JAYAPURA, Papuaterkini.com – Tiga tokoh berpengaruh di Papua, Benhur Tomi Mano (BTM), Yermias Bisai, dan Constant Karma, menyatakan sikap politik mereka untuk menjadi penyeimbang bagi pemerintahan baru Provinsi Papua periode 2025–2030.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan langsung oleh Benhur Tomi Mano di kediamannya di Kota Jayapura, Jumat (17/10/2025), di hadapan para relawan, simpatisan, dan tokoh Koalisi Perjuangan Rakyat.
“Kita semua tim relawan, simpatisan, kita akan menjadi penyeimbang,” tegas BTM disambut sorakan dukungan dari para pendukungnya.
Dalam kesempatan itu, mantan Wali Kota Jayapura dua periode tersebut menegaskan bahwa dirinya tidak memberikan dukungan kepada pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Papua terpilih, Mathius Fakhiri dan Aryoko Rumaropen.
Menurut BTM, kepemimpinan Fakhiri–Rumaropen bukan hasil pilihan murni rakyat Papua, melainkan hasil intervensi politik dari pusat.
“Saya tidak memberi dukungan kepada pemerintahan baru Papua, karena mereka bukan pilihan rakyat Papua, melainkan pilihan pemerintah pusat,” ujarnya tegas.
BTM juga menyoroti dinamika panjang yang terjadi selama proses Pilkada Papua 2024 hingga pelaksanaan Pemungutan Suara Ulang (PSU). Ia menilai, proses tersebut mencerminkan ketimpangan sistem dan lemahnya keadilan demokrasi di Papua.
“Dua kali kemenangan yang diraih kubu kami justru dialihkan lewat putusan Mahkamah Konstitusi,” ungkapnya.
Sikap senada disampaikan Constant Karma, yang menilai berbagai kejanggalan dalam proses politik tersebut sudah diketahui luas oleh masyarakat Papua.
“BTM adalah pilihan rakyat. Bahkan partai besar di Jakarta tahu itu. Para jenderal di pusat pun mengakui BTM sebagai pemenang, karena mereka punya sistem untuk melihat kondisi di bawah,” kata Constant.
Dalam arahannya, BTM juga memberikan pesan khusus kepada masyarakat adat Tabi dan Saireri agar tidak mengejar kekuasaan dalam pemerintahan baru yang sedang berjalan.
“Tabi dan Saireri jangan jadi pengemis jabatan di atas tanahmu sendiri,” serunya.
Meski menegaskan posisi politiknya sebagai penyeimbang, BTM mengimbau para pendukungnya untuk tetap menjaga kedamaian dan tidak terpancing provokasi terhadap kebijakan pemerintah yang mungkin tidak berpihak kepada rakyat.
“Kalau ada kebijakan yang tidak pro-rakyat, jangan demo, jangan buat pernyataan yang menyakitkan hati masyarakat Papua,” ujarnya.
Ia menutup dengan pesan moral untuk terus berkontribusi bagi Papua melalui cara yang bermartabat dan konstruktif.“Kita tetap bekerja jujur, mengedepankan kritik yang membangun demi Papua,” tandasnya. (*/bat)















