah yang wajar. Hal ini penting agar produk yang dihasilkan tidak hanya menarik dari segi warna, tetapi juga aman dikonsumsi dan sesuai untuk dikembangkan pada skala rumah tangga.

Tahapan pembuatan mie warna-warni diawali dengan menyiapkan dan menimbang bahan utama berupa tepung, garam, air panas, serta bahan pewarna alami. Bahan pewarna disiapkan dalam bentuk puree, ekstrak, bubuk, atau minyak sesuai jenis bahan yang digunakan. Ubi ungu, labu kuning, dan buah naga diolah menjadi puree; bunga telang digunakan dalam bentuk ekstrak; daun kelor dapat digunakan dalam bentuk bubuk atau bahan halus; sedangkan buah merah digunakan dalam bentuk minyak atau sari buah merah.

Sosialisasi pembuatan mie warna-warni.

Setelah bahan siap, tepung dicampur dengan garam dan pewarna alami sesuai varian warna yang diinginkan. Air panas ditambahkan sedikit demi sedikit sambil adonan diuleni hingga dapat dipulung dan tidak terlalu lembek. Adonan kemudian dipipihkan dan dicetak menggunakan alat pembuat mie. Mie yang sudah dicetak selanjutnya dikukus selama beberapa menit agar teksturnya lebih stabil, kemudian didinginkan sebelum digunakan, dikemas, atau diolah lebih lanjut.

Pada kegiatan ini, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai komposisi sederhana pembuatan mie warna-warni alami skala rumah tangga. Formula dasar yang digunakan adalah 100 gram tepung, 2 gram garam, 50–60 ml air panas, serta pewarna alami sesuai jenis bahan. Untuk pewarna berbentuk puree seperti ubi ungu, labu kuning, dan buah naga digunakan sekitar 20 gram. Untuk minyak buah merah digunakan sekitar 5 gram, sedangkan kelor bubuk digunakan sekitar 5 gram. Ekstrak bunga telang digunakan sebagai bagian dari cairan dalam adonan.

Mie warna-warni yang dikembangkan Faktultas Matiematika dan IPA Uncen bersama mahasiswa teknologi pangan.

Selain praktik pembuatan mie, kegiatan ini juga diisi dengan pemberian resep pembuatan mie warna-warni kepada peserta. Resep tersebut diharapkan dapat menjadi panduan sederhana bagi masyarakat untuk mencoba kembali proses pembuatan mie di rumah.

Sebagai bentuk dukungan keberlanjutan kegiatan, tim pengabdian juga melakukan penyerahan simbolis alat pembuat mie kepada PKK Kelurahan Gurabesi. Penyerahan ini diharapkan dapat membantu masyarakat, khususnya kelompok PKK, dalam melanjutkan praktik pengolahan mie warna-warni alami sebagai produk pangan rumah tangga yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi usaha kecil.

Melalui kegiatan MEWARNAI, tim pengabdi berharap masyarakat Kelurahan Gurabesi dapat memperoleh pengetahuan baru mengenai pemanfaatan pewarna alami, pengolahan mie sederhana, serta peluang pengembangan produk pangan lokal yang kreatif, sehat, dan bernilai ekonomi. (bat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *